Bursa Kripto Bertransformasi Menjadi Gerbang Aset Wall Street
Bursa Kripto Semakin Menjadi Gerbang Distribusi Aset Wall Street
Bursa kripto semakin berkembang menjadi platform distribusi bagi aset-aset Wall Street seiring meningkatnya perdagangan saham tokenisasi (tokenized stocks) dan derivatif real-world assets (RWA) di pasar kripto.
Data CryptoRank menunjukkan bahwa aset tokenisasi menjadi kategori yang paling banyak dicatatkan di bursa kripto terpusat (CEX) pada paruh pertama 2026. Kategori ini menyumbang hampir 20% dari seluruh listing baru, meningkat tajam dari kurang dari 7% pada 2025.
Lonjakan tersebut didorong oleh hadirnya saham tokenisasi melalui platform seperti xStocks, bStocks, dan pasar tokenisasi milik Ondo. Tren ini menandai perubahan strategi bursa kripto setelah selama bertahun-tahun lebih banyak mencatatkan memecoin, token GameFi, dan aset kripto native lainnya.
Perubahan ini terjadi di tengah melemahnya minat investor ritel Amerika Serikat terhadap pasar saham. Berdasarkan data VandaTrack, investor ritel AS hanya membukukan pembelian bersih saham sebesar US$13 miliar dalam sebulan terakhir, level terendah sejak awal pandemi COVID-19 pada 2020.
Pembelian bersih saham turun US$18 miliar atau 58% dibandingkan awal 2026, sementara pembelian saham individual anjlok 71% menjadi US$3,2 miliar.
Meski berasal dari pasar dan kelompok investor yang berbeda, bursa kripto terus memperluas produk berbasis saham untuk memenuhi permintaan pengguna yang menginginkan perdagangan 24 jam, kepemilikan fraksional, dan akses ke pasar tanpa harus menggunakan broker tradisional.
Perdagangan Saham Tokenisasi Terus Bertumbuh
Pertumbuhan pesat perdagangan derivatif menjadi salah satu alasan utama bursa kripto memperluas produk yang terhubung dengan Wall Street.
Menurut data CoinDesk, volume perdagangan perpetual futures berbasis RWA di bursa kripto terpusat melonjak 57% pada Juni menjadi rekor US$311 miliar. Binance mendominasi pasar dengan volume US$245 miliar, atau sekitar 78,6% dari total transaksi.
Kategori ini nyaris tidak memiliki aktivitas pada akhir 2025, namun berkembang pesat sepanjang paruh pertama 2026.
Meningkatnya minat terhadap eksposur aset tradisional melalui kripto juga dipicu oleh penawaran umum perdana (IPO) SpaceX, yang mendorong permintaan investor terhadap instrumen keuangan tradisional melalui infrastruktur kripto.
Perpetual futures memungkinkan trader berspekulasi terhadap harga suatu aset tanpa harus memilikinya secara langsung dan tanpa tanggal kedaluwarsa. Produk ini menjadi salah satu instrumen paling aktif di bursa kripto karena menawarkan leverage dan perdagangan tanpa henti selama 24 jam.
Di luar derivatif, pasar saham tokenisasi juga terus berkembang. Data RWA.xyz menunjukkan nilai pasar saham tokenisasi telah meningkat lebih dari 470% dalam setahun terakhir menjadi sekitar US$1,87 miliar. Sementara itu, volume transfer bulanannya mencapai US$8,4 miliar, menandakan aktivitas yang terus meningkat.
Kraken juga mengungkapkan pada Februari bahwa xStocks telah mencatat total volume transaksi lebih dari US$25 miliar, termasuk transaksi di bursa terpusat, DEX, serta aktivitas minting dan redemption, dengan lebih dari US$3,5 miliar aktivitas on-chain.
Bursa Kripto Mulai Meninggalkan Memecoin
Meningkatnya popularitas aset tokenisasi beriringan dengan melambatnya jumlah listing token baru di bursa.
CryptoRank mencatat bursa kripto besar hanya mencatatkan 351 token pada kuartal II 2026, menjadi jumlah terendah sejak kuartal III 2023. Listing baru turun selama dua kuartal berturut-turut, bahkan menjadi periode kedua sejak awal 2024 ketika jumlah delisting melebihi listing baru.
Setelah aktivitas listing mencapai puncaknya pada 2025 bersamaan dengan rekor harga Bitcoin, bursa kini lebih memilih mencatatkan aset keuangan tradisional dalam bentuk token dibandingkan proyek kripto baru.
Pada kuartal II 2026 saja, bursa menambahkan 42 aset tokenisasi, menjadikannya salah satu kategori terbesar setelah infrastruktur blockchain dan DeFi.
Sebaliknya, kategori yang sempat mendominasi pasar bullish sebelumnya terus kehilangan momentum. Listing memecoin turun selama enam kuartal berturut-turut, dari 196 token pada kuartal IV 2024 menjadi hanya 41 token pada kuartal II 2026 atau turun 79%.
Sementara itu, listing token GameFi merosot 84% dibandingkan puncaknya pada kuartal II 2024, menjadi hanya 15 token pada kuartal II 2026.
Menariknya, tidak satu pun dari 172 aset tokenisasi yang terdaftar pada 2025 dihapus dari bursa hingga pertengahan 2026. Sebagai perbandingan, proyek NFT mencatat tingkat delisting tertinggi sebesar 19%, diikuti GameFi (14%) dan memecoin (11%).
Hal ini menunjukkan bahwa aset tokenisasi memiliki daya tahan yang lebih kuat di bursa dibandingkan kategori kripto lainnya.
Bursa Kripto Masuk ke Wilayah Broker Tradisional
Perbedaan antara melemahnya pembelian saham di AS dan meningkatnya aktivitas saham tokenisasi secara global menunjukkan bahwa cara investor mengakses pasar keuangan mulai berubah.
Bursa kripto kini mampu menggabungkan perdagangan spot, derivatif, aset tokenisasi, dan penyelesaian transaksi menggunakan stablecoin dalam satu platform. Pengguna dapat berpindah antara aset kripto dan aset tradisional tanpa harus memindahkan dana ke akun broker terpisah.
Selain itu, produk tokenisasi dapat diperdagangkan selama 24 jam dan memungkinkan kepemilikan fraksional, sehingga lebih mudah diakses oleh investor global.
Meski demikian, investor perlu memahami bahwa saham tokenisasi tidak selalu memberikan hak yang sama seperti kepemilikan saham secara langsung, seperti hak suara atau hak sebagai pemegang saham. Begitu pula perpetual futures yang memiliki risiko leverage, funding rate, dan likuidasi.
Meski masih menghadapi berbagai pembatasan regulasi di sejumlah negara, data listing dan volume perdagangan menunjukkan bahwa bursa kripto semakin memperluas perannya. Platform yang sebelumnya bersaing mencatatkan token kripto kini juga berlomba menghadirkan produk investasi berbasis saham, komoditas, dan aset keuangan tradisional lainnya dalam ekosistem perdagangan yang beroperasi 24 jam sehari.
0 Comments