“Hampir Dua Pertiga”—Stablecoin Tiba-Tiba Mencapai Rekor Volume $4,5 Triliun di Kuartal 1
Volume transfer stablecoin mencapai rekor $4,5 triliun pada kuartal pertama 2026, menurut laporan a16z crypto. Angka ini menunjukkan bahwa penggunaan stablecoin untuk transaksi digital global terus meningkat pesat.
a16z crypto menyebutkan bahwa sekitar dua pertiga volume transaksi berasal dari Asia, terutama dari Singapura, Hong Kong, dan Jepang. Ini menunjukkan bahwa kawasan Asia menjadi pusat utama pertumbuhan aktivitas stablecoin.
Secara keseluruhan, total volume transaksi stablecoin sepanjang 2025 sudah menembus $33 triliun. Namun angka terbaru ini lebih fokus pada transaksi pembayaran, bukan seluruh aktivitas di jaringan blockchain.
Saat ini, total kapitalisasi pasar stablecoin berada di sekitar $320 miliar. Stablecoin terbesar masih didominasi oleh:
- USDT (Tether): sekitar $185,5 miliar (pangsa pasar terbesar)
- USDC (Circle): sekitar $78,6 miliar
Lonjakan penggunaan stablecoin ini mulai menarik perhatian pasar keuangan tradisional. Banyak investor menilai stablecoin sebagai potensi gangguan (disruption) bagi jaringan pembayaran lama seperti Visa dan Western Union.
Sebuah laporan dari IMF juga mencatat bahwa pasar bereaksi terhadap regulasi baru di AS, yaitu GENIUS Act, yang membahas pengaturan stablecoin. Setelah pengesahan RUU di DPR AS, nilai pasar perusahaan pembayaran besar tercatat turun sekitar $22 miliar secara tidak normal (abnormal market drop), berdasarkan studi ekonomi IMF.
Di sisi lain, beberapa analis justru melihat ini sebagai peluang positif. Regulasi dianggap bisa mempercepat adopsi stablecoin oleh institusi keuangan. Selain itu, beberapa data jaringan blockchain menunjukkan aktivitas tinggi, termasuk laporan bahwa jaringan TRON memproses volume USDT dalam jumlah sangat besar pada kuartal tersebut.
0 Comments