Bitcoin Kembali Menembus US$80.000, Suntikan Likuiditas US$1 Triliun Jadi Pendorong Harga BTC
Bitcoin melanjutkan penguatan dari pekan lalu dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan di sekitar US$81.200 pada 25 Agustus.
Kenaikan terbaru ini didorong oleh meningkatnya kekhawatiran inflasi serta ekspektasi bahwa Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) dapat meningkatkan likuiditas di pasar keuangan.
Pasar Obligasi Dukung Kenaikan Bitcoin
Pemulihan Bitcoin semakin kuat setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana untuk menggandakan pembelian kembali obligasi (bond buyback) dari US$4 miliar menjadi US$8 miliar. Langkah ini bertujuan menekan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun di bawah 5%.
Namun, yield obligasi 30 tahun justru kembali naik. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor belum sepenuhnya yakin dengan rencana tersebut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent kemudian mengatakan pemerintah dapat menggunakan sebagian dari US$1 triliun dalam Treasury General Account (TGA) untuk mempercepat pembelian kembali obligasi. Penggunaan dana TGA dapat meningkatkan likuiditas di pasar keuangan.
Rencana tersebut mendapat kritik dari sejumlah investor. Stanley Druckenmiller menilai pasar obligasi seharusnya dibiarkan menentukan tingkat yield secara bebas.
Peter Schiff juga memperingatkan bahwa rencana tersebut dapat meningkatkan inflasi dan menciptakan kondisi yang mirip dengan quantitative easing (QE) dalam skala besar.
Harga emas merespons positif kabar tersebut dan naik ke level tertinggi tiga bulan di sekitar US$4.600. Bitcoin juga ikut menguat.
Bitcoin kemudian sedikit terkoreksi ke sekitar US$80.200, tetapi masih berada di bawah moving average 50 minggu yang berada di sekitar US$81.800. Menurut Galaxy Research, keberhasilan Bitcoin kembali menembus level tersebut dapat menjadi sinyal penting bahwa bear market telah berakhir.
Tom Lee dari Fundstrat juga menilai rencana Departemen Keuangan AS tersebut positif bagi aset-aset jangka panjang seperti saham, kripto, emas, dan real estat.
Permintaan ETF Bitcoin Ikut Menguat
Ekspektasi terhadap meningkatnya likuiditas dan kekhawatiran inflasi juga mendorong permintaan terhadap ETF Bitcoin spot di AS.
ETF Bitcoin mencatat hampir US$2 miliar arus dana masuk bersih (net inflow) sepanjang pekan lalu. Pada Senin, 24 Agustus, ETF tersebut kembali mencatat net inflow sebesar US$337,5 juta.
Data CryptoQuant juga menunjukkan bahwa permintaan agregat terhadap Bitcoin mulai kembali positif pada Agustus, untuk pertama kalinya sejak November tahun lalu.
Sinyal penting lainnya datang dari indikator Supply Profitability Crossing. Indikator ini digunakan untuk melihat fase pemulihan Bitcoin dari bear market. Sinyal serupa terakhir muncul pada 2023, sebelum Bitcoin memasuki bull run pada 2024–2025.
Secara historis, Bitcoin mencatat kenaikan sekitar 22% hingga 50% dalam enam hingga 12 bulan setelah sinyal tersebut muncul.
Apakah Bear Market Bitcoin Sudah Berakhir?
Bitcoin masih menghadapi sejumlah katalis makro penting pekan ini.
Investor akan mencermati data inflasi PCE pada Rabu, laporan keuangan Nvidia, serta pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole pada Jumat. Peristiwa tersebut dapat memicu volatilitas di pasar kripto dan aset keuangan lainnya.
Untuk saat ini, prospek Bitcoin mulai membaik. Jika ekspektasi peningkatan likuiditas tetap kuat dan BTC berhasil menembus serta bertahan di atas moving average 50 minggu di sekitar US$82.000, pasar bisa saja mulai memasuki fase awal bull market baru.
0 Comments