Nasib Bitcoin Bergantung pada Level Support RSI

Bitcoin Hadapi Ujian Penting Setelah Anjlok Harga
Di akhir Agustus, Bitcoin turun lebih dari 13% dari rekor tertingginya di atas $124.000. Penurunan ini juga memutus garis tren naik yang sudah bertahan lebih dari dua tahun. Banyak trader khawatir hal ini bisa jadi tanda koreksi lebih dalam, apalagi indikator RSI (Relative Strength Index) juga mulai tertekan.
Dalam sejarah, ketika Bitcoin kehilangan dukungan tren harga dan RSI sekaligus, selalu terjadi kejatuhan besar:
- 2013: Turun dari $1.150 ke $150 (-85%)
- 2017: Turun dari $20.000 ke $3.100 (-84%)
- 2021: Turun dari $69.000 ke $15.500 (-77%)
Jika RSI kembali jebol, analis memperkirakan Bitcoin bisa turun mendekati level $80.000, sesuai dengan indikator EMA-50 (Exponential Moving Average 50 periode).
Trap atau Koreksi Nyata?
Beberapa analis percaya penurunan ini bisa jadi “false breakout” atau jebakan untuk mengguncang investor yang panik. BitBull misalnya, menyebut bahwa meski turun sebentar di bawah $100.000, itu masih sesuai pola historis Bitcoin sebelum terjadi rebound besar. Menurutnya, kondisi ini justru bisa jadi momen akumulasi, bukan tanda akhir siklus bull run.
Analis lain, SuperBro, menggunakan Pi Cycle Top model yang pernah akurat memprediksi puncak Bitcoin di 2013, 2017, dan 2021. Menurutnya, saat ini belum ada sinyal puncak, sehingga Bitcoin masih berpotensi naik hingga $280.000 sebelum reversal besar benar-benar terjadi. Ia menilai area $80.000 – $100.000 justru zona strategis untuk menambah posisi.
Arah Selanjutnya?
- Jika RSI jebol, tren bearish baru bisa cepat terbentuk.
- Jika Bitcoin bisa kembali ke atas $114.000, tren naik jangka panjang berpeluang berlanjut.
Saat ini pasar kripto sedang berada di fase krusial, di mana faktor teknikal, ekonomi global, hingga regulasi bisa memengaruhi arah pergerakan Bitcoin berikutnya.
0 Comments