CFTC Soroti Peretasan Binance Senilai US$6,4 Miliar, Desak Regulasi Ketat untuk Bursa Kripto
Ketua Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Amerika Serikat, Michael Selig, menilai peretasan Binance senilai US$6,4 miliar menjadi bukti pentingnya pengawasan regulasi terhadap bursa kripto yang beroperasi di luar negeri atau offshore.
Dalam wawancara dengan CNBC, Selig mengatakan insiden tersebut memperkuat alasan pemerintah AS untuk segera membentuk aturan federal yang mengatur pasar aset digital. Menurutnya, platform perdagangan kripto offshore belum memiliki perlindungan keamanan sekuat lembaga keuangan yang beroperasi di bawah regulasi Amerika Serikat.
Selig menilai bursa kripto perlu diberikan jalur resmi untuk mendaftarkan diri ke CFTC. Dengan demikian, platform tersebut dapat diwajibkan memenuhi standar keamanan siber dan perlindungan konsumen yang berlaku di pasar keuangan tradisional AS.
Peretasan Binance Perkuat Desakan Regulasi Kripto
Selig menyebut insiden peretasan Binance sebagai bukti nyata atas kekhawatiran regulator terhadap keamanan industri kripto.
Ia menegaskan bahwa bursa yang beroperasi tanpa pengawasan memadai memiliki risiko lebih besar menghadapi serangan siber canggih. Karena itu, CFTC mendorong pembentukan kerangka regulasi federal agar aktivitas perdagangan aset digital dapat diawasi dengan standar yang lebih jelas.
CFTC merupakan lembaga pemerintah AS yang bertugas mengawasi pasar derivatif dan komoditas, termasuk sejumlah aktivitas yang berkaitan dengan aset kripto.
Melalui usulan tersebut, CFTC ingin memberikan kesempatan kepada platform perdagangan aset digital untuk mendaftar dan beroperasi sesuai ketentuan federal Amerika Serikat.
Kronologi dan Penyebab Peretasan Binance
Laporan awal menyebutkan bahwa serangan terhadap Binance diduga bermula dari laptop milik seorang insinyur DevOps yang telah diretas.
Namun, CEO Binance Richard Teng kemudian menjelaskan bahwa insiden tersebut melibatkan sejumlah titik kerentanan tambahan dan tidak hanya berkaitan dengan akses milik satu karyawan.
Serangan tersebut memanfaatkan fitur Ethereum Improvement Proposal 7702 (EIP-7702). Melalui mekanisme ini, penyerang mengubah hot wallet Binance menjadi sweeper contract dengan memanfaatkan 50 otorisasi yang telah ditandatangani sebelumnya.
Akibatnya, sejumlah besar aset kripto berhasil dikuras oleh pelaku.
Meski demikian, serangan tersebut tidak disebabkan oleh kerentanan langsung pada jaringan Ethereum maupun protokol blockchain lainnya.
Perusahaan analisis blockchain TRM Labs menyatakan bahwa insiden tersebut lebih mengarah pada kompromi infrastruktur penandatanganan transaksi Binance dibandingkan kelemahan pada protokol blockchain.
Transparansi Blockchain Membantu Pelacakan Dana
Di tengah upaya pelaku menyamarkan transaksi menggunakan layanan seperti Tornado Cash, Selig menilai transparansi blockchain tetap menjadi salah satu instrumen penting dalam pengawasan aktivitas ilegal.
Menurutnya, transaksi yang tercatat secara on-chain memungkinkan aparat penegak hukum dan regulator menelusuri pergerakan aset digital.
Kemampuan tersebut dinilai dapat membantu proses investigasi, meskipun pelaku menggunakan teknologi tertentu untuk menyamarkan identitas maupun aliran dana hasil kejahatan.
CFTC Dorong Aturan Baru untuk Pasar Aset Digital
CFTC saat ini tengah melanjutkan proses penyusunan regulasi baru untuk industri kripto. Lembaga tersebut telah mengajukan sejumlah rekomendasi reformasi kepada Gedung Putih.
Usulan tersebut mencakup pengaturan kontrak berbasis peristiwa tertentu sebagai swap serta perluasan kewenangan federal terhadap platform perdagangan aset digital.
Langkah ini juga berlangsung di tengah kebuntuan pembahasan Clarity Act di Senat AS.
Peretasan Binance menjadi salah satu peristiwa yang memperkuat urgensi pembahasan mengenai pengawasan dan keamanan industri kripto di Amerika Serikat.
Binance Siapkan Dana untuk Menutup Kerugian Pengguna
Menanggapi insiden tersebut, Binance mengalokasikan dana sebesar US$6,34 miliar untuk menutupi kerugian pengguna. Bursa kripto itu juga menyatakan bahwa aset milik pelanggan tetap aman.
Sejumlah lembaga penegak hukum AS, termasuk Secret Service dan Federal Bureau of Investigation (FBI), telah memulai penyelidikan terkait serangan tersebut.
Sementara itu, perusahaan intelijen blockchain TRM Labs dan Chainalysis mengaitkan peretasan tersebut dengan kelompok peretas asal Korea Utara yang dikenal sebagai TraderTraitor.
Kelompok tersebut diketahui memiliki rekam jejak serangan siber berskala besar yang menargetkan industri mata uang kripto.
Kasus Binance kini tidak hanya menjadi perhatian terkait keamanan aset digital, tetapi juga memperkuat perdebatan mengenai perlunya pengawasan lintas negara, standar keamanan siber, dan regulasi yang lebih jelas bagi bursa kripto global.
0 Comments