Rupiah Menguat terhadap Dolar AS pada 15 Januari 2025, Berpotensi ke Level 16.825
Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.851 per Dolar AS, BI Tetap Siaga Jaga Stabilitas
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Kamis, 15 Januari 2026. Rupiah tercatat menguat 14 poin atau sekitar 0,08 persen ke level Rp16.851 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.865 per dolar AS. Penguatan ini mencerminkan respons pasar terhadap langkah dan komunikasi Bank Indonesia (BI) yang menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Meski menguat terbatas, pergerakan rupiah tetap dibayangi sikap hati-hati pelaku pasar. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebut investor masih mencermati dinamika global dan kebijakan bank sentral, khususnya pernyataan Bank Indonesia yang menegaskan kehadirannya di pasar valuta asing.
“Investor tetap berhati-hati, di tengah pernyataan Bank Indonesia bahwa mereka akan tetap berada di pasar untuk menstabilkan rupiah,” ujar Josua, dikutip dari Antara.
Senada dengan itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menegaskan bahwa bank sentral secara konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut BI, stabilitas rupiah masih terjaga berkat kebijakan stabilisasi yang dilakukan secara berkesinambungan. Langkah-langkah tersebut mencakup intervensi melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar off-shore, baik di kawasan Asia, Eropa, maupun Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain intervensi aktif bank sentral, stabilitas rupiah juga ditopang oleh derasnya aliran masuk modal asing. Sepanjang Januari 2026, arus modal asing tercatat masuk secara neto sebesar Rp11,11 triliun, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham domestik. Aliran dana ini mencerminkan minat investor global terhadap aset keuangan Indonesia yang dinilai masih menarik di tengah volatilitas pasar global.
Persepsi positif investor global terhadap Indonesia juga tercermin dari rendahnya premi risiko Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun, yang berada di kisaran 72 basis poin (bps). Level ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap kemampuan Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan tetap kuat.
Ketahanan Eksternal Masih Solid
Dari sisi fundamental, ketahanan eksternal Indonesia dinilai tetap terjaga. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 tercatat sebesar 156,5 miliar dolar AS. Jumlah ini setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional. Cadangan devisa tersebut menjadi bantalan penting dalam menghadapi potensi gejolak pasar keuangan global.
Seiring dengan kondisi tersebut, Bank Indonesia menegaskan akan terus berada di pasar guna memastikan pergerakan nilai tukar rupiah tetap sejalan dengan nilai fundamentalnya dan mekanisme pasar yang sehat.
Pengaruh Data Ekonomi AS
Dari sisi global, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang relatif solid. Penjualan ritel AS pada November 2025 meningkat sebesar 0,6 persen secara bulanan (month to month/mom), berbalik dari kontraksi 0,1 persen pada bulan sebelumnya dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 0,5 persen. Kenaikan ini terutama didorong oleh kuatnya penjualan sektor otomotif.
Selain itu, penjualan rumah bekas di AS pada Desember 2025 juga meningkat menjadi 4,35 juta unit, naik dari 4,14 juta unit pada bulan sebelumnya dan berada di atas perkiraan pasar sebesar 4,22 juta unit. Menurut Josua Pardede, data-data tersebut menunjukkan bahwa permintaan konsumen di AS masih cukup tangguh, meskipun suku bunga tinggi masih menjadi faktor penekan.
Di sisi lain, Indeks Harga Produsen (IHP) AS tercatat melambat menjadi 2,8 persen secara tahunan (year on year/yoy), turun dari 3,0 persen yoy. Namun, angka ini masih berada di atas proyeksi konsensus sebesar 2,6 persen yoy, sehingga tetap membuka ruang bagi The Federal Reserve untuk mempertahankan sikap kebijakan moneter yang ketat lebih lama.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Josua memperkirakan rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak dalam kisaran Rp16.825 hingga Rp16.925 per dolar AS.
BI Jelaskan Pelemahan Rupiah Awal 2026
Sebelumnya, Bank Indonesia juga memberikan penjelasan terkait pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal 2026. Erwin G. Hutapea mengungkapkan bahwa pergerakan mata uang global, termasuk rupiah, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan internasional.
Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed di tengah meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik pada awal tahun.
Kondisi ini mendorong rupiah melemah dan ditutup di level Rp16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sekitar 1,04 persen secara year-to-date. Meski demikian, BI menilai pelemahan tersebut masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional lainnya yang juga tertekan oleh sentimen global, seperti won Korea Selatan yang melemah 2,46 persen dan peso Filipina sebesar 1,04 persen.
Bank Indonesia menegaskan akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memperkuat kepercayaan pasar, serta memastikan stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga di tengah tantangan global yang masih berlanjut.
0 Comments