Stellar (XLM) Catat Lonjakan Besar, XRP Turun 16% di Tengah Perbedaan Sentimen Pasar Kripto

Stellar (XLM) Catat Lonjakan Besar, XRP Turun 16% di Tengah Perbedaan Sentimen Pasar Kripto

Stellar Melonjak, XRP Melemah: Apa yang Memicu Perbedaan Pergerakan Ini?

Pergerakan Stellar (XLM) dan XRP yang selama ini dikenal sering bergerak searah kini mulai menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Sejak akhir Mei 2026, Stellar mencatat tren kenaikan yang kuat, sementara XRP justru terus mengalami tekanan penurunan. Perbedaan ini dipicu oleh perkembangan terbaru di sektor tokenisasi aset serta kondisi teknikal yang berbeda pada masing-masing blockchain.

Salah satu faktor utama di balik kenaikan Stellar adalah pengumuman dari Depository Trust & Clearing Corporation (DTCC), lembaga infrastruktur pasar keuangan Amerika Serikat. DTCC mengungkapkan rencana untuk melakukan tokenisasi berbagai aset seperti saham, ETF, dan obligasi pemerintah AS di jaringan Stellar pada paruh pertama 2027.

Dalam industri kripto, tokenisasi aset merupakan proses mengubah aset tradisional seperti saham, obligasi, atau instrumen keuangan lainnya menjadi representasi digital di blockchain. Langkah DTCC ini dianggap sebagai sinyal positif besar bagi Stellar karena menunjukkan tingkat kepercayaan institusi terhadap teknologi jaringan tersebut.

Data dari platform RWA.xyz menunjukkan Stellar kini mulai unggul di sektor Real World Assets (RWA) atau aset dunia nyata yang ditokenisasi. Meskipun XRP Ledger (XRPL) memiliki lebih banyak proyek, yaitu 302 proyek dibandingkan Stellar yang hanya memiliki 68 proyek, nilai aset yang tersimpan di jaringan Stellar justru jauh lebih besar.

Saat ini total nilai aset di blockchain Stellar mencapai US$2,83 miliar, naik sekitar 21,62 persen dalam 30 hari terakhir. Sebaliknya, nilai aset di XRPL turun menjadi US$360,32 juta, atau terkoreksi sekitar 10,83 persen pada periode yang sama.

Volume transfer aset RWA selama 30 hari terakhir juga menunjukkan dominasi Stellar. Jaringan Stellar mencatat lonjakan volume transfer hingga 142,34 persen menjadi US$661,84 juta, sementara XRPL hanya mencatat volume sekitar US$44,93 juta.

Dari sisi jumlah pengguna, Stellar juga semakin unggul. Jumlah pemegang aset RWA di jaringan Stellar naik 44,75 persen menjadi 17.803 wallet address, sedangkan XRPL tercatat hanya memiliki sekitar 122 alamat wallet.

Perbedaan performa ini ikut tercermin pada harga aset kripto masing-masing. Sejak akhir Mei 2026, token XLM milik Stellar melonjak sekitar 49,44 persen, sementara XRP justru turun 15,78 persen dalam periode yang sama.

Meski begitu, XRP masih mempertahankan keunggulan di sektor stablecoin. Volume stablecoin di jaringan XRPL tercatat mencapai US$922,42 juta, lebih besar dibanding Stellar yang berada di US$296,24 juta. Dalam 30 hari terakhir, volume transfer stablecoin di XRPL juga lebih tinggi, yaitu US$5,11 miliar, sedangkan Stellar mencatat US$4,27 miliar.

Dari sisi analisis teknikal, grafik harian menunjukkan XLM mengalami kenaikan signifikan sejak akhir Mei dan sempat menyentuh level US$0,29. Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di angka 57,64, menandakan harga sedang memasuki fase konsolidasi setelah reli yang cukup tajam.

Sebaliknya, XRP masih menunjukkan tekanan jual yang cukup kuat. Pada awal Juni, harga XRP turun di bawah garis tengah Bollinger Band, yang menjadi sinyal bahwa seller masih mendominasi pasar. Saat ini XRP diperdagangkan di kisaran US$1,13.

Indikator RSI XRP berada di level 39,34, menunjukkan tekanan beli masih lemah meskipun harga mulai mendekati area oversold atau kondisi jenuh jual.

Jika XRP mampu bertahan di atas level psikologis US$1,10, maka ada peluang terjadi rebound dalam jangka pendek. Namun jika tekanan jual terus berlanjut dan aliran modal semakin berpindah ke ekosistem Stellar, XRP berpotensi turun menguji support di level US$1,05 bahkan kembali mendekati US$1,00.