Menperin Minta Bulog Jual Beras Pecah Murah ke Industri, Harga Lokal Dua Kali Lipat dari Impor

Menperin Minta Bulog Jual Beras Pecah Murah ke Industri, Harga Lokal Dua Kali Lipat dari Impor

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji berharap Perum Bulog dapat menyediakan beras pecah (broken rice) dengan harga lebih murah bagi pelaku industri pengolahan makanan dalam negeri. Langkah ini dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri, khususnya pabrik bihun, sekaligus mengoptimalkan stok beras nasional.

Sarmuji menyoroti tingginya perbedaan harga antara beras pecah impor dan produk lokal. Di pasar internasional, harga beras pecah berkisar Rp5.700 hingga Rp6.000 per kilogram. Sementara itu, harga beras pecah di dalam negeri mencapai sekitar Rp11.000 per kilogram.

Menurutnya, selisih harga tersebut membuat industri pengolahan makanan menghadapi tekanan biaya produksi. Bahkan, pelaku industri berpotensi memilih bahan baku impor karena dinilai lebih ekonomis.

“Pabrik bihun kita, misalnya, sangat membutuhkan bahan baku beras pecah. Di pasar internasional, harganya berkisar Rp5.700 hingga Rp6.000 per kilogram. Namun di dalam negeri, harganya dipatok Rp11.000. Tentu ada selisih yang sangat tinggi,” ungkap Sarmuji dalam Rapimnas Kadin Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Menperin Koordinasi dengan Kementerian Terkait

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Sarmuji mengaku telah berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Perdagangan Budi Santoso, dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Pemerintah tengah menjajaki kemungkinan penerapan skema harga khusus agar industri pengolahan makanan dapat memperoleh beras pecah lokal dengan harga yang lebih kompetitif.

Sarmuji menilai kebijakan tersebut dapat menjadi solusi bagi kebutuhan bahan baku industri tanpa harus meningkatkan ketergantungan terhadap impor.

Ia juga mengingatkan bahwa penumpukan stok beras di gudang Bulog berpotensi menimbulkan persoalan apabila tidak diimbangi dengan penyerapan pasar. Beras yang disimpan terlalu lama dapat mengalami penurunan kualitas sehingga nilai ekonominya ikut berkurang.

“Tentu riskan jika kita memilih impor sementara status kita swasembada pangan dan gudang Bulog penuh. Jika beras Bulog terus menumpuk karena pasokan lebih tinggi dibanding permintaan, nilainya berisiko turun, bahkan bisa mendekati nol,” jelasnya.

Karena itu, pemerintah diharapkan dapat mempertemukan kepentingan industri dengan pengelolaan stok pangan nasional melalui kebijakan harga yang sesuai.

Stok Beras Nasional Capai 25 Juta Ton

Di tengah pembahasan harga beras pecah untuk industri, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya mengklaim stok beras nasional mencapai 25 juta ton. Angka tersebut disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah.

Dengan konsumsi beras nasional rata-rata sekitar 2,5 juta ton per bulan, Amran memperkirakan persediaan tersebut mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri hingga Juli 2027 tanpa perlu melakukan impor beras.

Ia memastikan ketersediaan beras nasional masih aman meskipun Indonesia menghadapi potensi ancaman fenomena El Nino.

Dari total 25 juta ton tersebut, sekitar 10 juta ton berasal dari standing crop atau tanaman padi yang masih berada di lahan. Kemudian, sekitar 10 juta ton berada di sektor rumah tangga serta hotel, restoran, dan katering (horeka).

Sementara itu, sekitar 4,5 juta ton lainnya tersimpan di gudang Perum Bulog.

“InsyaAllah stok kita aman sampai bulan Juli. Stok saat ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah,” ujar Amran setelah rapat koordinasi ketahanan pangan di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Pemerintah Jaga Swasembada Beras Tanpa Impor

Amran menambahkan, Indonesia telah mempertahankan capaian swasembada beras selama dua tahun berturut-turut tanpa melakukan impor beras.

Menurutnya, keberhasilan menjaga produksi beras nasional didukung sejumlah program pemerintah untuk meningkatkan produktivitas pertanian, terutama di tengah tantangan cuaca ekstrem.

Program tersebut meliputi percepatan pompanisasi, optimalisasi lahan (oplah), perbaikan jaringan irigasi, serta penggunaan benih yang memiliki ketahanan terhadap kondisi kering.

Dengan stok beras nasional yang diklaim melimpah, pemerintah kini menghadapi tantangan untuk memastikan hasil produksi dalam negeri dapat terserap secara optimal.

Salah satu upaya yang tengah dijajaki adalah menyediakan beras pecah lokal dengan harga kompetitif bagi industri pengolahan makanan. Jika skema tersebut dapat direalisasikan, kebutuhan bahan baku industri diharapkan terpenuhi sekaligus membantu mengurangi penumpukan stok beras di gudang Bulog.