399 dari 558 Blockchain Tak Menghasilkan Biaya Transaksi, Solana Pimpin pada Oktober 2026

399 dari 558 Blockchain Tak Menghasilkan Biaya Transaksi, Solana Pimpin pada Oktober 2026

Sebagian besar blockchain yang tercatat di industri kripto ternyata belum menunjukkan aktivitas transaksi yang berarti. Data DefiLlama per 3 Oktober 2026 menunjukkan, 399 dari 558 blockchain menghasilkan biaya transaksi atau fees sebesar nol dolar dalam 24 jam terakhir.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 71% dari seluruh blockchain yang dipantau DefiLlama.

Data ini menunjukkan bahwa aktivitas penggunaan blockchain masih sangat terkonsentrasi pada sejumlah jaringan utama. Hanya sedikit blockchain yang mampu menghasilkan biaya transaksi dalam jumlah besar dari aktivitas pengguna.

443 Blockchain Menghasilkan Kurang dari US$10

Kondisi tersebut terlihat semakin jelas jika melihat blockchain yang menghasilkan biaya transaksi rendah.

Berdasarkan data DefiLlama, sebanyak 443 dari 558 blockchain menghasilkan kurang dari US$10 biaya transaksi dalam periode 24 jam yang sama.

Artinya, hanya sebagian kecil jaringan yang benar-benar mencatat aktivitas transaksi bernilai signifikan.

Biaya transaksi atau chain fees merupakan uang yang dibayarkan pengguna ketika melakukan aktivitas di sebuah jaringan blockchain. Besarnya biaya yang terkumpul dapat menjadi salah satu indikator aktivitas ekonomi yang berlangsung di jaringan tersebut.

Namun, biaya transaksi tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya ukuran untuk menentukan kualitas atau pentingnya sebuah blockchain.

Solana Pimpin Biaya Transaksi Blockchain

Dari ratusan blockchain yang dipantau DefiLlama, hanya tujuh jaringan yang berhasil menghasilkan biaya transaksi lebih dari US$100.000 dalam 24 jam pada 3 Oktober 2026.

Berikut daftar tujuh blockchain tersebut:

Blockchain dan Biaya Transaksi 24 Jam

Solana : US$1,09 juta

Tron : US$922.900

BSC : US$793.900

Ethereum : US$435.000

Bitcoin : US$325.600

Base : US$114.800

Robinhood Chain : US$100.900

Solana menjadi blockchain dengan biaya transaksi tertinggi. Jaringan tersebut menghasilkan sekitar US$1,09 juta, menjadi satu-satunya blockchain yang menembus angka US$1 juta dalam periode tersebut.

Tron berada di posisi berikutnya dengan sekitar US$922.900, disusul BNB Smart Chain (BSC) dengan sekitar US$793.900.

Sementara itu, Ethereum mencatat sekitar US$435.000 dan Bitcoin sekitar US$325.600.

Ethereum dan Bitcoin Tidak Memimpin

Meski Ethereum dan Bitcoin merupakan dua nama terbesar dalam industri kripto, keduanya tidak berada di posisi teratas berdasarkan biaya transaksi pada periode tersebut.

Ethereum menghasilkan sekitar US$435.000, sedangkan Bitcoin mencatat US$325.600.

Perlu dipahami bahwa peringkat berdasarkan fees tidak menunjukkan blockchain mana yang paling penting atau paling besar secara keseluruhan.

Data tersebut hanya menggambarkan berapa banyak biaya yang dibayarkan pengguna untuk bertransaksi di masing-masing jaringan dalam periode tertentu.

Dengan demikian, perubahan aktivitas pengguna dapat membuat posisi dalam daftar berubah dari waktu ke waktu.

Base dan Robinhood Chain Masuk Tujuh Besar

Base, jaringan layer-2 Ethereum, berada di posisi keenam dengan biaya transaksi sekitar US$114.800.

Sementara itu, Robinhood Chain berada di posisi ketujuh dengan sekitar US$100.900.

Robinhood Chain hanya terpaut sekitar US$900 dari batas US$100.000. Kehadirannya dalam daftar tersebut menunjukkan bahwa persaingan untuk masuk ke kelompok blockchain dengan aktivitas transaksi tinggi masih terbuka.

Aktivitas Blockchain Masih Terkonsentrasi

Data DefiLlama menunjukkan bahwa kondisi tersebut bukan sekadar fenomena satu hari.

Sepanjang 2026, data biaya transaksi blockchain juga memperlihatkan pola serupa, yakni aktivitas ekonomi yang terkonsentrasi pada sejumlah kecil jaringan.

Beberapa jaringan dapat masuk ke posisi teratas pada periode tertentu. Canton Network, misalnya, sempat menjadi salah satu jaringan dengan pendapatan tinggi pada beberapa periode sebelumnya.

Hal ini menunjukkan bahwa posisi dalam daftar dapat berubah, tetapi konsentrasi aktivitas pada sejumlah blockchain utama masih terlihat.

Apa Arti Data Fees bagi Pengguna dan Investor?

Biaya transaksi dapat menjadi salah satu metrik yang diperhatikan ketika mengevaluasi sebuah blockchain.

Alasannya, fees menunjukkan adanya pengguna yang bersedia membayar untuk melakukan aktivitas di jaringan tersebut. Berbeda dengan sekadar melihat harga token, biaya transaksi berkaitan langsung dengan aktivitas yang terjadi di jaringan.

Namun, fees yang rendah tidak selalu berarti blockchain tersebut tidak digunakan.

Beberapa jaringan memang dirancang untuk menawarkan biaya transaksi yang sangat murah. Karena itu, biaya yang rendah harus dilihat bersama metrik lain seperti jumlah transaksi, pengguna aktif, total value locked (TVL), pendapatan, serta aktivitas aplikasi terdesentralisasi atau DeFi.

Sebaliknya, angka biaya transaksi yang benar-benar nol selama periode tertentu dapat menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi di jaringan tersebut sangat terbatas pada waktu pengamatan.

Kesimpulan

Data DefiLlama per 3 Oktober 2026 menunjukkan adanya kesenjangan besar dalam aktivitas ekonomi antarblockchain.

Dari 558 blockchain yang dipantau, 399 tidak menghasilkan biaya transaksi dalam 24 jam, sementara 443 jaringan menghasilkan kurang dari US$10.

Di sisi lain, hanya tujuh blockchain yang berhasil mengumpulkan lebih dari US$100.000. Solana memimpin dengan US$1,09 juta, diikuti Tron dan BSC.

Data tersebut memperlihatkan bahwa meskipun jumlah blockchain terus bertambah, aktivitas transaksi bernilai signifikan masih terkonsentrasi pada sejumlah jaringan. Bagi pengguna maupun investor, biaya transaksi dapat menjadi salah satu indikator untuk melihat apakah sebuah blockchain benar-benar memiliki aktivitas ekonomi, tetapi tetap perlu dianalisis bersama metrik lainnya.