Bitcoin Bertahan di US$78.500, Penguatan Yen Jepang Jadi Risiko Baru

Bitcoin Bertahan di US$78.500, Penguatan Yen Jepang Jadi Risiko Baru

Bitcoin Bertahan di US$78.500, Penguatan Yen Jepang Jadi Risiko BaruHarga Bitcoin (BTC) bertahan di sekitar US$78.500 pada 8 September 2026. Pergerakan Bitcoin masih berada dalam rentang perdagangan terbarunya ketika nilai tukar yen Jepang menguat ke level terkuat sejak Februari.

Penguatan yen menjadi perhatian investor karena dapat meningkatkan tekanan terhadap strategi carry trade, yaitu ketika investor meminjam dana dalam mata uang dengan biaya rendah seperti yen untuk membeli aset dengan potensi imbal hasil lebih tinggi.

Jika yen terus menguat dan biaya pendanaan Jepang meningkat, investor berpotensi mengurangi posisi berisiko, termasuk aset kripto seperti Bitcoin.

Yen Jepang Menguat, Bitcoin Masih Bergerak Terbatas

Nilai tukar yen sempat menyentuh 152,89 per dolar AS dalam perdagangan Asia sebelum melemah kembali ke 154,14.

Pergerakan tersebut terjadi menjelang pertemuan Bank of Japan (BOJ) pada 17-18 September. Investor kini mencermati apakah kebijakan moneter Jepang akan semakin mempersempit keuntungan dari strategi carry trade.

Penguatan yen dapat memberikan tekanan kepada investor yang sebelumnya meminjam yen untuk membeli aset di luar Jepang. Ketika yen menguat, biaya untuk membayar kembali pinjaman tersebut menjadi lebih mahal jika dihitung terhadap aset asing.

Tekanan tersebut juga dapat menyebar ke pasar lain apabila investor mulai melakukan pengurangan risiko atau menghadapi permintaan tambahan margin.

Analisis Jefferies berdasarkan data Bank for International Settlements (BIS) menunjukkan nilai pinjaman yen lintas negara mencapai sekitar ¥360 triliun atau sekitar US$2,35 triliun pada Maret.

Bitcoin Masih Mendapat Dukungan dari Arus ETF

Meski terdapat risiko dari penguatan yen, Bitcoin masih memiliki sejumlah faktor pendukung.

Data Farside Investors menunjukkan ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus dana masuk bersih sebesar US$730,8 juta pada 3 September. Sehari berikutnya, ETF tersebut kembali mencatat inflow sebesar US$174,6 juta.

Arus dana tersebut menunjukkan masih adanya permintaan terhadap Bitcoin melalui salah satu jalur investasi utama di pasar Amerika Serikat.

Namun, investor tetap perlu melihat apakah laju pembelian tersebut dapat bertahan ketika kondisi pasar berubah.

Bitfinex juga mencatat adanya peningkatan pasokan stablecoin dan menilai pasar Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan positif. Meski demikian, imbal hasil yang lebih tinggi dinilai dapat membatasi penguatan lanjutan.

Harga Bitcoin Masih Berada dalam Range US$77.200-US$82.100

Pada 8 September, Bitcoin masih berada dalam rentang harga sekitar US$77.200 hingga US$82.100 yang sebelumnya diidentifikasi dalam analisis Bitfinex pada 7 September.

Artinya, tekanan dari pergerakan mata uang Jepang belum membuat Bitcoin keluar dari pola konsolidasi tersebut.

Dukungan lain datang dari harga rata-rata akuisisi pemegang Bitcoin jangka pendek. Dalam laporan 2 September, Glassnode memperkirakan cost basis pemegang jangka pendek berada di sekitar US$71.000.

Dengan harga Bitcoin masih berada di atas level tersebut, kelompok investor ini masih memiliki bantalan keuntungan sebelum posisi rata-rata mereka berubah menjadi rugi.

Kombinasi arus masuk ETF dan posisi harga di atas cost basis tersebut membantu menjelaskan mengapa pasar Bitcoin masih mampu menyerap tekanan jual.

Kenaikan Bitcoin Masih Dipengaruhi Pasar Futures

Di sisi lain, kenaikan Bitcoin masih mendapat dorongan cukup besar dari pasar derivatif.

Kontributor CryptoQuant Carmelo Alemán mencatat total open interest meningkat dari US$25,2 miliar menjadi US$27,5 miliar selama perdagangan 3 September.

Menurutnya, pasar derivatif menjadi salah satu pendorong awal kenaikan Bitcoin, meskipun kemudian mulai terlihat partisipasi dari pasar spot dan aktivitas on-chain.

Kenaikan open interest menunjukkan bertambahnya nilai posisi kontrak yang masih terbuka. Namun, besarnya open interest juga dapat meningkatkan risiko apabila harga bergerak berlawanan dan trader mulai mengurangi leverage.

Jika terjadi pembalikan harga sebelum permintaan dari pasar spot mampu menyerap tekanan jual, posisi berleverage dapat menghadapi risiko likuidasi.

Penguatan Yen Jadi Faktor yang Perlu Dipantau Investor Bitcoin

Pergerakan yen Jepang menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan pasar kripto menjelang pertemuan BOJ.

Jika yen kembali menguat secara signifikan dan diikuti pengurangan risiko di pasar global, tekanan terhadap Bitcoin dapat meningkat. Investor yang mengurangi posisi berisiko berpotensi menjual aset untuk memenuhi kebutuhan likuiditas atau menurunkan leverage.

Namun, sejauh ini Bitcoin masih mampu bertahan di dalam rentang perdagangan terbarunya. Arus dana masuk ETF dan posisi pemegang jangka pendek yang masih berada di atas harga akuisisi memberikan dukungan bagi pasar.

Dengan demikian, arah Bitcoin selanjutnya akan sangat bergantung pada keseimbangan antara permintaan spot, arus ETF, aktivitas pasar futures, serta dampak penguatan yen Jepang terhadap likuiditas global.