Harga Bitcoin Anjlok 5% ke US$76.000, Likuidasi Kripto Tembus US$1 Miliar

Harga Bitcoin Anjlok 5% ke US$76.000, Likuidasi Kripto Tembus US$1 Miliar

Harga Bitcoin mengalami tekanan besar pada perdagangan Kamis setelah turun lebih dari 5% hingga mendekati US$76.000. Pelemahan ini terjadi di tengah aksi jual besar-besaran saham teknologi dan semikonduktor Amerika Serikat (AS) yang turut menyeret pasar kripto ke zona merah.

Berdasarkan perkembangan pasar terbaru, Bitcoin sempat menyentuh level US$75.400 sebelum kembali stabil di kisaran US$75.900. Penurunan tersebut menghapus kenaikan yang terjadi sehari sebelumnya, ketika Bitcoin sempat menguat setelah menembus US$80.000.

Tekanan pasar juga memicu likuidasi posisi perdagangan berleverage senilai sekitar US$1,08 miliar dalam 24 jam. Sebagian besar likuidasi berasal dari posisi long, yakni taruhan trader bahwa harga aset kripto akan mengalami kenaikan.

Saham Teknologi AS Anjlok, Bitcoin Ikut Tertekan

Penurunan Bitcoin terjadi bersamaan dengan melemahnya pasar saham Amerika Serikat. Indeks Nasdaq Composite turun sekitar 5% dan masuk ke zona koreksi setelah merosot lebih dari 10% dari rekor tertingginya pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, indeks S&P 500 melemah sekitar 4%, sedangkan Dow Jones turun lebih dari 1.600 poin.

Sektor semikonduktor mengalami tekanan lebih besar. Philadelphia Semiconductor Index anjlok hampir 11%, sementara sejumlah saham perusahaan teknologi besar juga mencatatkan penurunan tajam.

Saham Nvidia dan Broadcom masing-masing turun sekitar 9%. Qualcomm melemah 9%, sedangkan Tesla terkoreksi hingga 11%.

Kondisi ini dipicu kekhawatiran investor terhadap prospek investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), khususnya pembangunan pusat data yang membutuhkan pendanaan besar.

Rencana belanja modal untuk pengembangan AI yang sebelumnya diproyeksikan mencapai US$1,2 triliun pada tahun mendatang kini dilaporkan sedang dievaluasi kembali. Ketidakpastian tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset berisiko, termasuk saham teknologi dan mata uang kripto.

Likuidasi Posisi Kripto Tembus US$1,08 Miliar

Tekanan di pasar saham turut memperburuk kondisi perdagangan aset kripto. Data pasar derivatif menunjukkan sekitar US$1,08 miliar posisi berleverage mengalami likuidasi dalam periode 24 jam.

Dari jumlah tersebut, sekitar US$954 juta berasal dari posisi long yang terpaksa ditutup karena harga bergerak berlawanan dengan perkiraan trader.

Hampir US$900 juta likuidasi terjadi hanya dalam waktu empat jam setelah pasar saham Amerika Serikat dibuka. Kondisi ini mempercepat tekanan jual dan membuat harga Bitcoin semakin sulit mempertahankan posisinya.

Ethereum, aset kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, juga mengalami pelemahan dengan harga turun di bawah US$2.300.

Fenomena likuidasi beruntun tersebut menunjukkan tingginya risiko penggunaan leverage dalam perdagangan kripto. Ketika harga bergerak turun dengan cepat, posisi trader dapat ditutup secara otomatis untuk membatasi kerugian, sehingga tekanan jual semakin besar.

Saham Perusahaan Kripto dan Penambang Bitcoin Ikut Melemah

Penurunan pasar tidak hanya berdampak pada Bitcoin dan Ethereum, tetapi juga saham perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan industri kripto.

Saham Strategy, Coinbase, dan Circle masing-masing mengalami penurunan lebih dari 10%. Sementara itu, sejumlah perusahaan penambangan Bitcoin mencatatkan pelemahan hingga 20%.

Keel Infrastructure, yang baru-baru ini menjual seluruh kepemilikan Bitcoin senilai US$192 juta, juga mengalami penurunan saham sekitar 20%.

Perusahaan penambangan lainnya, seperti CleanSpark, Cipher, dan TeraWulf, masing-masing terkoreksi lebih dari 12%.

Tekanan ini menjadi tantangan bagi perusahaan penambang Bitcoin yang sebelumnya menjual sebagian aset kripto untuk mendanai ekspansi bisnis pusat data dan infrastruktur teknologi.

Level US$75.000 Jadi Area Penting bagi Bitcoin

Ke depan, perhatian investor tertuju pada kemampuan Bitcoin mempertahankan area support di kisaran US$75.000.

Level tersebut menjadi salah satu zona harga penting karena telah bertahan sejak Agustus, termasuk ketika pasar mengalami gejolak sebelumnya.

Jika Bitcoin mampu mempertahankan area tersebut, peluang untuk membangun kembali momentum pemulihan masih terbuka. Namun, apabila harga menembus support US$75.000 secara meyakinkan, tekanan jual berpotensi berlanjut dan membawa Bitcoin mendekati level terendah dalam beberapa bulan terakhir.

Pelaku pasar juga menantikan sejumlah agenda ekonomi penting yang berpotensi memengaruhi pergerakan aset berisiko.

Laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk Oktober dijadwalkan terbit pada Jumat. Selanjutnya, data inflasi Consumer Price Index (CPI) Oktober akan dirilis pada 10 November, sebelum Federal Reserve menggelar pertemuan kebijakan moneter pada 9 Desember.

Selain faktor ekonomi, perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Anggota Partai Demokrat di DPR AS tengah menyiapkan rancangan undang-undang mengenai struktur pasar kripto menjelang pergantian kepemimpinan sejumlah komite penting pada Januari.

Di tengah berbagai ketidakpastian tersebut, Bitcoin masih menghadapi tekanan setelah terkoreksi tajam dari level US$80.000. Pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada kekuatan permintaan di area US$75.000 serta perkembangan sentimen pasar keuangan global.