Usai Diakuisisi Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, VISI Lepas Aset Senilai Rp75 Miliar
PT Satu Visi Putra Tbk (VISI), emiten yang bergerak di sektor perindustrian, berencana melepas lebih dari seperempat aset yang dimilikinya setelah terjadi perubahan pengendali perusahaan kepada pasangan selebritas sekaligus pengusaha, Nagita Slavina dan Raffi Ahmad.
Rencana divestasi tersebut mencakup delapan aset berupa bidang tanah beserta bangunan yang berada di tiga kota, yakni Surabaya, Semarang, dan Bekasi. Langkah ini menjadi salah satu aksi korporasi pertama yang dilakukan VISI setelah bergantinya pemegang saham pengendali.
Manajemen VISI mengungkapkan bahwa nilai keseluruhan transaksi berdasarkan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) atas tanah dan bangunan tersebut mencapai Rp75 miliar.
“Nilai transaksi untuk keseluruhan objek transaksi berdasarkan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) tanah dan bangunan tersebut adalah sebesar Rp75 miliar,” tulis Manajemen VISI dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (3/7).
Perseroan menjelaskan, PPJB telah ditandatangani pada 30 Juni 2026 dengan PT Inti Megah Putra sebagai pembeli. Manajemen menegaskan bahwa PT Inti Megah Putra merupakan pihak nonafiliasi sehingga transaksi dilakukan dengan pihak yang tidak memiliki hubungan afiliasi dengan perseroan.
VISI juga memastikan bahwa transaksi tersebut tidak memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Berdasarkan ketentuan POJK mengenai transaksi material dan perubahan kegiatan usaha, aksi korporasi ini tidak termasuk transaksi material yang wajib memperoleh persetujuan pemegang saham karena nilainya tidak melebihi 50% dari total ekuitas perseroan.
Meski demikian, jika mengacu pada laporan keuangan tahunan 2025, nilai transaksi tersebut setara sekitar 27% dari total aset VISI per 31 Desember 2025 yang tercatat sebesar Rp278 miliar. Dengan porsi yang cukup signifikan terhadap total aset, transaksi ini menjadi salah satu aksi divestasi terbesar yang dilakukan perseroan dalam beberapa tahun terakhir.
Untuk memastikan kewajaran transaksi, VISI menunjuk Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) independen. Berdasarkan hasil penilaian, nilai pelepasan delapan aset tersebut dinyatakan wajar setelah dilakukan analisis menggunakan pendekatan perbandingan data pasar terhadap aset sejenis.
Perseroan belum merinci penggunaan dana hasil penjualan aset tersebut. Namun secara umum, dana hasil divestasi aset dapat dimanfaatkan perusahaan untuk memperkuat struktur permodalan, meningkatkan likuiditas, mendukung kebutuhan modal kerja, membiayai ekspansi usaha, maupun mengurangi beban kewajiban apabila diperlukan.
Aksi korporasi ini dilakukan tidak lama setelah terjadi perubahan besar dalam struktur kepemilikan saham VISI. Berdasarkan data IDNFinancials.com, perseroan mengumumkan perubahan pemegang saham pengendali pada 9 Juni 2026 setelah David Dwiputra mengalihkan 61,85% sahamnya kepada PT Harmoni Semesta Investama.
PT Harmoni Semesta Investama diketahui merupakan perusahaan investasi yang dimiliki Nagita Slavina Mariana Tengker sebesar 51% dan Raffi Farid Ahmad sebesar 49%. Melalui transaksi tersebut, entitas tersebut mengakuisisi sekitar 1,9 miliar lembar saham VISI dengan nilai transaksi mencapai Rp178,74 miliar.
Masuknya Nagita Slavina dan Raffi Ahmad sebagai pengendali baru menarik perhatian pelaku pasar karena keduanya selama ini dikenal aktif mengembangkan berbagai lini bisnis, mulai dari media, hiburan, gaya hidup, olahraga, hingga investasi. Kehadiran keduanya memunculkan ekspektasi bahwa VISI akan menjalani transformasi strategi bisnis maupun pengembangan usaha ke depan.
Hingga saat ini, perseroan belum mengumumkan adanya perubahan kegiatan usaha utama maupun rencana ekspansi spesifik pasca-akuisisi. Investor diperkirakan masih akan mencermati langkah-langkah strategis yang akan ditempuh manajemen baru, termasuk pemanfaatan dana hasil penjualan aset serta arah pengembangan bisnis VISI dalam jangka menengah dan panjang.
Dengan terlaksananya transaksi divestasi ini, pasar juga akan menantikan apakah perusahaan akan lebih fokus pada efisiensi operasional, optimalisasi aset produktif, atau menyiapkan ruang bagi investasi baru di bawah kepemimpinan pemegang saham pengendali yang baru.
0 Comments