Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel, Konflik AS-Iran Memanas

Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel, Konflik AS-Iran Memanas

Harga minyak dunia melonjak di atas US$100 per barel pada perdagangan Kamis, 10 September 2026, atau Jumat pagi waktu Jakarta. Kenaikan harga minyak terjadi ketika konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas dan memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Mengutip CNBC, Jumat (11/9/2026), kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 6,7% dan ditutup di level US$102,48 per barel. Harga tersebut menjadi penutupan tertinggi WTI sejak 19 Mei 2026.

Sementara itu, harga minyak Brent naik 6,3% menjadi US$107,63 per barel.

Kenaikan tersebut membuat harga minyak dunia telah menguat lebih dari 18% sepanjang September 2026. Pasar kini semakin memperhitungkan kemungkinan konflik di Timur Tengah berlangsung lebih lama.

Konflik AS-Iran Jadi Perhatian Pasar Minyak

Ketegangan antara Washington dan Teheran kembali meningkat pada September setelah kondisi relatif tenang pada Agustus.

Iran disebut beberapa kali berupaya menyerang kapal perang AS. Di sisi lain, militer AS dilaporkan telah menghancurkan sedikitnya delapan kapal tanker Iran sejak Sabtu sebagai tindakan balasan.

Situasi semakin kompleks setelah kelompok Houthi di Yaman, yang merupakan sekutu Iran, menyerang sejumlah fasilitas energi dan target lainnya di Arab Saudi.

Serangkaian serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap meluasnya konflik dan potensi gangguan terhadap infrastruktur energi serta jalur pelayaran.

Harga Minyak Berpotensi Tembus US$120

Kepala Riset Goldman Sachs, Daan Struyven, menilai eskalasi konflik AS-Iran meningkatkan risiko harga minyak naik lebih tinggi.

Menurutnya, harga minyak berpotensi menembus US$120 per barel apabila serangan terhadap jalur pelayaran semakin intensif.

Kondisi tersebut dapat mengganggu distribusi minyak secara global. Jika volume minyak yang dapat ditransit semakin berkurang, pasar fisik berpotensi mengalami pengetatan pasokan.

Direktur TFP Software FZCO, Andrei Constantin, mengatakan penurunan volume transit serta ancaman terhadap infrastruktur energi dapat memperpanjang tren kenaikan harga minyak.

Perang AS-Iran Bisa Berlangsung Lama

Kekhawatiran pasar juga muncul setelah pejabat AS mengungkap bahwa penasihat utama Gedung Putih telah membahas kemungkinan konflik dengan Iran berlangsung lebih lama.

Menurut laporan The Wall Street Journal, pembahasan tersebut mencakup kemungkinan perang berlanjut hingga melewati Hari Pelantikan pada Januari 2029.

Pernyataan itu berbeda dengan klaim Presiden AS Donald Trump sebelumnya yang mengatakan perang akan segera berakhir setelah pemilihan umum paruh waktu atau midterm elections.

Trump juga menyebut harga minyak dan bensin akan turun setelah pemilu paruh waktu.

Namun, perkembangan terbaru di lapangan justru menunjukkan eskalasi konflik yang semakin meningkat.

Harga BBM AS Ikut Tertekan

Lonjakan harga minyak dunia juga mulai memberikan tekanan terhadap harga bahan bakar di Amerika Serikat.

Harga bahan bakar di stasiun pengisian bahan bakar minyak (SPBU) AS sempat mencatat rekor tertinggi pada Hari Buruh atau Labor Day.

Harga solar bahkan diperkirakan menembus US$6 per galon untuk pertama kalinya dalam beberapa hari mendatang.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak hanya berdampak pada pasar minyak mentah, tetapi juga dapat memengaruhi harga energi yang dibayarkan konsumen.

Minyak WTI dan Brent Kembali Menguat

Analis Trade Nation, David Morrison, mengatakan harga WTI telah sepenuhnya memulihkan penurunan yang terjadi antara awal Juni hingga Juli.

Sementara itu, harga Brent kini berada jauh di atas level yang tercatat pada awal Juni.

Dengan konflik AS-Iran yang masih menjadi perhatian utama pasar, pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa waktu ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan militer, keamanan jalur pelayaran, serta risiko gangguan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah.