Suku Bunga Acuan Naik, PIK 2 Tetap Bidik Marketing Sales Rp4,3 Triliun
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) memastikan belum memiliki rencana untuk merevisi target marketing sales tahun 2026 meskipun Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen. Perseroan menilai target yang telah ditetapkan sejak awal tahun masih realistis untuk dicapai di tengah dinamika ekonomi dan pasar properti yang terus berkembang.
Corporate Secretary PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk, Christy Grassela, mengatakan bahwa kenaikan BI Rate memang menjadi salah satu faktor eksternal yang terus dipantau oleh manajemen. Kendati demikian, hingga saat ini perseroan belum melihat adanya kebutuhan untuk menyesuaikan target penjualan pemasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
“Menanggapi perkembangan BI Rate yang saat ini cenderung meningkat, jika dikaitkan dengan target marketing sales yang kami tetapkan pada awal tahun 2026, kami memang belum memasukkan faktor kenaikan suku bunga yang cukup signifikan seperti yang terjadi saat ini ke dalam perhitungan awal,” kata Christy dalam Public Expose Live 2026, Kamis (11/6/2026).
Menurut dia, ketika perseroan menyusun rencana bisnis dan target penjualan pada awal tahun, kondisi ekonomi global maupun geopolitik masih berada dalam situasi yang berbeda dibandingkan saat ini. Berbagai perkembangan yang terjadi sepanjang tahun, mulai dari meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi pasar keuangan, hingga perubahan arah kebijakan moneter di sejumlah negara, telah memengaruhi sentimen pasar dan mendorong bank sentral mengambil langkah pengetatan kebijakan.
Meski demikian, manajemen PANI menilai fundamental bisnis perusahaan masih cukup kuat untuk menjaga momentum penjualan. Oleh karena itu, direksi belum memiliki rencana untuk melakukan revisi target, baik menurunkan maupun menaikkan proyeksi marketing sales tahun ini.
“Pada awal tahun, kondisi geopolitik dan ekonomi global sangat berbeda dengan situasi saat ini. Namun sampai saat ini jajaran direksi belum memiliki niat untuk merevisi target tahunan marketing sales, baik ke bawah maupun ke atas,” ujarnya.
Target Marketing Sales Tetap Rp4,3 Triliun
Perseroan tetap mempertahankan target marketing sales sebesar Rp4,3 triliun hingga akhir 2026. Angka tersebut mencerminkan optimisme perusahaan terhadap permintaan properti, khususnya di kawasan pengembangan PIK 2 yang masih menunjukkan aktivitas penjualan yang positif.
Untuk mencapai target tersebut, PANI akan mengandalkan sejumlah produk unggulan yang selama ini menjadi kontributor utama penjualan. Segmen rumah tapak masih menjadi motor utama marketing sales, seiring tingginya minat masyarakat terhadap hunian di kawasan terpadu yang menawarkan aksesibilitas, fasilitas komersial, serta potensi peningkatan nilai investasi.
Selain rumah tapak, penjualan rumah toko (ruko) juga diproyeksikan tetap menjadi salah satu penyumbang utama pendapatan pemasaran. Permintaan terhadap produk komersial dinilai masih cukup baik, terutama dari pelaku usaha yang ingin memanfaatkan pertumbuhan aktivitas ekonomi dan bisnis di kawasan PIK 2.
Di sisi lain, penjualan kavling komersial juga diharapkan memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian target tahun ini. Pengembangan kawasan yang terus berlanjut serta meningkatnya aktivitas investasi di sektor properti dinilai menjadi faktor pendukung bagi penjualan lahan komersial.
“Kami masih berpatokan pada target yang akan dicapai hingga Desember 2026, yaitu marketing sales sebesar Rp4,3 triliun yang ditopang oleh penjualan rumah, ruko, dan juga kavling komersial,” kata Christy.
Industri Properti Hadapi Tantangan Suku Bunga Tinggi
Kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen diperkirakan memberikan tantangan tersendiri bagi industri properti nasional. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya berdampak pada kenaikan bunga kredit pemilikan rumah (KPR) sehingga berpotensi memengaruhi daya beli sebagian konsumen.
Meski demikian, sejumlah pengembang besar masih melihat adanya peluang pertumbuhan, terutama pada segmen menengah atas yang relatif lebih tahan terhadap perubahan suku bunga. Selain itu, kebutuhan hunian dan ruang usaha di kawasan yang memiliki infrastruktur lengkap dinilai tetap tinggi meskipun kondisi pembiayaan menjadi lebih ketat.
PIK 2 sendiri merupakan salah satu proyek kota mandiri terbesar yang tengah berkembang di wilayah utara Jakarta dan Tangerang. Kawasan tersebut terus menarik minat pembeli maupun investor karena didukung berbagai fasilitas, akses jalan tol, kawasan bisnis, pusat hiburan, serta proyek infrastruktur yang terus berkembang.
Manajemen PANI optimistis kombinasi antara pengembangan kawasan yang berkelanjutan, diversifikasi produk properti, dan tingginya minat pasar terhadap kawasan PIK 2 akan menjadi faktor utama yang menopang pencapaian target marketing sales sepanjang 2026. Dengan strategi tersebut, perseroan berharap dapat menjaga kinerja penjualan tetap solid meskipun menghadapi tantangan dari lingkungan suku bunga yang lebih tinggi.
0 Comments