Volume Pembayaran Stablecoin Melonjak 45% pada 2026, Tembus US$482 Miliar
Volume pembayaran stablecoin mencapai US$482 miliar hingga September 2026, meningkat 45% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini terjadi ketika pasokan stablecoin di pasar kripto relatif stagnan, menunjukkan bahwa penggunaan stablecoin untuk transaksi semakin berkembang di tengah kondisi pasar yang lesu.
Berdasarkan laporan Allium yang dikutip dalam pemberitaan AMBCrypto, volume pembayaran stablecoin meningkat dari US$331 miliar pada periode yang sama tahun lalu menjadi US$482 miliar pada September 2026. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh aktivitas pembayaran dari kalangan bisnis.
Pembayaran Stablecoin oleh Bisnis Naik 37%
Aktivitas pembayaran stablecoin yang diterima oleh bisnis mencatat pertumbuhan signifikan. Nilainya meningkat 37%, dari US$179 miliar menjadi US$246 miliar.
Data tersebut menunjukkan bahwa stablecoin semakin banyak digunakan untuk mendukung transaksi bisnis. Aset digital yang nilainya dirancang mengikuti aset tertentu, seperti dolar AS, ini dapat menjadi alternatif untuk memindahkan nilai secara digital.
Pertumbuhan pembayaran juga terlihat pada kuartal III 2026. Dalam periode tersebut, volume pembayaran stablecoin mencapai rekor US$72 miliar. Sementara itu, pengeluaran menggunakan kartu berbasis stablecoin meningkat hingga 10 kali lipat.
Kartu Stablecoin Dorong Adopsi Transaksi Kecil
Penggunaan kartu menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas adopsi stablecoin. Melalui mekanisme ini, pengguna dapat membelanjakan aset digital untuk transaksi sehari-hari tanpa mengharuskan setiap pedagang menerima stablecoin secara langsung.
Laporan Allium menyoroti peran kartu, terutama dalam transaksi bernilai kecil atau pembayaran mikro (micropayments).
Pembelian dengan nilai di bawah US$50 menyumbang 84% dari peningkatan transaksi kartu yang terpantau. Angka ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan penggunaan stablecoin tidak hanya berasal dari transaksi bernilai besar, tetapi juga dari pembayaran kecil.
Model pembayaran berbasis kartu memungkinkan pengguna memanfaatkan saldo stablecoin melalui infrastruktur pembayaran yang sudah tersedia. Dengan demikian, hambatan adopsi di tingkat pedagang dapat dikurangi.
Pasokan Stablecoin Masih Bertahan di Atas US$300 Miliar
Meski volume pembayaran meningkat tajam, pertumbuhan pasokan stablecoin belum menunjukkan perkembangan yang sebanding.
Pada akhir September 2026, total pasokan stablecoin tercatat sekitar US$304 miliar. Sementara itu, kapitalisasi pasar stablecoin berada di kisaran US$302,9 miliar pada saat laporan tersebut disusun.
Secara keseluruhan, pertumbuhan pasar stablecoin sepanjang 2026 masih kurang dari 1%, berdasarkan data dalam laporan tersebut.
Perbedaan antara peningkatan volume pembayaran dan stagnasi pasokan menunjukkan bahwa aktivitas transaksi tidak selalu diikuti oleh pertumbuhan jumlah stablecoin yang beredar. Stablecoin yang sama dapat digunakan berulang kali dalam berbagai transaksi sehingga volume pembayaran dapat meningkat tanpa kenaikan pasokan yang sebanding.
Imbal Hasil Stablecoin Dinilai Bisa Mendorong Adopsi
Salah satu faktor yang dinilai berpotensi mempercepat pertumbuhan stablecoin adalah imbal hasil atau yield atas saldo yang dimiliki pengguna.
Olivia Vande Woude dari Ava Labs menyoroti bahwa sebagian besar stablecoin yang beredar belum memberikan imbal hasil secara langsung kepada pemegangnya. Ia menilai perusahaan teknologi finansial dapat menghubungkan stablecoin seperti USDC, USDT, dan EURC dengan produk investasi berbasis aset dunia nyata atau real-world assets (RWA).
Menurut pandangan tersebut, produk yang menawarkan likuiditas harian dan transparansi transaksi secara on-chain berpotensi meningkatkan daya tarik stablecoin bagi pengguna.
Namun, penerapan model ini menghadapi tantangan regulasi. GENIUS Act di Amerika Serikat membatasi pembayaran imbal hasil oleh penerbit stablecoin dalam kondisi tertentu. Di Uni Eropa, regulasi MiCA juga membatasi pemberian bunga kepada pemegang token uang elektronik, termasuk melalui skema yang melibatkan pihak ketiga.
Karena itu, peluang menawarkan yield atas stablecoin bergantung pada struktur produk, pihak yang menyediakan imbal hasil, serta ketentuan hukum di masing-masing yurisdiksi.
JPMorgan Proyeksikan Pasar Stablecoin Capai US$500–600 Miliar
Prospek pertumbuhan stablecoin masih menjadi perhatian lembaga keuangan dan pelaku industri kripto.
JPMorgan memperkirakan kapitalisasi pasar stablecoin dapat mencapai US$500 miliar hingga US$600 miliar pada 2028 apabila tidak ada dorongan tambahan dari insentif imbal hasil.
Di sisi lain, sejumlah proyeksi industri memperkirakan pasar stablecoin berpotensi mencapai US$2 triliun pada 2028. Perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar sangat bergantung pada asumsi yang digunakan, termasuk regulasi, adopsi pembayaran, permintaan institusional, dan ketersediaan produk keuangan baru.
Imbal hasil dapat menjadi salah satu pendorong tambahan, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan pasar.
Kesimpulan
Pertumbuhan volume pembayaran stablecoin sebesar 45% hingga September 2026 memperlihatkan meningkatnya penggunaan aset digital ini untuk transaksi bisnis dan pembayaran sehari-hari. Lonjakan pengeluaran melalui kartu juga menunjukkan bahwa integrasi dengan infrastruktur pembayaran konvensional dapat memperluas akses pengguna.
Meski demikian, pasokan stablecoin yang masih relatif stagnan menandakan bahwa peningkatan aktivitas transaksi belum otomatis menghasilkan ekspansi pasar yang besar.
Ke depan, pertumbuhan stablecoin akan dipengaruhi oleh perkembangan pembayaran digital, kejelasan regulasi, adopsi institusional, dan kemungkinan hadirnya produk yang menawarkan imbal hasil sesuai ketentuan hukum
0 Comments