Cabai Rawit Merah Tembus Rp 60.700 per Kg, Simak Update Harga Pangan Hari Ini
Harga pangan nasional masih menunjukkan tekanan pada sejumlah komoditas utama. Harga cabai rawit merah tercatat mencapai Rp 60.700 per kilogram (kg) pada Jumat pagi (10/7/2026) pukul 06.21 WIB. Sementara itu, harga telur ayam ras berada di level Rp 29.000 per kg.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikutip dari Antara, lonjakan harga cabai masih menjadi perhatian karena dipengaruhi pasokan yang belum sepenuhnya pulih di sejumlah daerah sentra produksi. Kondisi cuaca yang tidak menentu dalam beberapa pekan terakhir turut memengaruhi hasil panen sehingga pasokan ke pasar berkurang.
Selain cabai rawit merah, harga cabai merah besar tercatat sebesar Rp 49.000 per kg, cabai merah keriting Rp 49.300 per kg, dan cabai rawit hijau mencapai Rp 50.450 per kg.
Untuk komoditas lainnya, harga bawang merah berada di level Rp 45.800 per kg, sedangkan bawang putih dijual Rp 44.350 per kg.
Di kelompok beras, harga beras kualitas bawah I tercatat Rp 14.700 per kg dan kualitas bawah II sebesar Rp 14.550 per kg. Beras kualitas medium I dipatok Rp 16.350 per kg dan medium II Rp 16.150 per kg.
Sementara itu, harga beras kualitas super I mencapai Rp 17.650 per kg dan kualitas super II sebesar Rp 17.150 per kg.
Untuk sumber protein, harga daging ayam ras segar berada di level Rp 36.800 per kg. Daging sapi kualitas I dijual Rp 150.450 per kg, sedangkan kualitas II mencapai Rp 141.650 per kg.
Komoditas lainnya menunjukkan harga gula pasir premium sebesar Rp 20.300 per kg dan gula pasir lokal Rp 19.100 per kg.
Di sisi minyak goreng, minyak goreng curah diperdagangkan seharga Rp 20.550 per liter. Sementara minyak goreng kemasan bermerek I mencapai Rp 24.250 per liter dan kemasan bermerek II sebesar Rp 23.400 per liter.
Cabai Masih Jadi Penyumbang Utama Inflasi Pangan
Kenaikan harga cabai dalam beberapa pekan terakhir sejalan dengan tingginya tekanan inflasi pada kelompok volatile food atau komponen harga pangan yang bergejolak. Komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang memang cenderung mengalami fluktuasi akibat faktor cuaca, musim tanam, hingga distribusi.
Analis menilai, apabila pasokan dari daerah sentra seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur mulai meningkat setelah masa panen berlangsung, harga cabai berpotensi kembali turun secara bertahap dalam beberapa pekan mendatang. Pemerintah bersama Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), termasuk menjaga kelancaran distribusi pangan antarwilayah.
Selain itu, pemerintah terus memanfaatkan program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), operasi pasar, serta kerja sama antardaerah untuk menjaga ketersediaan stok dan menekan lonjakan harga komoditas strategis.
Purbaya: Inflasi Juni 2026 Dipicu BBM dan Pangan
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan tekanan inflasi tersebut akan mulai mereda dalam beberapa bulan ke depan.
Menurutnya, kenaikan inflasi saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh komoditas yang bersifat fluktuatif seperti bahan bakar minyak (BBM) dan sejumlah bahan pangan, bukan karena meningkatnya daya beli masyarakat.
Purbaya menjelaskan bahwa harga komoditas musiman, terutama cabai dan beberapa bahan pangan lainnya, umumnya akan kembali normal ketika pasokan membaik. Di sisi lain, penurunan harga minyak dunia diperkirakan akan membuka ruang bagi penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.
“Tapi sama ada cabai, dan lain-lain gitu kan, barang-barang itu. Itu kan (komoditas) musiman. Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak ini kan udah turun, harga Pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia. Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang,” kata Purbaya.
Ia juga menegaskan bahwa kondisi inflasi saat ini belum menunjukkan adanya lonjakan permintaan masyarakat. Hal itu tercermin dari inflasi inti (core inflation) yang masih berada di level 2,76 persen, sehingga tekanan harga dinilai masih terkendali.
“Basically begitu, kita lihat core inflation-nya 2,76 persen. Core inflation-nya masih relatif terkendali,” ujarnya.
Kenaikan Harga Dinilai Bersifat Sementara
Purbaya menilai stabilnya inflasi inti menjadi indikator bahwa kenaikan harga saat ini bersifat sementara dan lebih dipengaruhi faktor pasokan dibandingkan permintaan.
“Jadi itu karena harga yang fluktuatif saja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan, karena core-nya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat,” jelasnya.
Data BPS menunjukkan inflasi bulanan (month-to-month/mtm) pada Juni 2026 sebesar 0,44 persen. Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan inflasi 2,29 persen dan memberikan andil 0,28 persen terhadap inflasi nasional.
Kenaikan harga bensin menjadi penyumbang utama inflasi kelompok transportasi dengan andil 0,21 persen, diikuti tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen serta pelumas atau oli mesin sebesar 0,01 persen.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai perkembangan harga pangan pada Juli 2026 mengingat komoditas hortikultura masih rentan terhadap gangguan cuaca dan distribusi. Stabilitas pasokan dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran dan mempertahankan daya beli masyarakat sepanjang paruh kedua tahun ini.
0 Comments