Tambak Udang Waingapu Ditargetkan Mulai Produksi Tahun 2027, Investasi Rp 7,2 Triliun
KKP Targetkan Tambak Udang Terintegrasi Waingapu Beroperasi 2027, Dorong Produksi dan Ekonomi Kawasan Timur
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan kawasan tambak udang terintegrasi di Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai beroperasi penuh pada 2027. Proyek strategis ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat sektor perikanan budidaya sekaligus meningkatkan daya saing ekspor udang Indonesia di pasar global.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu, menyampaikan bahwa pembangunan kawasan ditargetkan rampung dalam waktu tiga tahun. Meski demikian, sebagian unit tambak diproyeksikan sudah dapat memulai produksi lebih awal sebagai tahap uji operasional.
“Insyaallah tahun depan sudah ada yang bisa mulai produksi,” ujarnya.
Saat ini, kawasan yang sebelumnya berupa savana tengah ditransformasi menjadi area tambak modern dengan dukungan alat berat dan teknologi konstruksi terkini. Proses pembangunan terus berjalan secara bertahap, dengan fokus pada penataan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, serta sistem pengelolaan air.
Tebe—sapaan akrab Tb Haeru Rahayu—menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan. Desain tambak dibuat dengan standar tinggi untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memastikan efisiensi operasional jangka panjang.
“Tambak ini dirancang dengan standar terbaik, sehingga tidak hanya menghasilkan panen optimal, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.
Model Budidaya Udang Modern dan Berkelanjutan
Kawasan tambak ini berlokasi di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, NTT. Proyek ini dirancang sebagai percontohan nasional untuk budidaya udang berbasis teknologi dan praktik akuakultur berkelanjutan.
KKP mengusung konsep Integrated Shrimp Farming (ISF), yaitu sistem budidaya terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dalam konsep ini, seluruh rantai produksi dikelola dalam satu kawasan, mulai dari pengambilan air laut hingga pengolahan hasil panen.
Fasilitas yang dibangun mencakup:
-
Saluran intake air laut
-
Tandon atau kolam penampungan utama
-
Kolam budidaya dengan sistem kontrol kualitas air
-
Instalasi pengolahan air limbah (IPAL)
-
Fasilitas pengolahan dan industri pendukung
Selain itu, penggunaan teknologi modern seperti sensor kualitas air, sistem aerasi otomatis, hingga digital monitoring mulai diterapkan untuk meningkatkan produktivitas dan meminimalkan risiko kegagalan panen.
Pendekatan ini sejalan dengan tren global industri akuakultur yang semakin menekankan aspek keberlanjutan, efisiensi sumber daya, serta traceability produk—hal yang kini menjadi perhatian utama pasar ekspor seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa.
Target Produksi Besar dan Investasi Triliunan Rupiah
Secara keseluruhan, kawasan tambak udang Waingapu memiliki luas sekitar 2.150 hektare, dengan area terbangun mencapai 1.361 hektare. Dari pengembangan tersebut, produksi udang ditargetkan mencapai hingga 52.000 ton per tahun.
Jika target ini tercapai, kontribusi kawasan ini akan signifikan terhadap total produksi udang nasional, yang selama ini menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor perikanan Indonesia.
Dari sisi pembiayaan, proyek ini membutuhkan investasi sekitar USD 500 juta atau setara Rp 7,2 triliun. Rinciannya:
-
Rp 6,1 triliun berasal dari pinjaman luar negeri
-
Rp 1,1 triliun merupakan rupiah murni pendamping (RMP)
Investasi besar ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam membangun ekosistem industri udang yang terintegrasi dan berdaya saing tinggi.
Dampak Ekonomi dan Strategi Jangka Panjang
Selain meningkatkan produksi, proyek ini juga diharapkan membawa dampak ekonomi yang luas, khususnya bagi masyarakat di wilayah timur Indonesia. Kawasan tambak diproyeksikan membuka ribuan lapangan kerja baru, mulai dari tenaga teknis, operator tambak, hingga sektor pendukung seperti logistik dan pengolahan hasil.
Lebih jauh, proyek ini menjadi bagian dari strategi besar KKP untuk mendorong industrialisasi sektor perikanan budidaya. Indonesia menargetkan peningkatan ekspor udang dalam beberapa tahun ke depan, seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk seafood yang berkelanjutan.
Dalam konteks nasional, pengembangan tambak terintegrasi seperti di Waingapu juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada tambak tradisional yang cenderung memiliki produktivitas rendah dan risiko lingkungan lebih tinggi.
Pemerintah pun mendorong kolaborasi antara berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, investor swasta, hingga masyarakat lokal. Sinergi ini dinilai penting untuk memastikan keberhasilan proyek sekaligus pemerataan manfaat ekonomi.
0 Comments