Harga Bitcoin Turun ke US$83.050, Pasar Kripto Tertekan Konflik Timur Tengah
Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin sore di kawasan Asia. Bitcoin turun sekitar 1,6% dalam 24 jam dan diperdagangkan di level US$83.050, setelah sebelumnya bertahan di sekitar US$84.400 sepanjang akhir pekan.
Berdasarkan data CoinMarketCap dalam bahan sumber, penurunan Bitcoin mulai terlihat pada perdagangan Senin pagi di Asia. Meski terkoreksi, Bitcoin masih mencatat kenaikan sekitar 1,9% dalam sepekan terakhir.
Pergerakan pasar kripto turut dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi dan geopolitik global, terutama meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi menjaga harga energi tetap tinggi.
Harga Ethereum, XRP, dan Solana Ikut Melemah
Penurunan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Sejumlah aset kripto utama juga berada di zona merah.
Harga Ethereum (ETH) turun sekitar 1,9% menjadi US$2.646. Dalam tujuh hari terakhir, Ethereum tercatat turun sekitar 0,9%.
Sementara itu, XRP melemah 2,2% ke level US$1,48. Solana (SOL) juga turun sekitar 1,2% menjadi US$119.
Meski mengalami penurunan harian, Solana masih mencatat kenaikan sekitar 6,7% dalam tujuh hari terakhir.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto berada di sekitar US$2,86 triliun atau turun 1,2% dalam 24 jam.
Konflik Timur Tengah Jadi Perhatian Pasar
Pergerakan pasar pada awal pekan turut dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah.
Dalam bahan sumber disebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari dengan sejumlah syarat, termasuk pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, keringanan sanksi minyak Iran, pelepasan aset Iran yang dibekukan, serta penerapan gencatan senjata yang mencakup Lebanon.
Tawaran tersebut dilaporkan ditolak oleh Presiden AS Donald Trump.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian investor karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global. Ketegangan di kawasan tersebut dapat memengaruhi harga minyak dan pada akhirnya meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Harga minyak Brent dilaporkan berada di sekitar US$104 per barel pada akhir pekan lalu.
Arus Dana ETF Bitcoin Masih Menjadi Penopang
Di tengah tekanan pasar, permintaan melalui ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang membantu menahan pelemahan lebih dalam.
Berdasarkan data arus dana yang dikutip dalam bahan sumber, ETF Bitcoin spot mencatat sekitar US$2,2 miliar arus masuk selama empat sesi perdagangan pada pekan lalu.
Arus masuk terbesar terjadi pada 21 September dengan nilai sekitar US$1,42 miliar.
BlackRock melalui produk IBIT menjadi salah satu kontributor terbesar dengan arus masuk sekitar US$1,05 miliar dari total tersebut.
Arus dana positif ini menjadi perhatian karena terjadi setelah pasar sebelumnya mengalami tiga hari berturut-turut arus dana keluar.
Pasar Kripto Juga Mencerna Dampak Insiden Bitget
Pasar kripto juga masih menghadapi dampak dari insiden keamanan yang melibatkan bursa Bitget.
Estimasi kerugian dari insiden tersebut dilaporkan meningkat menjadi sekitar US$387,5 juta. Bitget kemudian mulai membuka kembali layanan penarikan aset secara bertahap pada Senin.
Bitcoin menjadi salah satu aset yang terlebih dahulu dapat ditarik, sementara Ethereum, USDT, dan aset lainnya dijadwalkan menyusul secara bertahap hingga 2 Oktober.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar karena gangguan pada bursa kripto dapat memengaruhi sentimen investor dan likuiditas pasar.
Harga Bitcoin Selanjutnya Bergantung pada Sentimen Makro
Memasuki pekan ini, investor kripto akan mencermati perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran serta pergerakan harga minyak dunia.
Jika ketegangan geopolitik mereda dan harga minyak turun, tekanan terhadap ekspektasi inflasi berpotensi berkurang. Sebaliknya, eskalasi konflik dan kenaikan harga energi dapat kembali meningkatkan kekhawatiran pasar.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan Bitcoin tidak hanya dipengaruhi faktor internal pasar kripto. Arus dana ETF, kondisi likuiditas, harga minyak, serta perkembangan geopolitik global juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar dalam jangka pendek.
0 Comments