Tekanan Global Bikin Rupiah Terancam Melemah ke Rp18.000

Tekanan Global Bikin Rupiah Terancam Melemah ke Rp18.000

Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan berat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan sentimen negatif dari dalam negeri. Pelemahan mata uang Garuda terjadi seiring meningkatnya permintaan dolar Amerika Serikat (AS) sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian pasar global.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi bahkan memperkirakan rupiah berpotensi mendekati level Rp 18.000 per dolar AS dalam waktu dekat apabila tekanan eksternal terus meningkat dan tidak ada sentimen positif yang mampu menahan arus keluar modal asing dari pasar domestik.

Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah pada perdagangan hari ini terbilang luar biasa. Ia mencatat rupiah sudah melemah sekitar 70 poin ke level Rp 17.870 per dolar AS pada perdagangan Kamis (28/5/2026).

“Hari ini cukup luar biasa terhadap pelemahan mata uang rupiah. Saat saya membuat tulisan ini, rupiah sudah melemah 70 poin, yaitu di Rp 17.870. Ada kemungkinan pembukaan pasar besok di hari Jumat rupiah ini akan mendekati level Rp 18.000. Kemungkinan besar,” kata Ibrahim kepada media dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026).

Selain itu, Ibrahim memprediksi pasca libur Idul Adha rupiah berpotensi menyentuh Rp 17.900 hingga penutupan perdagangan sore hari ini. Minimnya aktivitas pasar selama libur panjang dinilai membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar karena likuiditas pasar menurun dan pergerakan dolar AS menjadi lebih dominan.

“Nah kita melihat bahwa dalam perdagangan di hari ini ya libur nasional kemungkinan besar 100 poin. Rupiah akan melemah, bisa saja sampai sore ini rupiah bergerak ke Rp 17.900,” ujarnya.

Tekanan terhadap rupiah juga terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS yang kembali naik setelah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan inflasi yang masih cukup tinggi. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Ekspektasi suku bunga tinggi di AS membuat arus modal asing keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor global cenderung memindahkan dana mereka ke instrumen berbasis dolar AS yang dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil lebih menarik.

Di sisi lain, Bank Indonesia dinilai menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Intervensi di pasar valuta asing diperkirakan akan terus dilakukan guna menahan volatilitas yang terlalu tajam. Namun ruang intervensi dinilai semakin terbatas apabila tekanan global terus meningkat dalam waktu lama.

Geopolitik Timur Tengah dan Eropa Jadi Tekanan Utama

Ibrahim menjelaskan, salah satu faktor utama pelemahan rupiah berasal dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Amerika Serikat disebut melakukan serangan terhadap instalasi di wilayah Iran Selatan yang berpotensi memicu balasan dari Iran dan memperluas konflik di kawasan.

Situasi tersebut diperparah dengan meningkatnya aktivitas militer AS di kawasan Timur Tengah. Kapal-kapal perang Amerika dilaporkan mulai bergerak mendekati wilayah Israel sebagai langkah antisipasi terhadap potensi eskalasi konflik regional.

Selain itu, pernyataan keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Oman juga dinilai memperburuk ketegangan geopolitik. Oman sebelumnya dikenal menjadi salah satu mediator penting dalam proses diplomasi antara Iran dan AS.

Tak hanya Timur Tengah, konflik Rusia dan Ukraina juga dinilai memperburuk sentimen global. Ibrahim mengatakan serangan Rusia terhadap ibu kota Ukraina, Kiev, kembali meningkatkan kekhawatiran pasar setelah Ukraina meminta tambahan bantuan senjata dari Amerika Serikat dan NATO.

“Kemudian ketegangan di Eropa maupun di Timur Tengah ini membuat harga minyak kembali di atas USD 92 bahkan sekarang di USD 96. Untuk WTI ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga minyak akibat tingginya geopolitik kemudian tingginya transportasi logistik yang membuat harga-harga di Amerika mengalami kenaikan cukup signifikan terutama gasolin,” ujarnya.

Kenaikan harga minyak dunia turut menjadi sentimen negatif bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak. Lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan beban impor dan memperlebar defisit transaksi berjalan sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Selain itu, kenaikan harga minyak juga dikhawatirkan dapat memicu inflasi domestik, terutama pada sektor transportasi dan logistik. Jika tekanan inflasi terus meningkat, maka daya beli masyarakat berpotensi melemah dan pertumbuhan ekonomi nasional dapat melambat pada semester kedua tahun ini.

Pelaku pasar kini juga menantikan langkah lanjutan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah. Sejumlah analis memperkirakan BI akan memperkuat intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga pembelian surat berharga negara di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas keuangan domestik.

Meski demikian, sebagian analis menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibanding sejumlah negara berkembang lainnya. Cadangan devisa Indonesia masih berada di level yang cukup aman untuk menopang stabilitas eksternal, sementara ekspor komoditas dinilai masih mampu memberikan dukungan terhadap neraca perdagangan.

Namun apabila konflik geopolitik global terus memanas dan harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek.