Emas Tertekan Lagi, Spekulasi Kebijakan The Fed Picu Pelemahan

Emas Tertekan Lagi, Spekulasi Kebijakan The Fed Picu Pelemahan

Harga emas dunia kembali bergerak melemah pada perdagangan Jumat (22/5/2026) dan berpotensi mencatat penurunan mingguan kedua secara berturut-turut. Tekanan terhadap logam mulia datang dari kombinasi penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak mentah, hingga meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi lebih lama.

Mengutip CNBC, Sabtu (23/5/2026), harga emas spot turun 0,9% ke posisi USD 4.502,59 per ons troi setelah sempat tergelincir lebih dari 1% pada awal sesi perdagangan. Dalam sepekan terakhir, harga emas telah terkoreksi sekitar 0,8%, menandakan pasar masih berada dalam fase konsolidasi setelah reli tajam beberapa bulan terakhir.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni juga turun 0,9% ke level USD 4.502,70 per ons troi. Penurunan ini memperpanjang tekanan yang sudah terjadi sejak awal pekan ketika investor mulai mengalihkan dana ke aset berbasis dolar dan obligasi pemerintah AS.

Analis StoneX, Rhona O'Connell, mengatakan perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia.

Menurutnya, pasar saat ini sangat sensitif terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Jika konflik atau ketegangan meningkat di kawasan tersebut, harga minyak berpotensi naik lebih tinggi dan memicu inflasi global kembali memanas.

“Pelaku pasar saat ini seperti kelinci yang terpaku pada sorotan lampu kendaraan, fokus pada Hormuz dan potensi gangguan rantai pasokan secara luas, yang pada akhirnya memicu kekhawatiran inflasi dan potensi kenaikan suku bunga,” ujar O'Connell.

Kenaikan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya keraguan investor terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran. Negosiasi yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir dinilai belum menghasilkan perkembangan signifikan sehingga pasar mulai memperhitungkan risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga menjadi tekanan utama bagi harga emas. Indeks dolar tercatat masih bertahan di dekat level tertinggi enam pekan terakhir setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan kondisi ekonomi yang masih cukup kuat.

Penguatan dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut biasanya menekan permintaan emas global, terutama dari pasar Asia yang selama ini menjadi salah satu konsumen terbesar logam mulia.

Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga tetap berada di level tinggi. Yield obligasi acuan tersebut bertahan mendekati posisi tertinggi dalam satu tahun terakhir seiring meningkatnya spekulasi bahwa bank sentral AS atau The Federal Reserve belum akan terburu-buru memangkas suku bunga.

Kondisi itu menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia dikenal sebagai aset non-yielding atau tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika obligasi dan dolar menawarkan keuntungan lebih menarik, sebagian investor cenderung mengurangi kepemilikan emas.

Sejumlah analis menilai kenaikan harga energi dapat menjadi tantangan baru bagi upaya penurunan inflasi global. Jika harga minyak terus meningkat, biaya produksi dan distribusi berbagai sektor berpotensi ikut naik sehingga tekanan inflasi kembali meningkat.

Situasi tersebut dapat membuat The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan pasar sebelumnya. Ekspektasi suku bunga tinggi inilah yang saat ini menjadi salah satu faktor utama penekan harga emas.

Meski demikian, sebagian pelaku pasar masih melihat emas memiliki peluang bangkit dalam jangka menengah, terutama jika ketidakpastian geopolitik semakin meningkat atau kondisi ekonomi global mulai melambat. Emas masih dianggap sebagai aset lindung nilai utama ketika pasar menghadapi risiko krisis maupun volatilitas tinggi.

Di sisi lain, permintaan emas fisik dari bank sentral dunia juga masih cukup solid sepanjang tahun ini. Beberapa negara berkembang dilaporkan terus meningkatkan cadangan emas mereka sebagai upaya diversifikasi aset dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Analis pasar memperkirakan pergerakan emas dalam waktu dekat masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Jika tekanan inflasi kembali meningkat akibat lonjakan harga energi, maka peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama akan semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi membuat harga emas tetap bergerak volatil dalam beberapa pekan ke depan.