Rupiah Menguat Saat Dibuka, Dolar AS Melemah – 3 Januari 2026

Rupiah Menguat Saat Dibuka, Dolar AS Melemah – 3 Januari 2026

Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada awal perdagangan Selasa (3/2/2026). Mata uang Garuda tercatat naik 36 poin atau sekitar 0,21 persen ke level Rp16.762 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp16.798 per dolar AS. Penguatan ini mencerminkan upaya rupiah untuk bangkit setelah mengalami tekanan pada perdagangan sebelumnya.

Kinerja Rupiah pada Perdagangan Sebelumnya

Pada penutupan perdagangan Senin (2/2/2026), rupiah tercatat melemah di pasar spot Jakarta. Nilai tukar rupiah turun 12 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp16.798 per dolar AS, dari level Rp16.786 per dolar AS pada penutupan sebelumnya. Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, khususnya yang berasal dari Amerika Serikat.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir masih sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Salah satu faktor utama adalah perkembangan terbaru terkait kepemimpinan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).

Sentimen Global dari Amerika Serikat

Pasar keuangan global tengah mencermati keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menominasikan mantan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, sebagai calon Ketua The Fed untuk menggantikan Jerome Powell. Masa jabatan Jerome Powell sendiri dijadwalkan berakhir pada Mei 2026.

“Trump menominasikan mantan Gubernur Fed Kevin Warsh sebagai pilihannya untuk menggantikan ketua petahana Jerome Powell di pucuk pimpinan bank sentral,” ujar Ibrahim, dikutip dari Antara, Senin (2/2/2026).

Pengumuman tersebut langsung menarik perhatian pelaku pasar global, termasuk investor di pasar valuta asing. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan mendorong investor bersikap lebih berhati-hati, terutama terhadap aset berisiko di negara berkembang seperti Indonesia.

Dampak terhadap Mata Uang Negara Berkembang

Perubahan kepemimpinan The Fed dinilai krusial karena bank sentral AS memiliki pengaruh besar terhadap arus modal global. Ketika pasar memperkirakan kebijakan moneter AS akan berubah secara signifikan, volatilitas di pasar keuangan cenderung meningkat. Dalam kondisi tersebut, mata uang negara berkembang kerap mengalami tekanan akibat potensi keluarnya aliran dana asing (capital outflow).

Rupiah pun tidak luput dari dampak tersebut, meskipun pada pembukaan perdagangan hari ini terlihat adanya penguatan terbatas seiring upaya pasar menyeimbangkan kembali sentimen.

Arah Kebijakan Kevin Warsh

Kevin Warsh dikenal sebagai figur yang pada masa lalu mendukung kebijakan pengendalian inflasi yang relatif ketat. Namun, dalam beberapa pernyataan terakhir, Warsh disebut-sebut sejalan dengan pandangan Donald Trump yang mendorong penurunan suku bunga secara lebih agresif untuk menopang pertumbuhan ekonomi AS.

Saat ini, suku bunga acuan AS berada di kisaran 3,5–3,75 persen. Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat seharusnya memiliki tingkat suku bunga terendah di dunia, bahkan mendorong agar suku bunga diturunkan hingga mendekati 1 persen. Pernyataan ini memicu spekulasi pasar mengenai potensi perubahan besar arah kebijakan moneter AS apabila Warsh resmi memimpin The Fed.

Tidak Sepenuhnya Longgar

Meski demikian, Ibrahim menilai kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Kevin Warsh belum tentu akan sepenuhnya longgar.

“Warsh memang sebagian besar dianggap setuju dengan seruan Trump untuk menurunkan suku bunga secara tajam. Namun, ia juga dikenal kritis terhadap program pembelian aset atau quantitative easing yang dilakukan The Fed. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter jangka panjang di bawah Warsh mungkin tidak selunak yang diantisipasi pasar,” jelasnya.

Pandangan tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengambil posisi wait and see, sambil menunggu kejelasan arah kebijakan The Fed ke depan.

Indikator Pasar dan Peran Bank Indonesia

Tekanan terhadap rupiah juga tercermin pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada hari yang sama, JISDOR tercatat berada di level Rp16.800 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.796 per dolar AS.

Di dalam negeri, pelaku pasar juga terus mencermati langkah Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar. BI selama ini menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar valas, pengelolaan likuiditas, serta kebijakan moneter yang terukur.

Prospek Jangka Pendek

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Faktor eksternal seperti kebijakan moneter AS, data ekonomi Amerika, serta sikap investor global terhadap aset berisiko akan menjadi penentu utama. Sementara dari dalam negeri, stabilitas inflasi, neraca perdagangan, dan konsistensi kebijakan Bank Indonesia diharapkan dapat menjadi penopang rupiah dalam jangka pendek.

Pelaku pasar diperkirakan akan tetap berhati-hati sembari menunggu kepastian lebih lanjut terkait arah kebijakan The Fed dan dinamika ekonomi global secara keseluruhan.