Likuidasi Kripto Sentuh US$1,6 Miliar, ETH, SOL, dan DOGE Terperosok 9%

Likuidasi Kripto Sentuh US$1,6 Miliar, ETH, SOL, dan DOGE Terperosok 9%

Para trader kripto yang berharap pasar aset digital mengikuti reli pasar saham global justru harus menghadapi kenyataan pahit pada Rabu. Penurunan tajam harga kripto memicu gelombang likuidasi terbesar sejak awal Februari.

Berdasarkan data CoinGlass, sekitar US$1,84 miliar posisi leverage di pasar kripto dilikuidasi dalam 24 jam terakhir setelah Bitcoin (BTC) anjlok ke bawah US$66.000 dan Ether (ETH) turun menembus level US$1.900.

Likuidasi merupakan proses ketika bursa secara otomatis menutup posisi leverage milik trader karena kerugian yang terjadi telah melampaui margin atau dana jaminan yang disetorkan. Posisi long adalah taruhan bahwa harga akan naik, sedangkan posisi short merupakan taruhan bahwa harga akan turun.

Dari total likuidasi tersebut, posisi long menyumbang sekitar US$1,66 miliar, sementara posisi short hanya sekitar US$180 juta. Hal ini menunjukkan sebagian besar trader yang terdampak adalah mereka yang masih bertaruh pada kenaikan harga.

Bitcoin mencatat likuidasi posisi long terbesar dengan nilai mencapai US$883,66 juta. Ether menyusul dengan likuidasi sebesar US$475,73 juta, sementara Solana (SOL) mencatat US$91,18 juta. Sisanya tersebar pada sejumlah aset kripto lain seperti HYPE, Dogecoin (DOGE), Sui (SUI), BNB, Near Protocol (NEAR), Aave (AAVE), dan Chainlink (LINK).

Likuidasi tunggal terbesar terjadi pada pasangan perdagangan BTC-USDT di bursa HTX dengan nilai mencapai US$59,67 juta.

Dari sisi bursa, Binance menjadi penyumbang likuidasi terbesar dengan total sekitar US$748 juta atau sekitar 41% dari seluruh likuidasi pasar. Sebanyak 89% dari posisi yang dilikuidasi di platform tersebut merupakan posisi long. Hyperliquid mencatat likuidasi sekitar US$314 juta dengan 94% berasal dari posisi long, sementara Bybit membukukan likuidasi US$247 juta dengan 93% posisi long

Di tengah aksi jual besar-besaran tersebut, open interest Bitcoin atau total nilai kontrak futures yang masih terbuka justru meningkat. Jumlah kontrak naik dari sekitar 759.000 BTC menjadi 788.600 BTC.

Kenaikan open interest saat harga sedang turun sering dianggap sebagai sinyal munculnya posisi short baru. Dengan kata lain, sebagian pelaku pasar mulai menambah taruhan bahwa harga Bitcoin masih berpotensi turun lebih dalam, bukan sekadar menutup posisi lama.

Sementara itu, trader ritel di Binance, OKX, dan Bybit masih cenderung mempertahankan pandangan bullish dengan rasio long-short masing-masing sebesar 2,22; 2,01; dan 1,58. Sebaliknya, investor besar atau whale di OKX justru berbalik menjadi bearish dengan rasio long-short sebesar 0,54.

Data volume perdagangan juga menunjukkan tekanan jual masih mendominasi. Total volume penjualan mencapai US$65,39 miliar, lebih tinggi dibandingkan volume pembelian yang tercatat sebesar US$60,16 miliar.

Kombinasi kenaikan open interest, dominasi posisi long di kalangan trader ritel, serta meningkatnya posisi short dari investor besar menunjukkan pasar kripto kemungkinan belum menemukan titik keseimbangan. Jika Bitcoin kembali menembus level US$65.000 ke bawah, maka area US$60.000 berpotensi menjadi target penurunan berikutnya. Namun jika mampu bertahan di atas level tersebut, peluang terjadinya rebound jangka pendek masih terbuka meski saat ini sentimen pasar cenderung mengarah pada skenario bearish.