Rupiah Menguat ke Rp 18.073 per Dolar AS pada Penutupan Perdagangan

Rupiah Menguat ke Rp 18.073 per Dolar AS pada Penutupan Perdagangan

Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp18.073 per Dolar AS, Pasar Tunggu Keputusan The Fed

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Mata uang Garuda naik 10 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp18.073 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.083 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi di tengah sikap hati-hati pelaku pasar global yang menantikan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Investor memilih menahan transaksi dalam jumlah besar sambil menunggu arah kebijakan suku bunga serta sinyal terbaru mengenai prospek ekonomi Amerika Serikat.

Analis Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah kali ini didorong oleh melemahnya indeks dolar AS (DXY) menjelang pengumuman hasil rapat FOMC.

“Perhatian investor masih tertuju pada hasil rapat yang akan diumumkan nanti malam. Menjelang keputusan tersebut, pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi sehingga indeks dolar AS (DXY) bergerak melemah,” ujarnya, dikutip dari Antara, Rabu (29/7/2026).

Melemahnya indeks dolar memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat. Namun, penguatan tersebut masih terbatas karena pasar belum memperoleh kepastian mengenai langkah kebijakan moneter The Fed pada sisa tahun ini.

Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar juga akan mencermati isi pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell. Investor menunggu petunjuk mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga pada pertemuan berikutnya, mengingat inflasi AS yang mulai melandai namun pasar tenaga kerja masih menunjukkan ketahanan. Nada yang lebih dovish berpotensi menekan dolar AS dan memberikan sentimen positif bagi mata uang emerging markets, sedangkan pernyataan yang lebih hawkish dapat kembali mendorong penguatan dolar.

Di sisi lain, pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS juga menjadi perhatian. Penurunan yield biasanya mengurangi daya tarik aset berbasis dolar sehingga mendorong aliran dana kembali ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Faktor Dalam Negeri

Dari dalam negeri, perhatian investor masih tertuju pada proses transisi kepemimpinan di Bank Indonesia setelah pengunduran diri Perry Warjiyo. Penunjukan gubernur baru dinilai penting karena akan menentukan arah kebijakan moneter, stabilitas nilai tukar, hingga strategi menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

“Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan telah memperkuat bauran kebijakan moneter, baik melalui suku bunga maupun berbagai instrumen moneter lainnya, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global,” kata Amru.

Bank Indonesia juga terus melakukan berbagai langkah stabilisasi di pasar keuangan, mulai dari intervensi di pasar valuta asing, pasar obligasi, hingga optimalisasi instrumen moneter pro-market. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga kecukupan likuiditas sekaligus mengurangi volatilitas rupiah.

Sebagai langkah preventif, sejak Mei 2026 BI telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) secara kumulatif sebesar 100 basis poin. Kebijakan ini ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan tekanan inflasi impor akibat pelemahan nilai tukar, serta mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik di tengah tingginya suku bunga global.

Analis menilai langkah BI tersebut turut membantu menjaga kepercayaan investor asing terhadap pasar obligasi pemerintah Indonesia. Meski demikian, ruang penguatan rupiah masih dipengaruhi oleh perkembangan eksternal, terutama kebijakan moneter negara maju dan dinamika geopolitik global yang dapat memicu perubahan arus modal.

Selain itu, kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih menjadi penopang bagi rupiah. Inflasi yang relatif terkendali, pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, serta ketahanan sektor perbankan memberikan sentimen yang cukup baik bagi pelaku pasar. Namun, tekanan dari tingginya kebutuhan impor dan permintaan dolar AS dari korporasi tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Proyeksi Rupiah

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor global dan domestik, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam rentang terbatas pada perdagangan selanjutnya.

“Pelemahan indeks dolar AS berpotensi menopang pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Namun, arah pergerakannya masih akan sangat dipengaruhi oleh hasil rapat Federal Reserve serta perkembangan proses penunjukan Gubernur Bank Indonesia yang baru,” ujar Amru.

Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS dalam beberapa waktu ke depan. Apabila The Fed memberikan sinyal pelonggaran kebijakan yang lebih kuat dari perkiraan pasar, rupiah berpeluang melanjutkan penguatan. Sebaliknya, jika bank sentral AS masih mempertahankan sikap ketat terhadap inflasi, tekanan terhadap mata uang emerging markets berpotensi kembali meningkat.

Sejalan dengan pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan. Pada perdagangan Rabu (29/7/2026), JISDOR berada di level Rp18.087 per dolar AS, membaik dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp18.088 per dolar AS.

Pelaku pasar kini akan mencermati respons pasar keuangan global setelah hasil rapat FOMC diumumkan. Keputusan tersebut diperkirakan menjadi katalis utama yang menentukan arah pergerakan dolar AS, arus modal asing, serta nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. Selain itu, perkembangan penunjukan Gubernur Bank Indonesia yang baru juga diperkirakan tetap menjadi perhatian investor karena akan memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter Indonesia ke depan.