Rupiah Melemah terhadap Dolar AS di Tengah Lonjakan Harga Minyak
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor beralih ke aset safe haven, termasuk dolar AS.
Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Jumat pagi turun 43 poin atau 0,24% menjadi Rp17.979 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.936 per dolar AS.
Analis menilai kenaikan tajam harga minyak mentah menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Harga minyak Brent bahkan sempat melampaui US$100 per barel pada perdagangan Kamis (23/7/2026), sebelum bergerak di kisaran US$95-100 per barel seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global.
Kenaikan harga minyak dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah setelah terjadi serangan terhadap kapal tanker di kawasan Laut Merah dan meningkatnya ancaman terhadap jalur pelayaran strategis. Kondisi tersebut memicu lonjakan premi risiko di pasar energi sekaligus meningkatkan permintaan terhadap aset yang dinilai lebih aman seperti dolar AS.
“Harga minyak mentah Brent juga sempat menembus US$95 per barel sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” kata ekonom yang dikutip Antara.
Bagi Indonesia yang masih menjadi negara net importir minyak, lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan nilai impor energi dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Kondisi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap risiko twin deficit, yakni defisit fiskal dan defisit neraca transaksi berjalan yang terjadi secara bersamaan.
Apabila harga minyak bertahan tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga dapat meningkat melalui kenaikan beban subsidi maupun kompensasi energi. Situasi tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Selain itu, kenaikan harga energi juga berisiko mendorong inflasi, sehingga ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia menjadi lebih terbatas. Di sisi lain, dolar AS tetap memperoleh dukungan dari tingginya permintaan investor terhadap aset safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Jalur Pelayaran Energi Jadi Sorotan
Lonjakan harga minyak terjadi setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat akibat serangan di dekat Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Gangguan di kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa kapal-kapal tanker minyak harus mengalihkan rute melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Perubahan jalur pelayaran ini dapat memperpanjang waktu distribusi, meningkatkan biaya logistik, serta mengganggu rantai pasok energi global.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
“Ada peningkatan ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak yang memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global sehingga mendorong permintaan terhadap dolar AS,” ujar Josua.
Untuk perdagangan hari ini, Josua memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.025 per dolar AS seiring masih kuatnya permintaan terhadap dolar AS.
Sentimen Global Masih Membayangi Rupiah
Mengutip Anadolu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan Washington akan meminta pertanggungjawaban Teheran apabila kelompok Houthi Yaman kembali menyerang kapal-kapal komersial di kawasan tersebut.
Pernyataan Trump disampaikan setelah kelompok Houthi mengklaim telah melancarkan operasi militer terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi pada Kamis (23/7/2026). Serangan itu disebut menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio meminta kelompok Houthi untuk tidak memperluas konflik dan menilai kelompok tersebut telah terseret dalam perang yang dipengaruhi Iran.
Ketegangan meningkat setelah militer Iran memperingatkan bahwa mereka dapat menargetkan fasilitas energi di kawasan apabila serangan AS terhadap infrastruktur Iran terus berlangsung.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga mengklaim telah melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Kuwait dan Yordania. Selain itu, sebuah kapal tanker minyak dilaporkan terkena ledakan ranjau di Selat Hormuz sehingga memicu dua kapal lain mengubah jalur pelayaran.
Perkembangan tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak terpenting di dunia yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global. Gangguan terhadap distribusi energi melalui selat tersebut dikhawatirkan dapat mendorong harga minyak bertahan di level tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Para pelaku pasar kini juga menantikan respons pemerintah negara-negara produsen minyak serta langkah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) dalam menjaga stabilitas pasokan global. Selama ketegangan geopolitik belum mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi dan berpotensi terus memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
0 Comments