Ancaman Komputer Kuantum Mengintai Bitcoin, Tezos dan Algorand Mulai Beralih
Perkembangan komputer kuantum mulai menjadi perhatian serius industri cryptocurrency. Teknologi ini berpotensi mengancam sistem kriptografi yang digunakan untuk melindungi aset digital, termasuk Bitcoin (BTC). Di tengah kekhawatiran tersebut, sejumlah jaringan blockchain mulai mengembangkan teknologi yang dirancang untuk menghadapi ancaman komputasi kuantum.
Tezos menjadi salah satu jaringan yang mengambil langkah lebih awal. Pada 2 September 2026, pengembang ekosistem Tezos meluncurkan post-quantum previewnet, jaringan uji coba yang mencakup perlindungan kunci pengguna, mekanisme konsensus, dan pembuatan angka acak.
Langkah tersebut menarik perhatian pasar kripto. Menurut laporan AMBCrypto, harga token Tezos (XTZ) sempat melonjak 30% hingga mencapai level tertinggi dalam empat bulan. Kenaikan itu disertai lonjakan volume perdagangan sebesar 878%, peningkatan open interest sebesar 44%, dan kenaikan volume perdagangan derivatif sebesar 272%.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi ancaman komputer kuantum mulai menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor dalam menilai prospek jaringan blockchain.
Google Peringatkan Ancaman Komputer Kuantum terhadap Bitcoin
Perdebatan mengenai keamanan Bitcoin menghadapi komputer kuantum semakin meningkat setelah Google menerbitkan penelitian pada Maret 2026.
Penelitian tersebut memperkirakan kebutuhan jumlah physical qubits untuk memecahkan kriptografi kurva eliptik Bitcoin dapat turun sekitar 20 kali lipat dibandingkan perkiraan sebelumnya. Kebutuhan yang semula diperkirakan mencapai jutaan unit menjadi kurang dari 500.000 unit dalam skenario penelitian tersebut.
Temuan ini memunculkan kekhawatiran bahwa ancaman komputer kuantum mungkin datang lebih cepat daripada perkiraan awal.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kemungkinan serangan ketika transaksi Bitcoin sedang menunggu konfirmasi jaringan.
Saat pengguna mengirim Bitcoin, kunci publik dapat terlihat di mempool, yaitu tempat transaksi menunggu untuk dimasukkan ke dalam blok. Jika komputer kuantum yang cukup kuat mampu memecahkan kriptografi dalam waktu singkat, penyerang secara teoritis dapat mencoba mengambil alih transaksi tersebut.
Skenario yang dibahas dalam penelitian Google mencakup kemungkinan serangan dalam waktu sekitar sembilan menit, sedangkan rata-rata waktu pembentukan satu blok Bitcoin adalah sekitar 10 menit.
Penelitian tersebut juga menyebut peluang keberhasilan serangan mencapai 41% dalam skenario dan asumsi tertentu.
Namun, angka tersebut bukan prediksi bahwa serangan akan benar-benar terjadi dengan probabilitas 41% dalam kondisi nyata.
Maksym Sakharov, CEO sekaligus salah satu pendiri WeFi, mengingatkan bahwa hasil penelitian tersebut bergantung pada sejumlah asumsi, termasuk kemampuan komputer kuantum yang cukup canggih, ketersediaan kunci publik, serta kondisi jaringan ketika transaksi berlangsung.
Karena itu, risiko komputer kuantum perlu dipahami sebagai tantangan keamanan jangka panjang yang membutuhkan persiapan sejak dini.
Sekitar 30% Bitcoin Disebut Berada di Alamat dengan Kunci Publik Terpapar
Tantangan Bitcoin tidak hanya berkaitan dengan pengembangan teknologi baru, tetapi juga dengan kondisi aset yang sudah beredar.
Penelitian Glassnode pada Mei 2026 menyebut lebih dari 6 juta BTC, atau sekitar 30% dari total pasokan Bitcoin, berada di alamat yang kunci publiknya sudah terlihat di blockchain.
Nilai aset tersebut diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan besarnya potensi risiko jika komputer kuantum di masa depan mampu memecahkan kriptografi yang melindungi alamat-alamat tersebut.
Meski demikian, keberadaan kunci publik yang terlihat tidak berarti Bitcoin tersebut dapat langsung dicuri menggunakan teknologi komputer kuantum yang tersedia saat ini. Risiko tersebut bergantung pada kemampuan teknologi di masa depan untuk memecahkan sistem kriptografi terkait.
Christopher Smith, CEO sekaligus salah satu pendiri Quantus, menilai persoalan Bitcoin lebih banyak berkaitan dengan koordinasi komunitas daripada sekadar kemampuan teknis.
Menurutnya, pengembangan alamat yang tahan terhadap komputer kuantum secara teknis dapat dilakukan. Namun, proses penerapan membutuhkan dukungan pengembang, bursa kripto, penyedia dompet, kustodian, dan pengguna.
Bitcoin juga menghadapi persoalan mengenai aset yang kemungkinan tidak pernah dipindahkan ke alamat baru, termasuk koin yang diyakini milik penciptanya, Satoshi Nakamoto.
Koin-koin tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menentukan kebijakan perlindungan aset ketika jaringan beralih ke kriptografi pascakuantum.
BIP-360 Bitcoin Belum Sepenuhnya Tahan Komputer Kuantum
Salah satu usulan yang mendapat perhatian adalah Bitcoin Improvement Proposal 360 atau BIP-360.
Proposal ini memperkenalkan jenis alamat P2MR (Pay-to-Merkle-Root) yang dirancang untuk mengurangi paparan terhadap jenis serangan tertentu dengan menghilangkan jalur pengeluaran berbasis kunci langsung pada Taproot dan menggunakan komitmen berbasis hash.
Namun, BIP-360 tidak otomatis membuat Bitcoin sepenuhnya tahan terhadap komputer kuantum.
Proposal tersebut tidak dengan sendirinya mengganti seluruh mekanisme tanda tangan kriptografi Bitcoin. Sistem ECDSA dan Schnorr masih menjadi bagian dari persoalan yang perlu ditangani dalam migrasi menuju keamanan pascakuantum.
Untuk mencapai perlindungan yang lebih menyeluruh, jaringan memerlukan dukungan algoritma tanda tangan pascakuantum serta perubahan protokol yang sesuai.
Selain itu, alamat baru tidak akan otomatis memindahkan Bitcoin dari alamat lama. Pengguna harus memindahkan asetnya sendiri setelah dompet dan layanan terkait mendukung sistem baru.
Proses tersebut membutuhkan koordinasi besar dan waktu yang cukup panjang.
Arthur Breitman, salah satu pendiri Tezos, menilai pengguna perlu mendapatkan waktu yang memadai untuk beralih ke sistem keamanan baru.
Menurutnya, pengembangan tanda tangan berbasis hash dapat menjadi salah satu langkah awal, sementara mekanisme pembaruan jaringan perlu dipersiapkan sebelum ancaman komputer kuantum menjadi masalah operasional.
Tezos Luncurkan Jaringan Uji Coba Pascakuantum
Di tengah perdebatan mengenai kesiapan Bitcoin, Tezos mulai menguji pendekatan keamanan pascakuantum melalui previewnet yang diluncurkan pada 2 September 2026.
Jaringan uji coba tersebut menggunakan akun tz5 dengan tanda tangan ML-DSA-44, algoritma tanda tangan digital yang dirancang untuk menghadapi ancaman komputasi kuantum.
Selain itu, Tezos mengembangkan sejumlah teknologi pendukung, termasuk agregasi konsensus berbasis STARK, lapisan ketersediaan data ZODA, dan pembayaran privat TzEL pada jaringan uji coba.
STARK merupakan teknologi pembuktian kriptografi yang dapat membantu memverifikasi perhitungan tanpa harus mengulang seluruh prosesnya. Teknologi berbasis hash juga menjadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan dalam pengembangan sistem keamanan pascakuantum.
Meski begitu, status previewnet berarti teknologi tersebut masih berada dalam tahap pengujian. Keberhasilan uji coba belum otomatis membuktikan bahwa seluruh jaringan Tezos telah sepenuhnya kebal terhadap serangan komputer kuantum.
Peluncuran ini tetap menjadi langkah penting karena memperlihatkan bagaimana perlindungan pascakuantum dapat diuji pada beberapa komponen jaringan blockchain sekaligus.
Algorand dan QRL Juga Kembangkan Keamanan Pascakuantum
Tezos bukan satu-satunya proyek yang mengembangkan teknologi untuk menghadapi ancaman komputer kuantum.
Algorand juga telah memperkenalkan dukungan tanda tangan digital Falcon-1024 pada jaringan utamanya melalui versi 5.0.0 pada Agustus 2026.
Menurut informasi yang dikutip dalam laporan AMBCrypto, jaringan tersebut telah memproses lebih dari 500.000 transaksi dengan tanda tangan pascakuantum.
Falcon merupakan salah satu algoritma tanda tangan digital yang dirancang untuk menghadapi serangan komputer kuantum. Algoritma ini termasuk dalam standar kriptografi pascakuantum yang dikembangkan melalui proses standardisasi National Institute of Standards and Technology (NIST).
Sementara itu, Quantum Resistant Ledger (QRL) telah menggunakan skema tanda tangan XMSS sejak Juni 2018.
XMSS merupakan skema tanda tangan digital berbasis hash yang dirancang untuk tetap aman menghadapi kemampuan komputasi kuantum. Namun, penggunaannya memerlukan pengelolaan kunci dan tanda tangan yang sesuai dengan karakteristik algoritma tersebut.
Ketiga jaringan ini memperlihatkan pendekatan yang berbeda dalam mempersiapkan infrastruktur blockchain menghadapi perkembangan teknologi kuantum.
Ethereum Targetkan Perlindungan Pascakuantum
Ethereum juga mulai mempersiapkan perubahan untuk meningkatkan ketahanan jaringan terhadap komputer kuantum.
Dalam roadmap yang disebutkan dalam laporan AMBCrypto, Ethereum menargetkan perlindungan pascakuantum secara lebih menyeluruh pada 2029.
Salah satu pendekatan yang dibahas adalah account abstraction, yang dapat membantu pengguna mengganti mekanisme autentikasi akun tanpa harus bergantung sepenuhnya pada sistem tanda tangan yang digunakan saat ini.
EIP-8141 disebut sebagai salah satu bagian dari pengembangan tersebut. Namun, keberhasilan migrasi tetap bergantung pada implementasi teknis, proses pengujian, dan keputusan tata kelola jaringan.
Berbeda dengan jaringan yang sudah menjalankan implementasi tertentu, roadmap tidak berarti seluruh sistem Ethereum telah terlindungi dari ancaman komputer kuantum.
Proses migrasi membutuhkan perubahan bertahap agar keamanan, kompatibilitas, dan pengalaman pengguna tetap terjaga.
Kesiapan Pascakuantum Mulai Menjadi Pertimbangan Investor Kripto
Perkembangan teknologi pascakuantum mulai membentuk narasi baru di pasar cryptocurrency.
Investor tidak hanya memperhatikan kecepatan transaksi, biaya jaringan, dan jumlah pengguna, tetapi juga kemampuan blockchain beradaptasi dengan perubahan teknologi keamanan.
Tezos, Algorand, dan QRL menjadi contoh proyek yang telah menjalankan pendekatan pascakuantum dalam bentuk implementasi atau operasi tertentu. Ethereum juga memiliki arah pengembangan yang berfokus pada migrasi keamanan jangka panjang.
Sementara itu, Bitcoin masih menghadapi tantangan dalam menyepakati perubahan protokol dan mendorong pengguna memindahkan aset ke sistem yang lebih aman.
Meski demikian, kesiapan pascakuantum bukan satu-satunya faktor yang menentukan nilai sebuah aset kripto. Adopsi, aktivitas jaringan, likuiditas, regulasi, dan kondisi pasar tetap memengaruhi pergerakan harga.
Lonjakan harga XTZ setelah peluncuran previewnet menunjukkan bahwa berita terkait keamanan teknologi dapat menarik perhatian pasar. Namun, kenaikan tersebut tidak menjamin harga akan terus meningkat.
Kesimpulan
Ancaman komputer kuantum menjadi tantangan jangka panjang bagi industri cryptocurrency. Teknologi ini berpotensi melemahkan sistem kriptografi tertentu yang saat ini digunakan untuk melindungi aset digital.
Tezos, Algorand, dan QRL telah mengambil langkah melalui implementasi pascakuantum dengan pendekatan yang berbeda. Ethereum juga sedang mempersiapkan perubahan protokol, sedangkan Bitcoin masih menghadapi tantangan teknis dan koordinasi komunitas.
Meski ancaman tersebut belum berarti seluruh aset kripto dapat diretas menggunakan komputer yang tersedia saat ini, persiapan sejak dini menjadi semakin penting.
Bagi pengguna, keamanan aset pada masa depan tidak hanya bergantung pada tindakan pribadi, tetapi juga pada kemampuan pengembang, penyedia dompet, bursa, dan jaringan blockchain untuk menerapkan standar kriptografi yang lebih kuat.
0 Comments