Update Harga Pangan: Cabai Rawit Merah Sentuh Level Rp 100.000 per Kg
Harga Pangan Naik, Cabai Rawit Merah Tembus Rp100.000 per Kg, Bulog Siapkan Strategi Stabilkan Harga Beras
Harga sejumlah komoditas pangan nasional kembali menunjukkan kenaikan pada perdagangan Jumat pagi (19/6/2026). Salah satu lonjakan tertinggi terjadi pada komoditas cabai rawit merah yang kini menembus level Rp100.000 per kilogram (kg), sementara harga telur ayam ras tercatat berada di kisaran Rp29.700 per kg.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola oleh Bank Indonesia dan diakses pada Jumat pukul 08.30 WIB, kenaikan harga cabai masih menjadi perhatian utama di tengah meningkatnya kebutuhan rumah tangga dan distribusi yang belum sepenuhnya stabil di beberapa daerah.
Selain cabai rawit merah, komoditas hortikultura lain juga tercatat mengalami harga tinggi. Harga cabai merah besar berada di level Rp62.500 per kg, cabai merah keriting Rp67.500 per kg, sedangkan cabai rawit hijau tercatat mencapai Rp76.750 per kg.
Kenaikan harga cabai dalam beberapa pekan terakhir disebut dipengaruhi oleh faktor cuaca yang mengganggu produksi di sejumlah sentra pertanian, terutama di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera. Curah hujan yang masih tinggi di beberapa daerah menyebabkan penurunan kualitas panen serta keterlambatan distribusi ke pasar tradisional.
Di sisi lain, harga komoditas bumbu dapur lainnya juga masih bertahan tinggi. Bawang merah dijual rata-rata Rp60.650 per kg, sementara bawang putih berada di level Rp40.000 per kg.
Untuk komoditas beras, harga di tingkat pedagang eceran nasional masih menunjukkan variasi antar kualitas. Beras kualitas bawah I tercatat Rp16.750 per kg, beras kualitas bawah II Rp16.500 per kg, sedangkan beras medium I Rp16.500 per kg dan beras medium II mencapai Rp18.000 per kg.
Sementara itu, harga beras kualitas premium atau super I berada di level Rp18.150 per kg, dan beras super II dijual Rp17.000 per kg. Harga beras premium yang terus meningkat menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam menjaga stabilitas inflasi pangan nasional.
Untuk protein hewani, harga daging ayam ras segar berada di angka Rp45.150 per kg. Sedangkan daging sapi kualitas I dipatok sebesar Rp161.250 per kg, dan daging sapi kualitas II berada di kisaran Rp115.000 per kg.
Komoditas kebutuhan pokok lain juga terpantau relatif tinggi. Gula pasir premium dijual di harga Rp20.400 per kg, sementara gula pasir lokal Rp20.000 per kg.
Adapun untuk minyak goreng, minyak goreng curah diperdagangkan di level Rp21.000 per liter, sedangkan minyak goreng kemasan bermerek I mencapai Rp24.400 per liter, dan minyak goreng kemasan bermerek II Rp23.600 per liter.
Tekanan Inflasi Pangan Masih Jadi Sorotan
Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan ini kembali menambah tekanan terhadap inflasi volatile food atau komponen pangan bergejolak. Bank Indonesia sebelumnya menyebut inflasi pangan masih menjadi salah satu faktor yang terus dipantau karena sangat memengaruhi daya beli masyarakat, terutama kelompok rumah tangga berpendapatan menengah ke bawah.
Ekonom menilai kenaikan harga pangan menjelang semester kedua 2026 dipicu kombinasi gangguan cuaca, distribusi logistik, biaya transportasi, serta tingginya permintaan di beberapa wilayah.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dikabarkan terus melakukan koordinasi untuk mempercepat distribusi pangan dari daerah surplus menuju daerah yang mengalami kenaikan harga ekstrem.
Bulog Usulkan Program Beraskita Premium
Di tengah naiknya harga beras premium, Perum Bulog mengusulkan program baru bernama Beraskita Premium sebagai upaya menstabilkan harga beras di pasaran.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pihaknya telah mengajukan usulan tersebut kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. Program ini diharapkan mampu meniru keberhasilan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang selama ini fokus pada beras medium.
“Kami mengusulkan untuk membuat Beraskita Premium. Jadi saat harga beras premium mengalami kenaikan, program ini bisa membantu menjaga stabilitas harga di pasar,” ujar Rizal di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Menurut Rizal, sejauh ini harga beras medium relatif lebih stabil karena adanya intervensi melalui distribusi beras SPHP. Karena itu, pemerintah dinilai perlu menerapkan strategi serupa pada segmen beras premium.
Dalam usulan tersebut, Beraskita Premium nantinya akan dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp14.900 per kilogram, lebih murah dibanding harga premium yang saat ini beredar di pasar modern maupun tradisional.
Sebagai perbandingan, beras SPHP Bulog saat ini dijual Rp12.500 per kilogram dan difokuskan untuk menjaga keterjangkauan masyarakat terhadap beras medium.
“Tadi saya memberikan saran di rapat dibuatkan program beras kita premium, seperti beras SPHP yang sekarang beras medium,” jelas Rizal.
Meski demikian, pelaksanaan program tersebut masih menunggu persetujuan resmi pemerintah. Bulog berharap program ini dapat segera disetujui agar gejolak harga pangan, khususnya beras premium, bisa segera dikendalikan.
“Ini baru tahap usulan, belum di-approve. Harapannya bisa segera dijalankan sehingga masyarakat lebih tenang menghadapi kenaikan harga pangan,” tutup Rizal.
Pemerintah Siapkan Intervensi Pasar
Sejumlah pengamat menilai pemerintah perlu memperkuat operasi pasar dan mempercepat distribusi cadangan pangan pemerintah untuk mencegah lonjakan harga lebih lanjut, terutama menjelang periode peningkatan konsumsi masyarakat pada semester kedua 2026.
Jika tren kenaikan harga pangan terus berlanjut, dikhawatirkan tekanan inflasi dapat kembali meningkat dan berdampak pada konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
0 Comments