Harga Minyak Dunia Turun Setelah Sempat Cetak Rekor Tinggi

Harga Minyak Dunia Turun Setelah Sempat Cetak Rekor Tinggi

Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (Jumat waktu Jakarta), hanya beberapa jam setelah melonjak ke level tertinggi dalam sekitar empat tahun terakhir. Koreksi tajam ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi global terhadap perkembangan geopolitik, khususnya terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan laporan CNBC pada Jumat (1/5/2026), harga minyak mentah Brent—yang menjadi patokan global—turun lebih dari 3% dan ditutup di level USD 114,01 per barel. Sebelumnya, Brent sempat menyentuh sekitar USD 126 per barel di awal sesi, level tertinggi sejak lonjakan harga energi global akibat konflik besar dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI), acuan utama di Amerika Serikat, juga terkoreksi lebih dari 1% ke posisi USD 105,07 per barel. Penurunan ini terjadi setelah laporan dari Axios yang menyebut bahwa militer AS tengah menyiapkan opsi kebijakan, termasuk kemungkinan aksi militer terhadap Iran, untuk disampaikan kepada Presiden Donald Trump.

Ketegangan Geopolitik Kembali Mendominasi

Situasi ini mempertegas bahwa pergerakan harga minyak saat ini sangat dipengaruhi oleh risiko geopolitik, bukan sekadar faktor fundamental seperti permintaan dan produksi. Sebelumnya, Trump dilaporkan menolak proposal dari Teheran untuk membuka kembali jalur pelayaran penting di Selat Hormuz. Keputusan tersebut mengindikasikan bahwa blokade militer kemungkinan akan tetap berlangsung hingga tercapai kesepakatan nuklir yang lebih luas.

Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia biasanya melewati jalur sempit ini setiap harinya. Gangguan di kawasan tersebut langsung memicu lonjakan harga karena pasar khawatir terhadap kelangkaan pasokan.

Sejak konflik yang melibatkan AS dan sekutunya dengan Iran meningkat pada akhir Februari, harga minyak Brent dan WTI telah melonjak sekitar 60%. Reli tajam ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan berkepanjangan di kawasan Teluk Persia.

Dampak Gangguan Pasokan Semakin Terasa

Kepala Strategi Komoditas di ING Group, Warren Patterson, menilai pasar kini mulai beralih dari euforia menuju kenyataan gangguan pasokan yang nyata.

Menurutnya, semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar tekanan terhadap cadangan minyak global. Dalam kondisi seperti ini, pasar tidak punya banyak pilihan selain menyesuaikan permintaan—yang biasanya terjadi melalui kenaikan harga.

Sementara itu, analis dari Goldman Sachs memperkirakan bahwa volume ekspor minyak yang melewati Selat Hormuz saat ini turun drastis hingga hanya sekitar 4% dari kondisi normal. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi blokade militer, terbatasnya ekspor Iran, serta stagnasi negosiasi antara Washington dan Teheran.

Update Terbaru: Risiko Energi Global dan Respons Negara Produsen

Dalam perkembangan terbaru, sejumlah negara produsen minyak mulai mempertimbangkan langkah darurat untuk menjaga stabilitas pasokan. Uni Emirat Arab, misalnya, disebut berpotensi meningkatkan produksi setelah keluar dari kesepakatan kuota OPEC. Namun, peningkatan ini diperkirakan tidak akan langsung signifikan dalam jangka pendek karena keterbatasan kapasitas produksi tambahan.

Di sisi lain, lembaga energi internasional juga mulai memperingatkan potensi dampak lanjutan terhadap inflasi global. Lonjakan harga minyak biasanya akan merambat ke sektor lain, termasuk transportasi, logistik, hingga harga pangan.

Beberapa analis bahkan memperkirakan bahwa jika konflik terus bereskalasi dan Selat Hormuz tetap terganggu, harga minyak bisa kembali menguji level USD 130–150 per barel. Hal ini berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global, terutama bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Kesimpulan

Pergerakan harga minyak saat ini mencerminkan ketidakpastian tinggi di pasar global. Meski sempat mencapai puncak tertinggi, harga dengan cepat terkoreksi akibat dinamika politik dan militer yang berubah cepat.

Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada:

  • perkembangan konflik AS–Iran,

  • kondisi Selat Hormuz,

  • serta respons negara produsen utama dunia.

Jika ketegangan mereda, harga berpotensi stabil. Namun jika konflik meningkat, pasar energi global bisa menghadapi tekanan yang lebih besar dalam waktu dekat.