Tantri Kotak Diduga Tertipu Rp10 Miliar, Berawal dari Tawaran Kerja Sama Bisnis

Tantri Kotak Diduga Tertipu Rp10 Miliar, Berawal dari Tawaran Kerja Sama Bisnis

Kronologi Tantri Kotak Diduga Jadi Korban Penipuan Rp 10 Miliar, Bermula dari Tawaran Bisnis hingga Puluhan Korban Bermunculan

Vokalis grup band Kotak, Tantri Syalindri Ichlasari atau yang lebih dikenal sebagai Tantri Kotak, akhirnya buka suara terkait dugaan kasus penipuan berkedok bisnis yang diduga membuat dirinya mengalami kerugian besar hingga miliaran rupiah. Tidak sendiri, Tantri mengaku terdapat sejumlah korban lain yang ikut terdampak dalam kasus yang kini ramai diperbincangkan di media sosial.

Kasus tersebut pertama kali diungkap Tantri melalui beberapa unggahan di akun Instagram pribadinya yang telah terverifikasi pada 24 Juni 2026. Dalam unggahan itu, Tantri menceritakan kronologi bagaimana dirinya bisa mempercayai sosok terduga pelaku yang disebut berinisial MIH, hingga akhirnya menyadari telah menjadi korban dugaan penipuan dengan nilai fantastis.

Dalam unggahan tersebut, pelantun lagu Pelan-pelan Saja dan Selalu Cinta itu juga memperlihatkan foto sosok MIH. Tantri mengaku pertama kali mengenal terduga pelaku pada 2021, saat anak-anak mereka diketahui bersekolah di tempat yang sama.

Menurut Tantri, hubungan mereka awalnya terjalin sebagai teman biasa. Seiring waktu, komunikasi berjalan semakin dekat dan keduanya kerap saling membantu satu sama lain. Selama berteman, Tantri menilai MIH sebagai sosok yang baik, suportif, dan cukup dipercaya.

Namun hubungan pertemanan itu berubah ketika pada tahun 2025, MIH mulai menawarkan sebuah peluang bisnis kepada Tantri. Skema bisnis yang ditawarkan disebut berkaitan dengan pendanaan atau modal pembelian produk, meski Tantri tidak menjelaskan secara rinci jenis usaha yang dimaksud.

Awalnya, Tantri mengaku sempat menolak ajakan tersebut karena memiliki prinsip berhati-hati dalam urusan keuangan maupun bisnis, terutama jika melibatkan orang terdekat.

“Di tahun 2025, kamu menawarkan sebuah kerja sama yang kamu jalankan. Bisnis ini berupa modal pembelian produk. Awalnya aku ragu, karena khawatir urusan bisnis akan memengaruhi pertemanan. Dalam prinsip hidupku, urusan bisnis dan uang aku sangat berhati-hati sekali,” tulis Tantri dalam unggahannya.

Meski sempat menaruh keraguan, Tantri akhirnya memutuskan ikut dalam kerja sama tersebut. Keputusan itu diambil karena selama bertahun-tahun hubungan pertemanan mereka berjalan baik dan tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan.

Selama hampir satu tahun, bisnis tersebut disebut berjalan lancar tanpa kendala berarti. Tantri bahkan mengaku tidak melihat adanya indikasi masalah dalam kerja sama yang dijalankan.

Namun situasi berubah drastis pada 19 Juni 2026, tepat setelah transaksi terakhir dilakukan. Tantri mengungkapkan bahwa sejak saat itu nomor telepon MIH tiba-tiba tidak aktif dan seluruh akun media sosial yang bersangkutan mendadak tidak bisa dihubungi.

“Kurang lebih satu tahun semuanya terlihat baik-baik saja. Sampai akhirnya pada 19 Juni 2026, setelah transaksi terakhir dilakukan, nomor telepon dan akun media sosialmu tidak lagi dapat dihubungi,” tulisnya.

Kondisi tersebut langsung memicu kepanikan. Tantri kemudian mengetahui dirinya bukan satu-satunya korban. Sejumlah orang lain mulai mencari keberadaan MIH setelah mengalami situasi serupa.

Menurut pengakuannya, para korban kemudian saling berkomunikasi untuk mencari informasi dan berupaya melacak keberadaan terduga pelaku. Bahkan beberapa di antaranya mendatangi rumah MIH, namun hasilnya nihil.

“Rumahmu kami datangi, keluarga dan orang tuamu angkat tangan,” ungkap Tantri.

Yang membuat Tantri semakin terpukul, belakangan ia mengetahui bahwa salah satu pihak yang ikut mengalami kerugian dalam dugaan penipuan tersebut ternyata berasal dari lingkungan keluarga dekatnya sendiri.

Fakta ini membuat situasi menjadi semakin emosional karena dampak yang ditimbulkan tidak hanya menyangkut dirinya secara pribadi, melainkan juga orang-orang terdekat yang selama ini menaruh kepercayaan pada terduga pelaku.

“Ternyata salah satu orang yang dirugikan adalah keluarga sendiri. Menurut informasi yang saya peroleh, saya menduga orang yang dirugikan tidak hanya saya, karena itu kami semua intens berkomunikasi,” papar Tantri.

Berdasarkan komunikasi antar korban yang kini terus berlangsung, total kerugian yang diklaim sementara disebut mencapai sekitar Rp 10 miliar. Namun angka tersebut masih berupa estimasi awal dan masih membutuhkan proses verifikasi lebih lanjut.

“Total kerugian yang diklaim para pihak tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp 10 miliar, yang tentunya masih memerlukan verifikasi lebih lanjut,” ujarnya.

Hingga kini belum diketahui secara pasti keberadaan MIH. Belum ada pula keterangan resmi apakah kasus tersebut telah dilaporkan ke pihak kepolisian, meski sejumlah korban dikabarkan tengah mengumpulkan bukti transaksi serta dokumen pendukung.

Kasus yang dialami Tantri menambah daftar panjang dugaan penipuan investasi atau bisnis berkedok kerja sama personal yang belakangan semakin marak terjadi di Indonesia. Modus semacam ini umumnya memanfaatkan hubungan pertemanan, keluarga, hingga kedekatan sosial untuk membangun kepercayaan sebelum akhirnya pelaku membawa kabur dana korban.

Data dari sejumlah laporan kepolisian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kasus penipuan dengan modus investasi, bisnis titip modal, hingga skema keuntungan tetap terus meningkat, terutama yang dijalankan melalui relasi personal dan media sosial.

Melalui pengalamannya, Tantri berharap kejadian yang menimpanya dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat agar lebih berhati-hati ketika menerima tawaran bisnis, sekalipun datang dari orang yang telah dikenal bertahun-tahun.

Ia juga menyampaikan pesan reflektif agar setiap orang tetap menjaga prinsip kehati-hatian dalam mengelola keuangan dan memastikan rezeki diperoleh melalui cara yang benar.

“Semoga apa pun yang kita dapatkan dari hasil kerja keras dan halal menjadi rezeki yang berkah, cukup untuk keluarga, menenangkan hati, dan membawa kebaikan dalam hidup,” tutup Tantri.

Kasus ini pun kini menjadi sorotan publik di media sosial, dengan banyak warganet memberikan dukungan kepada Tantri sekaligus mengingatkan pentingnya melakukan pengecekan menyeluruh sebelum menempatkan dana dalam bentuk kerja sama bisnis apa pun, termasuk dengan orang terdekat sekalipun.