Harga Emas Perhiasan Hari Ini, 9 Juli 2026: Simak Update Terbarunya

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, 9 Juli 2026: Simak Update Terbarunya

Harga emas dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Jumat (10/7/2026), tetapi masih berada di jalur pelemahan secara mingguan. Penguatan yang terbatas terjadi setelah dolar Amerika Serikat (AS) melemah ke level terendah dalam sepekan, sehingga membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Namun, sentimen pasar masih dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran serta ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut membuat investor cenderung berhati-hati sehingga kenaikan harga emas belum mampu berlanjut secara signifikan. Lalu bagaimana harga emas perhiasan di Raja Emas dan Laku Emas pada Jumat pekan ini?

Mengutip CNBC, harga emas spot naik 0,2% menjadi US$4.128,92 per ons pada pukul 03.03 GMT. Meski demikian, logam mulia tersebut masih mengarah pada penurunan mingguan lebih dari 1%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus bergerak stabil di US$4.139,50 per ons.

Pelemahan indeks dolar AS ke level terendah dalam satu minggu menjadi salah satu faktor yang menopang harga emas. Ketika dolar melemah, harga emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih terjangkau bagi investor global, sehingga berpotensi meningkatkan permintaan.

Kepala Analis KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan pasar emas saat ini masih bergerak dalam fase konsolidasi setelah reli pada sesi sebelumnya.

“Emas berada dalam mode konsolidasi setelah kenaikan kemarin, dengan para pelaku pasar masih enggan mengambil posisi besar di tengah ketidakpastian hubungan AS dan Iran,” ujar Waterer.

Di sisi lain, konflik geopolitik masih menjadi perhatian utama investor. Harga minyak dunia mencatat kenaikan mingguan setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan. Militer Iran dilaporkan menyerang sejumlah infrastruktur militer AS di kawasan Teluk sebagai respons atas serangan AS di wilayah pesisir selatan dan timur Iran.

Memanasnya konflik tersebut memicu kekhawatiran bahwa harga energi akan terus meningkat dan mendorong inflasi global kembali naik. Jika tekanan inflasi bertahan, bank sentral AS diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan kembali menaikkan suku bunga.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan September kini mencapai sekitar 64%, meningkat dari sekitar 54% pada pekan sebelumnya. Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi kenaikan harga emas.

Emas Masih Menjadi Safe Haven

Meski suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven masih tetap bertahan di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.

Waterer menilai emas masih berpotensi mendapat dukungan apabila terjadi koreksi harga.

“Saya memperkirakan emas akan terus menarik pembeli saat terjadi penurunan selama harga minyak tetap berada di sekitar level saat ini. Namun, lonjakan tajam harga minyak dapat memicu kembali kekhawatiran inflasi dan suku bunga yang pada akhirnya menjadi tekanan bagi emas,” katanya.

Sementara itu, risalah rapat Federal Reserve bulan Juni yang dirilis awal pekan ini menunjukkan para pembuat kebijakan masih mengkhawatirkan inflasi yang bertahan di atas target bank sentral. Hal tersebut memperkuat pandangan bahwa pelonggaran kebijakan moneter kemungkinan akan berlangsung lebih lambat dari perkiraan pasar.

Selain kebijakan moneter, investor juga mencermati perkembangan data ekonomi AS, termasuk inflasi, pasar tenaga kerja, dan belanja konsumen, yang akan menjadi acuan penting bagi arah kebijakan The Fed pada paruh kedua 2026. Data-data tersebut diperkirakan akan memengaruhi pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta harga emas dalam jangka pendek.

Di sisi lain, lembaga keuangan HSBC pada Kamis memangkas proyeksi rata-rata harga emas untuk 2026 dan 2027. Revisi tersebut didasarkan pada ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat, penguatan dolar AS dalam jangka menengah, serta tingginya imbal hasil obligasi yang berpotensi mengurangi minat investor terhadap logam mulia.

Meski demikian, sejumlah analis menilai ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, pembelian emas oleh bank-bank sentral dunia, serta meningkatnya permintaan aset lindung nilai masih dapat memberikan penopang bagi harga emas apabila gejolak global kembali meningkat.