Bitcoin Tertekan: Perang Dorong Investor Kabur dari Aset Berisiko

Bitcoin Tertekan: Perang Dorong Investor Kabur dari Aset Berisiko

Investor Tinggalkan Bitcoin dan Saham di Tengah Ketidakpastian

Sejak 28 Februari, saat konflik mulai memanas, pergerakan pasar keuangan global sangat dipengaruhi oleh situasi perang. Dalam sepekan terakhir, bitcoin, indeks S&P 500, Dow Jones, Nasdaq, dan emas sama-sama turun sekitar 5%.

Sebaliknya, harga minyak mentah justru naik 7,3% dalam sepekan. Ini menunjukkan bahwa investor mulai mengalihkan portofolio mereka ke aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian.

Arus Keluar Dana Sangat Besar

Perpindahan dana dari pasar tergolong sangat besar. Menurut laporan Kobeissi Letter, ETF berbasis S&P 500 (SPY) dan Nasdaq 100 (QQQ) mencatat total arus keluar sebesar US$64 miliar dalam tiga bulan terakhir. Ini menjadi rekor penarikan terbesar sepanjang sejarah untuk instrumen tersebut, bahkan melampaui arus masuk US$50 miliar pada November lalu.

ETF bitcoin spot juga ikut terdampak. Meski masih mencatat arus masuk bulanan sebesar US$1,48 miliar, tekanan jual mulai meningkat. Dalam dua hari saja, sekitar US$253 juta keluar dari ETF ini. Sebelumnya, antara November hingga Februari, total arus keluar sudah mencapai US$6,3 miliar.

Tekanan Jual Meningkat, Harga Bitcoin Melemah

Data dari Glassnode menunjukkan pasar kripto saat ini kesulitan menyerap tekanan jual. Aksi ambil untung sempat mencapai US$17 juta per jam, sebelum akhirnya menurun. Seiring itu, harga bitcoin turun hingga di bawah US$70.000.

Analis on-chain menyebut bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik membuat permintaan melemah, sehingga pasar tidak mampu menyerap tekanan jual secara optimal.

Mirip Pola Saat Perang Rusia–Ukraina 2022

Sejumlah pengamat melihat kemiripan dengan kondisi saat invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Saat itu, harga bitcoin sempat turun, lalu rebound sekitar 24% dalam empat minggu, sebelum akhirnya anjlok hingga 64% pada November 2022.

Saat ini, pola serupa mulai terlihat. Bitcoin sempat naik hampir 10% di awal konflik, namun momentum tersebut mulai melemah.

Analis kripto Carlitosway mengidentifikasi tiga faktor utama yang membuat pasar rentan:

  • Likuiditas yang menurun, sehingga daya beli investor melemah
  • Biaya energi yang meningkat, berdampak pada operasional mining
  • Penjualan paksa (forced selling) yang memperbesar tekanan turun

Potensi Stabil di Level Lebih Rendah

Analis kripto Finish memperkirakan harga bitcoin bisa turun hingga sekitar US$55.000 sebelum mengalami pemulihan signifikan.

Menurutnya, selama konflik dengan Iran belum berakhir, bitcoin akan sulit mengalami kenaikan. Saat ini, pasar didominasi oleh sikap risk-off, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko.

Kesimpulan

Bitcoin saat ini berada dalam tekanan akibat kondisi geopolitik global yang tidak menentu. Jika pola tahun 2022 terulang, pemulihan masih mungkin terjadi, namun membutuhkan waktu.

Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan bersabar menghadapi kondisi pasar yang penuh ketidakpastian ini.