Harga Minyak Anjlok Hampir 5%, Apa yang Memicu Penurunan Ini?
Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir 5%, Ketegangan Selat Hormuz Mereda tetapi Risiko Pasokan Masih Membayangi
Harga minyak dunia ditutup melemah tajam pada perdagangan Selasa (28/7/2026) seiring munculnya harapan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pelaku pasar merespons pembicaraan diplomatik yang dilakukan Iran dengan Arab Saudi dan Oman mengenai situasi keamanan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu arteri utama perdagangan minyak dunia.
Mengutip CNBC, Rabu (29/7/2026), harga minyak mentah Brent sebagai acuan global turun 4,8% dan ditutup di level US$84,09 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 4% hingga ditutup pada US$79,26 per barel.
Penurunan tersebut menghapus sebagian kenaikan harga yang sempat terjadi dalam beberapa hari terakhir ketika pasar mengkhawatirkan potensi gangguan pasokan minyak akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Diplomat senior Iran, Seyyed Abbas Araqchi, menggelar pembicaraan melalui sambungan telepon secara terpisah dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi dan Oman. Berdasarkan pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran yang dipublikasikan melalui Telegram, ketiga pihak membahas pentingnya menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Iran menegaskan perlunya “menghilangkan ketidakamanan di Selat Hormuz yang disebabkan oleh tindakan agresif Amerika Serikat.” Meski demikian, hingga kini belum ada kesepakatan resmi yang diumumkan terkait mekanisme baru untuk menjamin keamanan jalur pelayaran tersebut.
Selat Hormuz Jadi Fokus Pasar Energi
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Menurut data U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau hampir 20% konsumsi minyak global, melewati selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Selain minyak mentah, kawasan ini juga menjadi jalur utama pengiriman gas alam cair (LNG) dari Qatar dan Uni Emirat Arab menuju pasar Asia dan Eropa. Karena itu, setiap ancaman terhadap Selat Hormuz hampir selalu memicu lonjakan volatilitas harga energi dunia.
Analis menilai meredanya kekhawatiran mengenai kemungkinan penutupan jalur pelayaran tersebut menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga minyak pada perdagangan Selasa.
Jeda Konflik AS-Iran Redakan Kekhawatiran
Jeda pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran tampaknya masih bertahan hingga Selasa. Kondisi tersebut memunculkan harapan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah tidak akan berkembang menjadi perang yang lebih luas dan mengganggu distribusi energi global.
Sebelumnya, Teheran membantah laporan yang menyebutkan telah menyetujui gencatan senjata selama 10 hari dengan Amerika Serikat. Meski demikian, intensitas serangan dari kedua belah pihak memang berkurang dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Situasi ini juga terjadi setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat menghadapi keterbatasan stok amunisi. Presiden Donald Trump, yang sebelumnya mengatakan kepada Axios bahwa dirinya mempertimbangkan “serangan besar-besaran” terhadap Iran, dilaporkan menunda keputusan tersebut di tengah kekhawatiran mengenai persediaan persenjataan, sebagaimana diberitakan The New York Times.
Namun, saat berbicara kepada wartawan di dalam Air Force One dalam perjalanan menuju Michigan pada Senin, Trump membantah anggapan bahwa militer AS mengalami kekurangan senjata.
Menurut Trump, militer Amerika Serikat masih memiliki persediaan amunisi yang “melimpah” dan siap menghadapi berbagai kemungkinan apabila situasi kembali memburuk.
Goldman Sachs: Risiko Pasokan Belum Berakhir
Meski harga minyak turun cukup tajam, sejumlah lembaga keuangan global mengingatkan bahwa risiko terhadap pasokan energi dunia masih jauh dari selesai.
Commonwealth Bank of Australia menyatakan pelemahan harga minyak mencerminkan meredanya kekhawatiran investor terhadap kemungkinan konfrontasi langsung antara Amerika Serikat dan Iran.
Sementara itu, Goldman Sachs menilai pasar masih menghadapi risiko yang cukup besar apabila konflik kembali meningkat.
Dalam catatannya, Goldman Sachs mengatakan jeda permusuhan memang telah mengurangi ekspektasi terjadinya serangan besar terhadap fasilitas energi maupun infrastruktur sipil. Namun, sengketa terkait Selat Hormuz tetap berpotensi memicu eskalasi baru.
Bank investasi tersebut memperkirakan harga minyak Brent dapat turun menuju kisaran US$80 per barel pada akhir 2026 apabila Selat Hormuz kembali beroperasi secara normal selama kuartal keempat.
Di sisi lain, Goldman Sachs mengingatkan bahwa gangguan pelayaran di Laut Merah, serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, maupun meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk dapat kembali mendorong lonjakan harga minyak dalam waktu singkat.
Faktor Fundamental Pasar Ikut Menjadi Sorotan
Selain perkembangan geopolitik, investor juga terus mencermati kondisi fundamental pasar minyak global.
Pasar saat ini menunggu sinyal terbaru mengenai kebijakan produksi dari kelompok OPEC+, yang masih berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan kebutuhan pasokan global. Di saat yang sama, prospek permintaan minyak dari China sebagai importir minyak terbesar di dunia juga menjadi perhatian karena perlambatan aktivitas manufaktur berpotensi menekan konsumsi energi.
Di Amerika Serikat, pelaku pasar juga menunggu data terbaru persediaan minyak mentah dari American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Administration (EIA). Apabila stok minyak menunjukkan penurunan yang lebih besar dari perkiraan, harga minyak berpotensi memperoleh kembali dukungan dalam jangka pendek.
Harga Minyak Berbalik Menguat Setelah Serangan Digagalkan
Meski ditutup melemah pada perdagangan reguler, harga minyak berbalik menguat pada perdagangan Selasa malam waktu setempat setelah muncul perkembangan baru dari Timur Tengah.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pasukan AS berhasil menggagalkan serangan rudal yang diluncurkan Iran ke pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
Dalam unggahan di platform X, CENTCOM menyebut Garda Revolusi Islam Iran meluncurkan sejumlah rudal balistik pada pukul 17.45 waktu setempat. Seluruh rudal tersebut diklaim berhasil dicegat sehingga tidak menimbulkan kerusakan maupun korban.
Merespons kabar tersebut, harga kontrak berjangka minyak mentah WTI kembali menguat sekitar 4,4% ke level US$82,73 per barel, mencerminkan bahwa sentimen pasar energi masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik.
Analis menilai volatilitas harga minyak kemungkinan akan tetap tinggi dalam beberapa pekan mendatang. Selama belum ada kepastian mengenai stabilitas keamanan di Selat Hormuz dan kawasan Timur Tengah, setiap perkembangan diplomatik maupun militer berpotensi memicu pergerakan harga minyak yang signifikan di pasar global.
0 Comments