Rupiah Melemah Jadi Rp16.884 per Dolar AS — Ini Penyebabnya

Rupiah Melemah Jadi Rp16.884 per Dolar AS — Ini Penyebabnya

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mencatat nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan ditutup melemah pada level Rp16.884 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu sore, 18 Februari 2026. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap berbagai risiko global, terutama ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 47 poin. Sebelumnya rupiah bahkan sempat melemah hingga 60 poin ke level Rp16.884 dari penutupan sebelumnya di Rp16.837 per dolar AS,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (18/2/2026).

Menurutnya, faktor utama yang menekan pergerakan rupiah berasal dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Ketegangan antara Iran dan AS kembali menjadi sorotan pasar setelah kedua negara menyepakati sejumlah “prinsip panduan” dalam pembicaraan awal untuk menyelesaikan sengketa nuklir yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Meski demikian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa kesepahaman tersebut belum dapat diartikan sebagai kesepakatan final dan proses negosiasi masih berpotensi berjalan panjang.

Ibrahim menilai, pasar global masih bersikap skeptis terhadap kelanjutan dialog tersebut. Ketidakpastian ini berdampak langsung pada sentimen risk-off, di mana investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Pembicaraan antara Iran dan AS dipantau sangat ketat oleh pasar energi global. Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia dan posisinya sangat strategis karena berada di sekitar Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global setiap harinya,” jelasnya.

Risiko geopolitik semakin meningkat setelah muncul laporan bahwa Garda Revolusi Iran menggelar latihan militer skala besar di Selat Hormuz pada awal pekan ini. Di sisi lain, kehadiran militer AS yang masih signifikan di berbagai titik strategis di Timur Tengah turut meningkatkan kekhawatiran pasar akan potensi eskalasi konflik terbuka, yang dapat mengganggu stabilitas pasokan energi global.

Tak hanya dari Timur Tengah, sentimen global juga dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Eropa Timur. Para negosiator dari Ukraina dan Rusia dilaporkan telah menyelesaikan hari pertama pembicaraan perdamaian yang dimediasi AS di Jenewa. Dalam perkembangan tersebut, Presiden AS Donald Trump mendorong Kyiv agar segera mengambil langkah konkret menuju kesepakatan damai guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir empat tahun.

Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Investor global bersikap wait and see menjelang rilis risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve bulan Januari, yang dinilai krusial untuk membaca arah kebijakan suku bunga ke depan. Risalah tersebut diharapkan memberikan petunjuk mengenai waktu dan besaran potensi pelonggaran moneter, terutama di tengah inflasi AS yang masih menunjukkan ketahanan.

“Investor juga menanti rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS untuk bulan Desember yang akan diumumkan pada Jumat. Data ini merupakan indikator inflasi favorit The Fed dan sangat berpengaruh dalam membentuk ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga acuan,” tambah Ibrahim.

Ke depan, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan cenderung volatil. Selama ketidakpastian geopolitik global dan sikap hawkish The Fed masih membayangi pasar, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum sepenuhnya mereda. Namun demikian, stabilitas fundamental domestik, kinerja ekspor komoditas, serta langkah intervensi Bank Indonesia dinilai tetap menjadi penopang utama agar pelemahan rupiah tidak berlangsung terlalu dalam.