Trump Ancam Hentikan Perdagangan Jika The Fed Tak Pangkas Suku Bunga
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mendesak Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga. Trump bahkan mengancam akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang mencatat surplus dagang terhadap AS jika bank sentral AS tidak menurunkan suku bunga.
“Kita seharusnya membayar suku bunga terendah di dunia,” kata Trump di Oval Office, dikutip dari CNBC, Sabtu (5/9/2026).
Desakan tersebut disampaikan setelah Trump mengunggah pernyataan di platform Truth Social yang meminta The Fed segera menurunkan suku bunga.
“Turunkan suku bunga atau saya akan berhenti berdagang dengan negara-negara yang memiliki defisit dengan kita,” tulis Trump.
Trump Desak The Fed Pangkas Suku Bunga
Trump kembali menyuarakan keinginannya agar The Fed mengambil langkah agresif terkait kebijakan suku bunga. Ia menyampaikan pernyataan tersebut setelah laporan ketenagakerjaan bulanan AS menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang lebih kuat dari perkiraan.
Dalam unggahannya, Trump menyebut perusahaan-perusahaan AS menambah 162.000 lapangan kerja pada Agustus. Menurutnya, angka tersebut berada sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan sejumlah perkiraan.
“Turunkan suku bunga karena AS memiliki kredit yang jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya! Negara yang kuat berarti suku bunga lebih rendah—kredit yang lebih baik… Sangat sederhana!” ujar Trump.
Trump juga mengatakan AS seharusnya memiliki tingkat suku bunga yang paling rendah dibandingkan negara-negara lain, seperti yang pernah terjadi pada masa lalu.
Ancaman Trump Dinilai Ekstrem
The Fed sejauh ini tidak memberikan komentar mengenai pernyataan Trump. Gedung Putih juga belum memberikan tanggapan atas permintaan informasi tambahan dari CNBC.
Jika diterapkan secara langsung, ancaman untuk menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang mencatat surplus terhadap AS dapat berdampak luas. Pasalnya, AS memiliki defisit perdagangan dengan puluhan negara, termasuk sejumlah mitra dagang utama.
Trump memang telah lama mendorong suku bunga yang lebih rendah. Ia juga berulang kali mengkritik defisit perdagangan AS dengan negara lain.
Namun, para ekonom menilai defisit perdagangan tidak selalu menunjukkan bahwa suatu negara mengalami kerugian.
Defisit perdagangan dapat terjadi ketika daya beli suatu negara cukup kuat sehingga masyarakat dan perusahaan di dalamnya membeli lebih banyak barang dan jasa dari luar negeri.
Mengapa Defisit Perdagangan Tidak Selalu Buruk?
Negara yang mencatat surplus perdagangan dengan AS umumnya menerima dolar dari aktivitas perdagangan tersebut. Dana itu kemudian dapat digunakan untuk membeli berbagai aset berdenominasi dolar, termasuk surat utang pemerintah AS atau US Treasury.
Artinya, sebagian dana yang keluar dari AS melalui perdagangan dapat kembali masuk ke dalam sistem keuangan AS melalui investasi.
Karena itu, hubungan antara defisit perdagangan, suku bunga, dan kondisi ekonomi tidak sesederhana anggapan bahwa surplus satu negara otomatis berarti kerugian bagi negara lainnya.
Trump Kembali Soroti Defisit Perdagangan AS
Amerika Serikat telah mencatat defisit perdagangan hingga puluhan miliar dolar setiap bulan selama beberapa dekade.
Meski demikian, Trump kembali menggambarkan kondisi tersebut sebagai permainan zero-sum, yakni situasi ketika keuntungan satu pihak dianggap sebagai kerugian bagi pihak lainnya.
“Kita memiliki defisit besar dengan banyak negara yang seharusnya tidak pernah dibiarkan terjadi,” kata Trump.
Pernyataan terbaru Trump menunjukkan bahwa tekanan politik terhadap The Fed terkait kebijakan suku bunga masih berlanjut. Di sisi lain, keputusan mengenai suku bunga tetap menjadi kewenangan bank sentral dan bergantung pada penilaian terhadap kondisi ekonomi, inflasi, serta pasar tenaga kerja AS.
0 Comments