Rupiah Jebol 18.000, Mendag Budi Beberkan Peluang yang Muncul
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Mendag Budi Santoso Lihat Peluang Ekspor Makin Besar
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menilai pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) tidak sepenuhnya membawa dampak negatif bagi perekonomian nasional. Di tengah tekanan terhadap mata uang domestik tersebut, pemerintah justru melihat adanya peluang untuk mendorong kinerja ekspor Indonesia agar semakin kompetitif di pasar global.
Diketahui, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi. Kondisi ini menjadi sorotan pasar karena merupakan salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Budi, pelemahan rupiah membuat harga produk Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi pembeli luar negeri sehingga dapat meningkatkan daya saing ekspor nasional. Hal tersebut tercermin dari masih kuatnya kinerja perdagangan Indonesia sepanjang awal tahun 2026.
“Kalau sekarang ini sebenarnya kesempatan ekspor kita makin bagus, kita surplus. Ekspor kita naik 5,48 persen dibandingkan tahun lalu,” kata Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai US$25,30 miliar. Angka tersebut melonjak 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai sekitar US$20,74 miliar.
Sementara itu, secara kumulatif selama Januari-April 2026, total nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar US$92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kita tetap naik 5,48 persen Januari-April. Artinya sebenarnya kondisi kita masih bagus dengan kondisi sekarang,” ujar Budi.
Surplus Neraca Perdagangan Masih Terjaga
Kinerja ekspor yang tetap tumbuh memberikan kontribusi terhadap terjaganya surplus neraca perdagangan Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, surplus perdagangan menjadi salah satu penopang stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO), produk turunan nikel, besi dan baja, serta berbagai produk manufaktur masih menjadi kontributor utama penerimaan devisa Indonesia.
Selain itu, permintaan dari sejumlah mitra dagang utama seperti China, India, Amerika Serikat, dan negara-negara ASEAN dinilai masih cukup kuat meskipun ekonomi global menghadapi perlambatan pertumbuhan.
Sejumlah ekonom juga menilai pelemahan rupiah berpotensi memberikan keuntungan tambahan bagi eksportir yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS, terutama perusahaan yang memiliki tingkat kandungan impor relatif rendah.
Pemerintah Waspadai Kenaikan Harga Barang Impor
Meski melihat peluang dari sisi ekspor, Budi mengakui pemerintah tetap harus mengantisipasi dampak negatif pelemahan rupiah terhadap barang-barang impor.
Melemahnya mata uang domestik membuat biaya impor menjadi lebih mahal, terutama untuk bahan baku industri, barang modal, serta sejumlah komoditas pangan yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Menurut Budi, berdasarkan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga kedelai impor hingga saat ini masih relatif stabil. Namun demikian, pemerintah mencatat terdapat beberapa komoditas impor yang mulai mengalami kenaikan harga seiring menguatnya dolar AS.
“Ya, karena memang kondisinya lagi begini ya,” ungkapnya.
Kenaikan biaya impor dikhawatirkan dapat meningkatkan biaya produksi industri dalam negeri, terutama sektor makanan dan minuman, peternakan, farmasi, hingga manufaktur yang masih menggunakan bahan baku dari luar negeri.
Kementerian Perdagangan Pantau Pasokan Bahan Baku
Untuk meminimalkan dampak pelemahan rupiah, Kementerian Perdagangan terus memantau kelancaran distribusi dan ketersediaan bahan baku impor yang dibutuhkan pelaku industri.
Pemerintah juga menjalin komunikasi intensif dengan para produsen agar aktivitas produksi tidak terganggu akibat lonjakan biaya impor maupun keterbatasan pasokan.
“Pertama dari distribusi, kemudian dari importasi bahan baku itu kita monitor. Kita terus komunikasi dengan para produsen, jangan sampai terganggu, jangan sampai stok enggak ada,” ujar Budi.
Menurutnya, menjaga kelancaran pasokan bahan baku menjadi salah satu langkah penting untuk menghindari tekanan harga yang lebih besar di tingkat konsumen.
Stok Pangan Nasional Diklaim Aman
Di tengah gejolak nilai tukar, Budi memastikan stok bahan pokok nasional masih berada dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Bahkan, beberapa komoditas pangan disebut mengalami surplus produksi sehingga pasokan di pasar tetap terjaga.
“Stok bahan pokok normal. Bahkan tadi telur saja surplus,” kata Budi.
Ia menjelaskan bahwa meskipun biaya pakan ternak berpotensi meningkat akibat pelemahan rupiah, produksi telur nasional masih mampu memenuhi kebutuhan domestik. Kondisi tersebut membuat harga telur di sejumlah daerah bahkan berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).
Karena itu, pemerintah saat ini lebih fokus pada upaya penyerapan hasil produksi agar keseimbangan antara pasokan dan permintaan tetap terjaga.
“Itu bahan pakannya juga pasti naik, tapi tetap surplus. Bahkan harganya malah di bawah HET sehingga harus ada penyerapan yang bagus. Jadi sebenarnya relatif bagus, tinggal bagaimana mengatur antara suplai dengan permintaan,” jelasnya.
Rupiah Sentuh Level Psikologis Rp18.000
Sementara itu, tekanan terhadap rupiah masih berlanjut pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Berdasarkan data pasar, dolar AS sempat diperdagangkan di kisaran Rp18.010 sebelum bergerak di sekitar Rp18.001 per dolar AS.
Posisi tersebut menunjukkan penguatan dolar AS sekitar 0,76 persen terhadap rupiah.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup melemah 127,5 poin atau sekitar 0,71 persen ke level Rp17.966 per dolar AS.
Sejumlah analis menilai pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh sentimen global, termasuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve), arus modal asing, kondisi geopolitik internasional, hingga prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
Analis pasar uang memperkirakan dolar AS bergerak pada rentang Rp17.960 hingga Rp18.030 dalam perdagangan hari ini.
Meski demikian, pemerintah optimistis fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan eksternal. Selain ditopang surplus perdagangan, Indonesia juga masih memiliki cadangan devisa yang relatif memadai serta pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap positif.
Ke depan, pemerintah akan terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah sekaligus memastikan stabilitas harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok tetap terjaga di tengah dinamika pasar keuangan global.
0 Comments