Emas Antam Melemah Rp 15.000, Simak Daftar Harga Terbaru
Harga emas yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mengalami penurunan pada Kamis, 4 Juni 2026. Setelah sempat bergerak fluktuatif dalam beberapa hari terakhir, harga emas Antam hari ini turun cukup dalam sebesar Rp 15.000 per gram, mencerminkan tekanan dari pasar global dan penguatan dolar AS.
Mengutip laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam kini dibanderol Rp 2.759.000 per gram, turun dari posisi sebelumnya di Rp 2.774.000 per gram. Penurunan ini melanjutkan tren koreksi setelah sebelumnya harga emas sempat bergerak mendekati level psikologis tertentu dalam beberapa pekan terakhir.
Tidak hanya harga jual, harga buyback atau harga yang diterima jika konsumen menjual kembali emasnya ke Antam juga ikut turun. Hari ini, harga buyback berada di level Rp 2.571.000 per gram, atau turun Rp 13.000 dibandingkan hari sebelumnya. Perbedaan antara harga jual dan buyback ini menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan investor emas ritel, terutama untuk strategi jangka pendek.
Sebagai catatan, harga emas Antam sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 29 Januari 2026, yakni di level Rp 3.168.000 per gram, dengan harga buyback mencapai Rp 2.989.000 per gram. Jika dibandingkan dengan posisi saat ini, harga emas telah terkoreksi cukup signifikan, mencerminkan perubahan sentimen global dan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Informasi harga emas Antam ini bersumber langsung dari situs resmi Logam Mulia milik PT Aneka Tambang Tbk, sehingga data yang disajikan memiliki tingkat akurasi yang tinggi dan menjadi acuan utama bagi pelaku pasar domestik.
Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (4 Juni 2026):
- 0,5 gram: Rp 1.429.500
- 1 gram: Rp 2.759.000
- 2 gram: Rp 5.468.000
- 3 gram: Rp 8.184.000
- 5 gram: Rp 13.610.000
- 10 gram: Rp 27.140.000
- 25 gram: Rp 67.685.000
- 50 gram: Rp 135.205.000
- 100 gram: Rp 270.260.000
- 250 gram: Rp 675.340.000
- 500 gram: Rp 1.350.400.000
- 1.000 gram: Rp 2.699.600.000
Di pasar global, harga emas juga mengalami tekanan pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Mengutip CNBC, harga emas spot turun hampir 1% ke level US$ 4.440,27 per ounce, sementara kontrak berjangka emas AS melemah 1,1% menjadi US$ 4.468,60 per ounce. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan dalam menentukan arah harga emas, termasuk di pasar domestik.
Salah satu faktor utama yang membebani harga emas adalah meningkatnya ekspektasi inflasi yang dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Iran dan negara-negara di kawasan Teluk. Serangan yang terjadi di Kuwait serta aksi militer di sekitar Selat Hormuz meningkatkan risiko terhadap pasokan energi global.
Direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, David Meger, mengatakan bahwa dinamika harga emas saat ini sangat dipengaruhi oleh eskalasi konflik tersebut. Menurutnya, kenaikan harga energi akibat konflik berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi, yang pada akhirnya membuat bank sentral mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.
Kondisi suku bunga tinggi menjadi tantangan bagi emas, karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya. Akibatnya, ketika suku bunga naik, investor cenderung beralih ke aset yang memberikan yield lebih menarik.
Selain itu, penguatan indeks dolar AS juga turut menekan harga emas. Dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan global cenderung melemah.
Dari sisi kebijakan moneter, pejabat Federal Reserve masih menunjukkan sikap hati-hati. Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menyatakan belum melihat urgensi untuk mengubah kebijakan suku bunga dalam waktu dekat. Namun, pandangan berbeda datang dari Presiden Cleveland Fed, Beth Hammack, yang membuka kemungkinan kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi terus meningkat.
Pelaku pasar kini juga menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan non-farm payrolls (NFP) untuk bulan Mei. Data ini menjadi indikator penting dalam menentukan arah kebijakan The Fed ke depan. Sebelumnya, laporan ADP menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja sektor swasta meningkat lebih tinggi dari perkiraan, yang mengindikasikan ekonomi AS masih cukup kuat.
Di dalam negeri, pergerakan harga emas Antam biasanya mengikuti tren global, namun juga dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Jika rupiah melemah, harga emas domestik berpotensi tertahan atau bahkan naik meski harga global turun, begitu pula sebaliknya.
Bagi investor, kondisi saat ini menunjukkan bahwa emas masih berada dalam fase konsolidasi setelah reli panjang di awal tahun. Emas tetap menjadi instrumen lindung nilai (safe haven) dalam jangka panjang, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Namun, dalam jangka pendek, volatilitas masih tinggi sehingga diperlukan strategi yang lebih cermat dalam menentukan waktu beli maupun jual.
0 Comments