XRP Shorts Melonjak 652%, Harga Terancam Turun ke US$1 atau Justru Terjadi Bear Trap?

XRP Shorts Melonjak 652%, Harga Terancam Turun ke US$1 atau Justru Terjadi Bear Trap?

Pasar kripto kembali menghadapi tekanan, dengan XRP menjadi salah satu aset yang menarik perhatian para trader. Posisi short XRP di bursa Bitfinex melonjak tajam hingga 652,89%, mencapai 468,2 juta. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa harga XRP masih berpotensi mengalami penurunan hingga US$1.

Namun, di tengah meningkatnya tekanan jual, sejumlah indikator on-chain justru menunjukkan sinyal berbeda. Akumulasi oleh investor besar atau whale serta berkurangnya pasokan XRP di bursa mengindikasikan kemungkinan terjadinya supply shock.

Situasi tersebut membuat prospek XRP berada di persimpangan. Harga berpotensi melanjutkan penurunan, tetapi meningkatnya posisi short juga membuka peluang terjadinya bear trap yang dapat menjebak para trader yang bertaruh pada pelemahan harga.

Posisi Short XRP di Bitfinex Melonjak 652%

Data menunjukkan posisi short XRP di Bitfinex meningkat sebesar 652,89% menjadi 468,2 juta. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya jumlah trader yang memperkirakan harga XRP akan terus melemah.

Tekanan bearish tersebut tidak terlepas dari kondisi teknikal XRP yang masih menunjukkan pelemahan. Aset kripto ini mencatatkan lima pekan berturut-turut dengan level harga terendah yang semakin menurun.

XRP juga telah menembus level support US$1,20 dan kini mendekati area psikologis US$1.

Selain itu, kinerja XRP terhadap Ethereum (ETH) juga menunjukkan pelemahan. Setelah keluar dari fase konsolidasi selama lima pekan, pasangan perdagangan XRP/ETH turun lebih dari 3% dalam pekan ini.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa XRP kehilangan nilai relatif terhadap Ethereum. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian trader lebih memilih ETH dibandingkan XRP di tengah tren pasar kripto yang melemah.

Berdasarkan indikator teknikal, kemungkinan penurunan XRP menuju US$1 menjadi salah satu skenario yang diperhitungkan pelaku pasar.

Akumulasi Whale dan Arus Keluar XRP dari Bursa

Meski indikator teknikal menunjukkan tekanan bearish, data on-chain memperlihatkan perkembangan yang berbeda.

Pada 5 September, diperkirakan sekitar 13,24 juta XRP keluar dari bursa kripto. Berkurangnya jumlah XRP di bursa dapat membatasi pasokan token yang tersedia untuk diperdagangkan atau dijual.

Pada saat yang sama, kepemilikan XRP oleh whale atau investor besar meningkat hampir 60 juta token dalam sepekan terakhir.

Belum dapat dipastikan apakah token yang dikumpulkan para whale merupakan aset yang sama dengan XRP yang keluar dari bursa. Namun, kedua perkembangan tersebut menunjukkan adanya aktivitas akumulasi di tengah tekanan pasar.

Kondisi ini menjadi perhatian karena berkurangnya pasokan di bursa dapat memengaruhi keseimbangan antara permintaan dan penawaran XRP.

Binance Scarcity Index XRP Capai Level Tertinggi Sejak 2022

Salah satu indikator yang memperkuat potensi perubahan kondisi pasar adalah Binance Scarcity Index XRP.

Indeks tersebut dilaporkan mencapai level tertinggi sejak 2022. Setelah berada di zona negatif selama September dan Oktober, indikator ini mengalami kenaikan tajam dalam beberapa hari terakhir hingga masuk ke wilayah positif.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan pasokan XRP di Binance semakin terbatas.

Dalam kondisi tertentu, berkurangnya pasokan di bursa dapat meningkatkan potensi tekanan kenaikan harga apabila permintaan kembali meningkat.

Hal ini menjadi tantangan bagi trader yang membuka posisi short dengan harapan XRP akan terus turun menuju US$1.

XRP Berpotensi Mengalami Bear Trap

Perbedaan antara indikator teknikal dan data on-chain membuat arah pergerakan XRP semakin sulit dipastikan.

Di satu sisi, pelemahan momentum harga, penurunan terhadap Ethereum, serta lonjakan posisi short menunjukkan bahwa sentimen pasar masih cenderung negatif.

Namun, di sisi lain, arus keluar XRP dari bursa, peningkatan kepemilikan whale, dan kenaikan Binance Scarcity Index mengindikasikan bahwa tekanan jual berpotensi mulai berkurang.

Jika tren akumulasi berlanjut dan pasokan XRP di bursa semakin terbatas, para trader yang mengambil posisi short bisa menghadapi risiko kerugian apabila harga justru berbalik naik.

Situasi tersebut berpotensi memicu short squeeze, yaitu kondisi ketika trader yang bertaruh pada penurunan harga terpaksa menutup posisi mereka dengan membeli kembali aset. Aksi tersebut dapat menambah tekanan beli dan mendorong harga naik lebih cepat.

Meski demikian, potensi bear trap belum dapat dipastikan. Pergerakan harga selanjutnya tetap bergantung pada kondisi pasar, permintaan investor, dan kemampuan XRP mempertahankan level support penting.

Dengan demikian, level US$1 menjadi salah satu area yang perlu diperhatikan trader. XRP saat ini menghadapi pertarungan antara tekanan teknikal bearish dan sinyal akumulasi on-chain yang berpotensi mengubah arah pasar.