Buyback Emas Antam Merosot Rp 42.000 Hari Ini
Harga Emas Antam Turun Lagi, Buyback Anjlok Rp42.000 dalam Sehari
Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali melemah pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Harga emas Antam hari ini turun Rp20.000 per gram, melanjutkan penurunan pada perdagangan Senin yang juga mencapai Rp20.000 per gram.
Dengan demikian, dalam dua hari terakhir harga emas Antam telah terkoreksi sebesar Rp40.000 per gram. Penurunan ini terjadi seiring pelemahan harga emas global yang tertekan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang tetap tinggi.
Berdasarkan data terbaru dari situs resmi Logam Mulia, Selasa (14/7/2026), harga emas Antam dipatok sebesar Rp2.615.000 per gram, turun dari posisi sebelumnya di Rp2.635.000 per gram.
Sementara itu, harga jual kembali (buyback) mengalami penurunan yang lebih tajam. Harga buyback emas Antam turun Rp42.000 menjadi Rp2.352.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.394.000 per gram.
Harga buyback merupakan harga yang berlaku apabila pemilik emas menjual kembali logam mulianya kepada Antam. Besaran harga buyback menjadi salah satu acuan penting bagi investor yang ingin merealisasikan keuntungan atau mengurangi kepemilikan emas.
Meski terkoreksi dalam dua hari terakhir, harga emas Antam masih berada di level yang relatif tinggi jika dibandingkan dengan posisi pada awal tahun 2026. Sepanjang tahun ini, harga emas domestik sempat mencatat reli signifikan seiring meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sebagai catatan historis, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 29 Januari 2026, ketika mencapai Rp3.168.000 per gram, dengan harga buyback di level Rp2.989.000 per gram.
Informasi mengenai harga emas tersebut bersumber langsung dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk, sehingga menjadi acuan resmi bagi masyarakat maupun pelaku investasi emas fisik di Indonesia.
Selain dipengaruhi oleh harga emas dunia, harga emas Antam juga dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya pengolahan, serta permintaan pasar domestik. Perubahan harga dapat terjadi setiap hari mengikuti perkembangan pasar global.
Bagi investor jangka panjang, koreksi harga seperti saat ini umumnya menjadi perhatian karena dapat dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi. Namun, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan profil risiko, tujuan investasi, serta kondisi ekonomi global yang masih dinamis.
Daftar Harga Emas Antam Hari Ini
Berikut rincian harga emas batangan Antam sebelum dikenakan pajak:
- 0,5 gram: Rp1.357.500
- 1 gram: Rp2.615.000
- 2 gram: Rp5.170.000
- 3 gram: Rp7.730.000
- 5 gram: Rp12.850.000
- 10 gram: Rp25.645.000
- 25 gram: Rp63.987.000
- 50 gram: Rp127.895.000
- 100 gram: Rp255.712.000
- 250 gram: Rp639.015.000
- 500 gram: Rp1.277.820.000
- 1.000 gram (1 kg): Rp2.555.600.000
Harga Emas Dunia Turun Lebih dari 3%
Di pasar global, harga emas juga mengalami tekanan cukup besar. Harga emas dunia turun sekitar 3% pada perdagangan Senin setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran.
Kebijakan tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia, meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global, sekaligus memperbesar peluang Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Mengutip CNBC, Selasa (14/7/2026), harga emas spot turun 3,1% menjadi US$3.991,56 per troy ounce, memperpanjang pelemahan menjadi dua hari berturut-turut. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup melemah 2,6% ke level US$4.005,70 per troy ounce.
Analis pasar Forex.com, Fawad Razaqzada, mengatakan lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan emas.
“Harga minyak melonjak karena konflik di Timur Tengah, dan ada potensi pengetatan kebijakan dari Federal Reserve. Ini merupakan kabar buruk bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas,” ujarnya.
Menurutnya, selama harga minyak tetap tinggi dan ekspektasi suku bunga AS tidak berubah, ruang pemulihan harga emas masih terbatas.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga terus mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, termasuk inflasi dan pasar tenaga kerja. Apabila inflasi kembali menunjukkan kenaikan akibat lonjakan harga energi, peluang The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat akan semakin besar.
Suku bunga yang tinggi biasanya memperkuat dolar AS dan meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen investasi berbunga.
Berpotensi Menuju US$3.500
Razaqzada memperkirakan harga emas masih berpotensi turun lebih dalam apabila tekanan jual terus berlanjut.
“Jika harga minyak terus naik, harga emas berpotensi menembus level yang lebih rendah. Pada tahap awal bisa menuju US$3.800, bahkan dalam jangka waktu tertentu dapat turun hingga US$3.500 apabila tekanan jual semakin meningkat,” katanya.
Sentimen negatif tersebut dipicu pernyataan Donald Trump yang menyebut Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran. Trump juga mengatakan AS akan memperoleh kompensasi sebesar 20% dari seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz setelah Teheran mengklaim telah menutup jalur pelayaran strategis tersebut.
Pengumuman tersebut langsung mendorong harga minyak dunia melonjak sekitar 5%, memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya energi, logistik, dan transportasi sehingga memicu inflasi yang lebih tinggi. Jika tekanan inflasi meningkat, bank-bank sentral utama, terutama Federal Reserve, berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkannya. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang saat ini membebani pergerakan harga emas di pasar internasional maupun domestik.
0 Comments