Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.089 per Dolar AS, Ketegangan Timur Tengah Jadi Pemicu

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.089 per Dolar AS, Ketegangan Timur Tengah Jadi Pemicu

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Jumat (6/11/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, terutama kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data perdagangan, rupiah ditutup di level Rp18.089 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 7 poin atau 0,04 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.082 per dolar AS.

Pelemahan rupiah juga tercermin dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI). Nilai tukar rupiah berdasarkan JISDOR tercatat sebesar Rp18.130 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp18.094 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan tekanan terhadap rupiah salah satunya dipicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.

“Pasar merespons negatif terhadap kapal-kapal tanker yang mendapat serangan di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis, Jumat (6/11/2026).

Menurutnya, meningkatnya risiko keamanan jalur pelayaran minyak membuat investor khawatir terhadap kelancaran distribusi energi global. Kondisi tersebut memperbesar ketidakpastian pasar dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Serangan Kapal Tanker Picu Kekhawatiran di Selat Hormuz

Ketidakpastian pasokan minyak dunia meningkat setelah sejumlah kapal melaporkan insiden keamanan di kawasan Timur Tengah.

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mencatat sedikitnya lima kapal melaporkan insiden sejak Minggu (1/11/2026). Jumlah tersebut mendekati rekor pada Oktober, ketika tercatat 35 insiden yang melibatkan kapal.

Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan dua kapal tanker minyak dan satu kapal tunda terbakar dalam insiden terpisah. Kapal-kapal tersebut disebut mencoba melintasi rute yang dinilai tidak sah melalui Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia. Gangguan keamanan di kawasan ini berpotensi menghambat distribusi energi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga minyak global.

Di sisi lain, Arab Saudi juga mengeluarkan peringatan mengenai potensi bahaya di sekitar Yanbu, salah satu pusat ekspor minyak negara tersebut yang berada di Laut Merah.

Peringatan itu muncul di tengah berlanjutnya serangan dari kelompok Houthi Yaman. Situasi tersebut semakin memperbesar risiko keamanan jalur perdagangan energi internasional.

Konflik Rusia-Ukraina Ikut Menekan Pasar Energi

Selain ketegangan di Timur Tengah, perkembangan konflik Rusia dan Ukraina juga menjadi perhatian investor.

Ukraina kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia. Berdasarkan analisis video Reuters, kilang minyak Ryazan yang merupakan salah satu kilang terbesar di Rusia diduga menjadi sasaran serangan pesawat nirawak atau drone pada malam sebelumnya.

Ibrahim mengatakan, perkembangan tersebut memperluas kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia.

Dengan meningkatnya risiko terhadap fasilitas energi dan jalur distribusi, pelaku pasar harus menghadapi ketidakpastian yang semakin besar dalam menentukan arah investasi.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan harga minyak, nilai tukar mata uang, serta sentimen terhadap aset-aset di negara berkembang.

Hasil Pemilu Paruh Waktu AS Tambah Ketidakpastian

Faktor politik Amerika Serikat juga turut menjadi perhatian pasar global. Perubahan peta kekuatan politik di Kongres setelah pemilihan paruh waktu AS disebut menambah dinamika ketidakpastian.

Partai Demokrat mengambil alih kendali kedua majelis dari Partai Republik yang mendukung Presiden Donald Trump.

Perubahan tersebut sempat memunculkan harapan bahwa tekanan politik dapat mendorong percepatan upaya penyelesaian konflik internasional. Namun, hasil pemilihan tersebut belum tentu menghasilkan terobosan diplomatik.

Ibrahim menilai perkembangan politik tersebut belum memberikan kepastian terhadap penyelesaian konflik geopolitik yang sedang berlangsung.

Di tengah berbagai risiko tersebut, pergerakan rupiah masih berpotensi menghadapi tekanan dari sentimen eksternal, khususnya perkembangan konflik geopolitik dan kondisi pasokan energi global.

Dengan demikian, ketegangan di Timur Tengah, konflik Rusia-Ukraina, serta dinamika politik Amerika Serikat menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati investor dalam melihat prospek nilai tukar rupiah ke depan.