Bitcoin Melonjak 2,3% Setelah Donald Trump Sebut Proposal Damai Iran “Tak Bisa Diterima”

Bitcoin Melonjak 2,3% Setelah Donald Trump Sebut Proposal Damai Iran “Tak Bisa Diterima”

Bitcoin sempat turun sebelum akhirnya melonjak kembali menembus US$82.000 pada Minggu setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal balasan Iran terkait perjanjian damai. Penolakan tersebut memicu kekhawatiran bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah akan berlangsung lebih lama.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut proposal Iran sebagai “benar-benar tidak bisa diterima.” Sebelumnya, Iran meminta AS membayar kompensasi perang serta membuka kembali akses terhadap aset keuangan Iran yang dibekukan.

Setelah pernyataan Trump, harga Bitcoin sempat turun dari US$81.430 ke US$80.520 hanya dalam waktu 45 menit. Namun, BTC kemudian berbalik menguat sekitar 2,3% hingga mencapai US$82.347 dalam kurang dari tiga jam, berdasarkan data CoinGecko.

Lonjakan harga Bitcoin tersebut juga memicu likuidasi posisi short senilai hampir US$64 juta dalam empat jam terakhir, menurut data Coinglass.

Konflik AS-Iran dan sengketa terkait Selat Hormuz — jalur yang menangani sekitar 20% perdagangan minyak global — terus mengguncang pasar keuangan selama 10 pekan terakhir. Harga minyak bahkan kembali naik 4,6% ke level US$98,7 per barel setelah komentar terbaru Trump.

Sementara itu, kontrak berjangka indeks S&P 500 ikut naik 0,13% sejak pasar dibuka sekitar dua jam setelah unggahan Trump.

Penolakan Trump terhadap proposal Iran juga mengurangi harapan pasar atas kemungkinan berakhirnya perang dalam waktu dekat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan perang tidak akan selesai hingga fasilitas uranium Iran dibongkar.

Di tengah situasi tersebut, CEO 10x Research, Markus Thielen, mengatakan kekuatan Bitcoin di atas level US$80.000 berpotensi mendapat dorongan dari dua agenda penting di Senat AS pekan ini.

Agenda pertama adalah pemungutan suara untuk konfirmasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve pada Senin. Agenda kedua adalah pembahasan CLARITY Act oleh Komite Perbankan Senat pada Kamis.

Menurut Thielen, meski Warsh dikenal lebih hawkish terhadap inflasi dibanding Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell, proses konfirmasi tersebut dapat mengurangi ketidakpastian di pasar.

Ia juga menyebut CLARITY Act sebagai salah satu regulasi kripto paling penting dalam beberapa tahun terakhir karena berpotensi menghadirkan kepastian hukum bagi industri aset digital.

“Dua agenda ini cenderung bullish untuk Bitcoin. Kejelasan regulasi dapat mengurangi hambatan institusional, sementara transisi kepemimpinan The Fed yang berjalan mulus bisa menekan ketidakpastian kebijakan yang biasanya membebani aset berisiko,” ujar Thielen.

Meski konflik AS-Iran masih berlangsung, Bitcoin tercatat telah naik sekitar 29,7% sejak perang dimulai pada 28 Februari, saat serangan udara AS menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Sejak konflik pecah, Bitcoin juga berhasil mengungguli kinerja indeks S&P 500 dan emas, sekaligus memulihkan sebagian pelemahan setelah sempat mencetak rekor harga US$126.080 pada Oktober lalu.