Tekanan Likuiditas Menguji Strategi Treasury Bitcoin, Jual atau Pertahankan BTC?

Tekanan Likuiditas Menguji Strategi Treasury Bitcoin, Jual atau Pertahankan BTC?

Perusahaan Treasury Bitcoin Hadapi Dilema Baru: Jual BTC atau Pinjam Dana?

Penjualan bitcoin oleh Strategy baru-baru ini menarik perhatian pasar, bukan karena jumlahnya yang besar, tetapi karena menyoroti tantangan yang kini dihadapi semakin banyak perusahaan pemegang bitcoin sebagai aset treasury.

Strategy masih menjadi perusahaan publik dengan kepemilikan bitcoin terbesar di dunia. Karena itu, bahkan penjualan BTC dalam jumlah kecil sekalipun dapat menjadi perhatian investor yang memantau strategi perusahaan-perusahaan treasury bitcoin.

Fokus pasar kini tidak hanya pada akumulasi bitcoin, tetapi juga pada bagaimana perusahaan memperoleh likuiditas untuk membayar dividen, bunga utang, dan berbagai kewajiban lainnya tanpa harus mengurangi kepemilikan BTC mereka.

CEO dan salah satu pendiri platform pinjaman berbasis bitcoin Ledn, Adam Reeds, menilai langkah Strategy mencerminkan pertanyaan yang harus dijawab oleh banyak perusahaan treasury bitcoin saat ini.

“Ketika membutuhkan dana tunai, apakah perusahaan akan menjual aset yang ingin mereka pertahankan dalam jangka panjang, atau meminjam dana dengan menjadikan bitcoin sebagai jaminan?” ujar Reeds.

Menurutnya, selama bertahun-tahun menjual bitcoin menjadi satu-satunya pilihan yang realistis karena belum banyak tersedia fasilitas pinjaman yang memenuhi standar keamanan dan kepercayaan institusi.

Setelah gejolak pasar kripto pada 2022, banyak pengelola treasury enggan menjaminkan bitcoin kepada pemberi pinjaman yang berpotensi menggunakan kembali aset jaminan tersebut (rehypothecation). Namun, Reeds menilai kondisi tersebut kini mulai berubah seiring hadirnya layanan kredit berbasis bitcoin yang lebih transparan dan aman.

Penjualan 32 BTC Soroti Kebutuhan Likuiditas Strategy

Dalam dokumen yang diajukan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) pada 1 Juni, Strategy mengungkapkan telah menjual 32 BTC senilai sekitar US$2,5 juta.

Dana hasil penjualan tersebut diperkirakan akan digunakan untuk mendanai pembayaran dividen saham preferen perusahaan.

Meski demikian, jumlah tersebut tergolong sangat kecil dibandingkan total kepemilikan bitcoin Strategy yang mencapai 843.706 BTC. Namun, transaksi ini tetap menarik perhatian karena Strategy selama ini dikenal sebagai perusahaan yang konsisten mengakumulasi bitcoin di bawah kepemimpinan Executive Chairman Michael Saylor.

Dokumen tersebut menunjukkan bahwa Strategy menjual BTC pada periode 26 hingga 31 Mei dengan harga rata-rata US$77.135 per bitcoin. Pada periode yang sama, perusahaan juga menjual 801.994 saham MSTR dan memperoleh dana bersih sekitar US$128,3 juta.

Strategy juga melaporkan memiliki cadangan kas sebesar US$900 juta yang dialokasikan untuk pembayaran dividen saham preferen dan bunga utang. Selain itu, perusahaan mempertahankan tingkat dividen tahunan STRC sebesar 11,5% serta menetapkan dividen tunai sebesar US$0,9583 per saham STRC untuk bulan Juni.

Menurut Reeds, fasilitas kredit berbasis bitcoin yang ditujukan untuk investor institusional kini menawarkan berbagai jaminan yang sebelumnya sulit ditemukan, termasuk penyimpanan jaminan di alamat terpisah, kebijakan tanpa rehypothecation, bukti cadangan aset (proof of reserves), serta struktur pengelolaan yang lebih terjamin.

Ia menilai semakin berkembangnya pengelolaan treasury bitcoin akan membuat penjualan BTC bukan lagi menjadi pilihan utama saat perusahaan membutuhkan likuiditas.

Kehadiran saham preferen STRC juga membuat perencanaan likuiditas menjadi semakin penting bagi Strategy. Perusahaan kini harus menyeimbangkan antara pembayaran dividen, penerbitan saham baru, cadangan kas, dan eksposur terhadap bitcoin.

Dengan kapasitas penerbitan STRC yang masih tersisa sekitar US$17,51 miliar, investor akan terus memantau bagaimana Strategy mengelola keseimbangan antara kebutuhan pendanaan dan strategi akumulasi bitcoin jangka panjangnya.