Survei: Perang Iran Mulai Berdampak ke Ekonomi Global

Survei: Perang Iran Mulai Berdampak ke Ekonomi Global

Dampak Perang Iran Meluas: Ekonomi Global Tertekan, Risiko Stagflasi Meningkat

Perang yang melibatkan Iran dalam beberapa pekan terakhir mulai menunjukkan dampak signifikan terhadap perekonomian global. Berdasarkan hasil survei bisnis terbaru per Selasa, 24 Maret 2026, konflik ini tidak hanya mengganggu pasokan energi, tetapi juga meningkatkan ketidakpastian ekonomi yang menekan aktivitas bisnis di berbagai negara utama dunia.

Survei yang dilakukan terhadap para manajer pembelian (purchasing managers) di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang memberikan gambaran paling komprehensif sejauh ini mengenai dampak ekonomi dari konflik yang telah berlangsung hampir satu bulan tersebut. Data ini menunjukkan bahwa gangguan terhadap rantai pasok energi global telah memicu kenaikan harga minyak, gas, dan energi lainnya secara tajam.

Ketergantungan dunia terhadap kawasan Timur Tengah, khususnya jalur strategis seperti Selat Hormuz, membuat situasi semakin rentan. Sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur tersebut, sehingga gangguan apa pun langsung berdampak pada harga energi dunia. Sejak konflik memanas, harga minyak global dilaporkan melonjak mendekati atau bahkan menembus level psikologis USD 100 per barel, memicu kekhawatiran inflasi yang lebih luas.

Kenaikan harga energi ini menciptakan tekanan ganda bagi ekonomi global. Di satu sisi, biaya produksi meningkat sehingga perusahaan menghadapi beban yang lebih besar. Di sisi lain, daya beli masyarakat tertekan akibat kenaikan harga barang dan jasa. Kondisi ini memperlambat pertumbuhan ekonomi sekaligus mendorong inflasi—kombinasi yang dikenal sebagai stagflasi.

Tekanan tersebut juga menjadi tantangan besar bagi para pembuat kebijakan, termasuk Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menghadapi dilema antara menjaga pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi. Banyak bank sentral kini mulai mempertimbangkan kebijakan moneter yang lebih ketat, seperti menaikkan suku bunga, untuk meredam tekanan harga.

Di kawasan Eropa, ekonomi menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang cukup jelas. Aktivitas sektor swasta di negara-negara pengguna euro hampir stagnan pada Maret 2026. Perusahaan melaporkan adanya keterlambatan pengiriman barang serta peningkatan biaya produksi yang pada akhirnya berpotensi dibebankan kepada konsumen.

Data dari S&P Global menunjukkan bahwa Indeks Manajer Pembelian (PMI) komposit zona euro turun ke 50,5, level terendah dalam 10 bulan terakhir, dari sebelumnya 51,9 pada Februari. Meskipun masih berada di atas angka 50 yang menandakan ekspansi, penurunan ini mengindikasikan pertumbuhan yang sangat lemah.

Secara lebih rinci, kondisi di masing-masing negara utama Eropa juga memburuk. Kepercayaan bisnis di Prancis mengalami penurunan tajam, sementara Jerman mencatat perlambatan pertumbuhan sektor swasta ke level terendah dalam tiga bulan terakhir. Sektor manufaktur menjadi yang paling terpukul akibat lonjakan biaya energi dan bahan baku.

Kepala ekonom S&P Global Market Intelligence, Chris Williamson, bahkan menyebut kondisi ini sebagai “alarm stagflasi” bagi kawasan euro. Istilah ini menggambarkan situasi ekonomi yang sulit, di mana pertumbuhan melambat tetapi inflasi tetap tinggi.

Di Amerika Serikat, kondisi serupa juga mulai terlihat. PMI komposit turun menjadi 51,4 pada Maret 2026, menandai penurunan selama dua bulan berturut-turut. Sektor jasa menjadi penyumbang utama perlambatan, sementara kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran inflasi dan menekan prospek perekrutan tenaga kerja.

Negara-negara maju lainnya dalam kelompok G7 juga menghadapi tekanan yang sama. Di Inggris, pertumbuhan aktivitas bisnis melambat ke titik terendah dalam enam bulan, sementara biaya input sektor manufaktur melonjak ke tingkat tercepat sejak 1992—menunjukkan tekanan inflasi yang sangat kuat.

Di Jepang, pertumbuhan ekonomi juga kehilangan momentum. PMI komposit turun dari 53,9 menjadi 52,5, mencerminkan ekspansi yang masih terjadi tetapi dengan laju yang lebih lambat. Sektor manufaktur Jepang, yang sangat bergantung pada impor energi, menjadi salah satu yang paling terdampak.

Dampak konflik ini bahkan lebih terasa di negara berkembang seperti India. Dengan ketergantungan tinggi pada impor energi—sekitar 90% minyak mentah dan hampir setengah kebutuhan gas—India mencatat perlambatan pertumbuhan sektor swasta ke level terendah dalam tiga tahun. Kenaikan biaya produksi juga menggerus margin keuntungan perusahaan, memaksa sebagian pelaku usaha menaikkan harga jual.

Meski demikian, sebagian ekonom masih menilai bahwa risiko resesi global penuh belum menjadi skenario utama. Namun, mereka mengingatkan bahwa hal ini sangat bergantung pada durasi konflik dan arah harga energi ke depan. Jika konflik berkepanjangan atau eskalasi meningkat, risiko resesi bisa menjadi lebih nyata.

Ekonom dari Oxford Economics, Nicola Nobile, menegaskan bahwa ketidakpastian masih sangat tinggi. Menurutnya, perkembangan harga energi akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah ekonomi global dalam beberapa bulan ke depan.

Selain itu, kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk akibat serangan balasan Iran terhadap target yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel memperburuk situasi. Perbaikan infrastruktur tersebut diperkirakan membutuhkan waktu lama, sehingga gangguan pasokan energi berpotensi berlangsung lebih panjang.

Dalam perkembangan terbaru, sejumlah negara mulai mencari alternatif pasokan energi, termasuk meningkatkan produksi domestik, mempercepat transisi ke energi terbarukan, serta menjalin kerja sama baru dengan negara produsen lain. Namun, langkah-langkah ini membutuhkan waktu dan belum mampu sepenuhnya menggantikan pasokan dari Timur Tengah dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, perang Iran kini tidak hanya menjadi konflik geopolitik, tetapi juga telah berubah menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global. Dunia menghadapi periode penuh ketidakpastian, di mana inflasi tinggi, pertumbuhan melambat, dan risiko gangguan energi menjadi tantangan utama yang harus dihadapi bersama.