Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi Tahap II Diminati 100 Investor
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) bersiap membuka tahap kedua proses pencarian mitra strategis untuk proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) dalam waktu dekat. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat pembangunan fasilitas pengelolaan sampah modern di berbagai daerah sekaligus mendorong transisi energi bersih nasional.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir mengatakan minat investor terhadap proyek PSEL terus meningkat. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 100 investor telah mendaftarkan diri untuk mengikuti proses seleksi tahap awal.
Menurut Pandu, tingginya antusiasme investor menunjukkan proyek pengolahan sampah menjadi energi memiliki prospek bisnis yang menjanjikan di Indonesia, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan pengelolaan sampah perkotaan dan dorongan terhadap energi baru terbarukan (EBT).
“Jadi kita akan buka nantinya tahap kedua sebentar lagi. Kita akan mencari partner-partner yang terbaik. Sudah hampir 100 lebih yang mendaftar,” ujar Pandu usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) proyek PSEL di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Senin (11/5/2026).
Ia menjelaskan proses lelang proyek masih berlangsung hingga pekan depan sehingga daftar final mitra strategis belum diputuskan. Danantara disebut tengah mengevaluasi sejumlah proposal investasi dan teknologi yang diajukan calon mitra.
Pandu mengungkapkan total nilai investasi seluruh proyek PSEL yang dirancang pemerintah mencapai sekitar USD 5 miliar atau setara lebih dari Rp82 triliun (kurs Rp16.400 per dolar AS). Dana tersebut akan digunakan untuk membangun infrastruktur pengolahan sampah modern di berbagai wilayah Indonesia secara bertahap.
Menurut dia, kebutuhan investasi setiap proyek diperkirakan berada di kisaran USD 150 juta atau hampir Rp2,7 triliun. Nilai tersebut mencakup pembangunan fasilitas utama, teknologi pengolahan sampah, pembangkit listrik, hingga infrastruktur pendukung lainnya.
“Total proyek itu USD 5 miliar untuk semuanya. Kalau per proyek kurang lebih USD 150 juta atau hampir Rp2,7 triliun,” kata Pandu.
Ia menjelaskan total investasi tersebut akan dialokasikan untuk pengembangan 33 proyek PSEL yang tersebar di sejumlah kota besar dan kawasan padat penduduk. Pemerintah menilai proyek-proyek tersebut penting untuk mengatasi persoalan penumpukan sampah nasional yang volumenya terus meningkat setiap tahun.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, timbulan sampah nasional diperkirakan telah melampaui 70 juta ton per tahun. Sebagian besar sampah masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dengan sistem open dumping yang memicu persoalan lingkungan dan emisi gas rumah kaca.
Karena itu, pengembangan PSEL dinilai menjadi salah satu solusi strategis untuk mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan listrik dari proses pengolahan limbah. Teknologi waste-to-energy juga diharapkan dapat membantu pemerintah daerah menekan beban pengelolaan sampah yang selama ini terus meningkat.
Pandu menegaskan pendanaan proyek tidak sepenuhnya ditanggung Danantara. Skema pembiayaan akan melibatkan berbagai mitra strategis, termasuk investor domestik maupun asing, lembaga pembiayaan internasional, serta perusahaan penyedia teknologi pengolahan sampah.
“Kan ada partner juga, ada investor lain yang masuk. Jadi kita memilih sesuai teknologi yang terbaik,” ujarnya.
Ia menambahkan proses seleksi tidak hanya mempertimbangkan besaran investasi, tetapi juga efektivitas teknologi yang ditawarkan. Pemerintah ingin memastikan fasilitas PSEL yang dibangun mampu memenuhi standar lingkungan, efisiensi energi, dan keberlanjutan operasional dalam jangka panjang.
Sejumlah teknologi yang tengah dipertimbangkan antara lain incinerator modern beremisi rendah, gasifikasi, refuse-derived fuel (RDF), hingga teknologi pemanfaatan biogas dari sampah organik. Pemilihan teknologi akan disesuaikan dengan karakteristik sampah di masing-masing daerah.
Pemerintah juga menargetkan proyek-proyek PSEL dapat mempercepat pencapaian target bauran energi baru terbarukan nasional sekaligus mendukung komitmen penurunan emisi karbon. Selain menghasilkan listrik, proyek tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan ekonomi sirkular di sektor pengelolaan limbah.
Dalam beberapa tahun terakhir, proyek PSEL di Indonesia sempat menghadapi berbagai tantangan mulai dari persoalan tarif listrik, kesiapan teknologi, hingga perizinan dan pembiayaan. Namun pemerintah optimistis skema baru yang melibatkan Danantara dan investor strategis dapat mempercepat realisasi proyek-proyek tersebut.
Tahap kedua pencarian mitra yang segera dibuka disebut akan difokuskan untuk memperluas partisipasi investor global dan mempercepat finalisasi proyek prioritas di sejumlah kota besar. Pemerintah berharap konstruksi beberapa proyek awal dapat dimulai dalam waktu dekat setelah proses lelang dan penentuan mitra selesai dilakukan.
0 Comments