Harga HYPE Melemah 6% akibat Kekhawatiran Risiko Perdagangan Minyak di Hyperliquid

Harga HYPE Melemah 6% akibat Kekhawatiran Risiko Perdagangan Minyak di Hyperliquid

Token HYPE milik Hyperliquid melemah sekitar 6% pada Jumat setelah Bloomberg melaporkan bahwa CME Group dan Intercontinental Exchange mendesak otoritas Amerika Serikat untuk meninjau aktivitas Hyperliquid dalam perdagangan minyak berbasis offshore.

Situasi ini menempatkan salah satu platform derivatif kripto dengan pertumbuhan tercepat tersebut dalam tekanan langsung dari dua pemain terbesar di pasar komoditas global. HYPE diperdagangkan di sekitar US$43,81 setelah sempat mencapai level tertinggi harian di US$46,93, atau turun sekitar 6,7% dari puncak sesi. Dalam 24 jam terakhir, harga bergerak di kisaran US$42,75 hingga US$47.

CME dan ICE Soroti Pasar Minyak Hyperliquid

Menurut laporan Bloomberg, CME Group dan Intercontinental Exchange meminta pemerintah AS untuk mengambil langkah pengawasan terhadap Hyperliquid. Mereka menilai platform kripto yang belum diatur secara ketat itu berpotensi memengaruhi harga minyak global dan membuka ruang untuk manipulasi pasar.

Bloomberg menyebut kedua bursa tersebut telah menyampaikan kekhawatiran mereka kepada Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dan sejumlah pejabat di Capitol Hill. Fokus utama mereka adalah sistem perdagangan anonim di Hyperliquid yang dinilai dapat dimanfaatkan pihak tertentu untuk menggerakkan harga atau menghindari sanksi internasional.

Isu ini menjadi sensitif karena Hyperliquid kini tidak hanya menawarkan perpetual kripto, tetapi juga produk berbasis aset dunia nyata seperti minyak. Bagi bursa tradisional, kekhawatiran utamanya bukan sekadar perpindahan volume spekulasi ke platform baru, melainkan kemungkinan pasar kripto offshore yang beroperasi 24 jam mulai memengaruhi pembentukan harga komoditas global yang berkaitan langsung dengan inflasi, biaya energi, dan risiko geopolitik.

Perpetual Minyak Jadi Ujian Pasar Kripto 24 Jam

Pasar minyak Hyperliquid sebenarnya sudah menjadi sorotan sejak awal tahun ini. Pada Maret lalu, kontrak perpetual berbasis minyak yang melacak harga West Texas Intermediate (WTI) mencatat volume perdagangan lebih dari US$1,2 miliar dalam 24 jam. Produk tersebut sempat menjadi pasar terbesar kedua di Hyperliquid setelah aset kripto.

Lonjakan volume itu terjadi ketika harga minyak global naik lebih dari 30% hingga mendekati US$120 per barel di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana Hyperliquid berkembang menjadi platform utama untuk aktivitas spekulasi berisiko tinggi. Berbeda dengan pasar futures komoditas tradisional yang memiliki jam perdagangan tertentu, derivatif kripto diperdagangkan tanpa henti selama 24 jam.

Saat akhir pekan atau terjadi gejolak geopolitik, platform kripto dapat menjadi salah satu sedikit pasar yang tetap aktif untuk mencerminkan sentimen cepat terhadap minyak, emas, maupun aset makro lainnya.

Bagi trader kripto, inilah daya tarik utama pasar tersebut: akses nonstop, leverage, dan respons instan terhadap peristiwa global. Namun bagi CME dan ICE, kondisi ini dianggap sebagai risiko karena likuiditas, leverage, dan anonimitas yang terkonsentrasi pada eksposur minyak sintetis di luar pengawasan regulator tradisional dapat mempersulit pengawasan terhadap pembentukan harga komoditas dunia.