Bitcoin Turun di Bawah US$75.000, Likuidasi Kripto Tembus US$1 Miliar
Pasar kripto mengalami tekanan besar pada Kamis, 6 November 2026, setelah harga Bitcoin (BTC) sempat jatuh di bawah US$75.000. Penurunan tajam tersebut memicu gelombang likuidasi posisi perdagangan dengan leverage di berbagai aset kripto, dengan total nilai mencapai lebih dari US$1 miliar dalam 24 jam.
Tekanan pasar terjadi bersamaan dengan aksi jual besar-besaran saham teknologi di Amerika Serikat (AS). Kondisi ini memperburuk sentimen investor dan mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk cryptocurrency.
Likuidasi Kripto Tembus US$1 Miliar, Posisi Long Paling Terdampak
Berdasarkan laporan Decrypt, harga Bitcoin sempat menyentuh US$74.780,91. Level tersebut menjadi harga intraday terendah Bitcoin sejak 21 Agustus 2026.
Saat laporan diterbitkan pada pukul 16.34 UTC, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$75.570.
Dalam periode 24 jam, total likuidasi pasar kripto tercatat mencapai US$1,05 miliar. Sebagian besar berasal dari posisi long atau taruhan bahwa harga aset kripto akan mengalami kenaikan.
Nilai likuidasi posisi long mencapai US$930,04 juta atau sekitar 88,2% dari total likuidasi.
Bitcoin menjadi aset dengan nilai likuidasi terbesar, yakni US$267,20 juta. Sementara itu, Ethereum (ETH) mencatat likuidasi sebesar US$167,14 juta.
Data tersebut menunjukkan bahwa trader yang menggunakan leverage untuk mengambil posisi bullish menjadi kelompok yang paling terdampak ketika harga pasar bergerak berlawanan dengan perkiraan mereka.
Sementara itu, The Block melaporkan total likuidasi mencapai US$1,09 miliar pada 5 November 2026. Peristiwa tersebut diperkirakan berdampak terhadap sekitar 211.000 trader.
Data CoinGlass juga mencatat likuidasi sebesar US$879,92 juta dalam periode empat jam, dengan mayoritas berasal dari posisi long.
Perbedaan angka yang dilaporkan sejumlah penyedia data disebabkan oleh perbedaan periode pengamatan dan metode pengumpulan data.
Penurunan Bitcoin Sejalan dengan Pelemahan Saham Teknologi AS
Tekanan terhadap pasar kripto terjadi ketika pasar saham Amerika Serikat juga mengalami penurunan signifikan.
Pada 5 November 2026, indeks Nasdaq dilaporkan turun 5,5%. Indeks S&P 500 melemah 4,3%, sedangkan Philadelphia Semiconductor Index anjlok hingga 12%.
Pelemahan tersebut dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap besarnya investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), termasuk belanja infrastruktur pusat data.
Kondisi ini turut memengaruhi selera risiko investor di berbagai pasar keuangan.
Bitcoin sebelumnya sempat menguat hingga menembus US$80.000 setelah perkembangan politik di Amerika Serikat. Namun, kenaikan tersebut tidak bertahan lama dan harga BTC kemudian terkoreksi sekitar 6% menuju area US$75.700.
Carlos Guzman dari perusahaan perdagangan kripto GSR menilai penggunaan leverage menjadi salah satu faktor yang memperbesar tekanan penurunan pasar.
Ketika harga Bitcoin melemah, posisi perdagangan yang menggunakan leverage menghadapi risiko likuidasi otomatis. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan jual dan mempercepat penurunan harga.
Meski demikian, belum ada satu faktor tunggal yang dapat dipastikan sebagai penyebab utama koreksi Bitcoin kali ini.
Harga Bitcoin, Ethereum, XRP, dan Solana Terbaru
Data CoinGecko pada 6 November 2026 pukul 21.47 UTC menunjukkan bahwa pasar kripto masih bergerak dalam tekanan setelah Bitcoin menyentuh level terendah hariannya.
Berikut perkembangan sejumlah aset kripto utama:
- Bitcoin (BTC): US$75.743, turun 0,22% dalam 24 jam.
- Ethereum (ETH): US$2.227,97, turun 0,32%.
- XRP: US$1,18, melemah 3,86%.
- Solana (SOL): US$89,95, relatif stabil.
Sementara itu, Crypto Fear & Greed Index berada di angka 28. Angka tersebut menunjukkan bahwa sentimen pasar sedang berada dalam zona ketakutan atau fear.
Indikator ini mencerminkan kehati-hatian investor di tengah meningkatnya volatilitas dan tekanan jual pada aset digital.
Bitcoin Berpotensi Menguji Support US$73.000 dan US$68.000
Trader Wintermute OTC, Jasper De Maere, menilai reli Bitcoin setelah perkembangan politik di Amerika Serikat kehilangan momentumnya dalam waktu relatif singkat.
Menurutnya, inflasi dan ketegangan geopolitik masih menjadi sejumlah faktor risiko yang perlu diperhatikan pelaku pasar.
Wintermute mengidentifikasi level US$73.000 dan US$68.000 sebagai area teknikal penting yang dapat diperhatikan apabila volatilitas Bitcoin berlanjut.
Level tersebut merupakan titik pemantauan teknikal, bukan kepastian bahwa harga Bitcoin akan turun hingga ke area tersebut.
Di sisi lain, lonjakan likuidasi memperlihatkan besarnya risiko perdagangan kripto menggunakan leverage, terutama ketika pasar bergerak berlawanan dengan posisi yang diambil trader.
Likuidasi Posisi Long Menjadi Peringatan bagi Trader Kripto
Lonjakan likuidasi di atas US$1 miliar menjadi pengingat bahwa volatilitas pasar kripto dapat menyebabkan kerugian besar, khususnya bagi trader yang menggunakan leverage tinggi.
Dominasi likuidasi posisi long menunjukkan bahwa banyak pelaku pasar sebelumnya masih mengharapkan kenaikan harga Bitcoin dan aset kripto lainnya.
Namun, ketika harga berbalik turun, posisi tersebut terpaksa ditutup secara otomatis untuk membatasi kerugian.
Perkembangan ini membuat pelaku pasar perlu memperhatikan pergerakan harga, volume perdagangan, tingkat leverage, serta distribusi likuidasi antara posisi long dan short.
Dengan sentimen pasar yang masih berada di zona fear, pergerakan Bitcoin dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi perhatian investor untuk melihat apakah tekanan jual mulai mereda atau justru berlanjut.
0 Comments