Simak Gerak Harga Emas Hari Ini Usai Cetak Rekor Termahal sepanjang Sejarah

Harga emas mengalami penurunan pada perdagangan hari Selasa akibat aksi ambil untung dari para investor. Namun, meskipun mengalami koreksi, harga emas tetap berada di dekat rekor tertinggi sepanjang masa. Seperti diketahui, harga emas dunia baru-baru ini mencetak rekor tertinggi sebagai respons terhadap meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan langkah-langkah kebijakan proteksionisme yang diumumkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Harga Emas Terkini dan Faktor Penggerak
Mengutip CNBC, Rabu (2/4/2025), harga emas di pasar spot turun sebesar 0,3% menjadi USD 3.113,43 per ons, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di USD 3.148,88 per ons pada awal perdagangan hari Selasa waktu setempat. Sementara itu, harga emas berjangka AS ditutup 0,1% lebih rendah di USD 3.146 per ons.
Menurut Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus analis logam senior di Zaner Metals, aksi ambil untung yang terjadi saat ini tidak mengejutkan mengingat pasar telah mengalami kondisi overbought dalam beberapa waktu terakhir. "Saya tidak melihat banyak perubahan dalam fundamental pasar. Ini adalah badai yang sempurna bagi emas untuk tetap bertahan di level tinggi," ujarnya.
Dampak Kebijakan Tarif AS dan Ketidakpastian Ekonomi
Pasar kini tengah menantikan rincian kebijakan tarif impor yang akan diumumkan oleh Presiden Donald Trump pada hari Rabu waktu setempat. Laporan dari Washington Post mengindikasikan bahwa Gedung Putih telah menyusun rencana untuk mengenakan tarif sebesar 20% terhadap sebagian besar impor ke AS. Langkah ini dinilai akan semakin memperburuk ketegangan perdagangan global, yang mendorong investor untuk beralih ke aset safe haven seperti emas.
Selain faktor kebijakan tarif, ketidakpastian makroekonomi juga turut mendukung penguatan harga emas dalam beberapa bulan terakhir. Data terbaru menunjukkan bahwa inflasi AS masih berada pada level yang cukup tinggi, meskipun Federal Reserve telah melakukan serangkaian kebijakan moneter ketat untuk menekan laju kenaikan harga.
Prediksi Resesi dan Kebijakan The Fed
Goldman Sachs baru-baru ini meningkatkan proyeksi kemungkinan terjadinya resesi di AS dari 20% menjadi 35%. Hal ini didasarkan pada data ekonomi yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan serta dampak dari kebijakan perdagangan yang lebih proteksionis. Analis memperkirakan bahwa Federal Reserve mungkin akan melakukan lebih banyak pemotongan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang untuk meredam tekanan ekonomi. Jika suku bunga lebih rendah, emas yang tidak memberikan imbal hasil akan semakin menarik bagi investor karena biaya peluang kepemilikan emas berkurang.
Manajer portofolio senior di Sprott Asset Management, Ryan McIntyre, menyoroti bahwa harga emas terus bergerak naik sebagian besar karena meningkatnya kepemilikan emas oleh ETF berbasis fisik dan pembelian yang kuat dari bank sentral berbagai negara. Tren ini menunjukkan bahwa investor institusional dan pemerintah melihat emas sebagai alat lindung nilai utama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Analisis Teknikal: Apakah Harga Emas Akan Kembali Meningkat?
Dari perspektif teknikal, harga emas saat ini masih berada dalam tren bullish meskipun mengalami koreksi jangka pendek. Indeks Kekuatan Relatif (RSI) emas berada di atas 70, yang menandakan bahwa logam mulia ini telah berada dalam kondisi overbought. Hal ini berpotensi memicu aksi jual lebih lanjut dalam waktu dekat sebelum pasar kembali stabil.
Namun, jika ketegangan geopolitik dan kebijakan ekonomi proteksionis terus meningkat, permintaan terhadap emas diperkirakan akan tetap tinggi. Beberapa analis memperkirakan bahwa harga emas masih memiliki ruang untuk kembali menguji level USD 3.200 per ons dalam waktu dekat, terutama jika data ekonomi AS menunjukkan pelemahan lebih lanjut dan The Fed memberikan sinyal pemangkasan suku bunga tambahan.
Kesimpulan
Meskipun mengalami koreksi harga akibat aksi ambil untung, emas tetap menjadi aset yang menarik di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Dengan kebijakan tarif impor yang agresif dari AS, meningkatnya risiko resesi, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, harga emas masih berpotensi untuk mencetak rekor baru dalam beberapa bulan mendatang. Investor diharapkan tetap memperhatikan perkembangan kebijakan ekonomi global dan data makroekonomi yang dapat mempengaruhi pergerakan harga emas ke depan.
0 Comments