Wall Street Diam-Diam Mengambil Alih Infrastruktur Kripto, Apakah Era Startup Web3 Telah Berakhir?

Wall Street Diam-Diam Mengambil Alih Infrastruktur Kripto, Apakah Era Startup Web3 Telah Berakhir?

Pasar bearish kripto pada 2026 telah memicu gelombang konsolidasi besar di industri. Banyak proyek menghentikan operasional, perusahaan mulai menutup bisnis, dan berbagai produk di sektor bursa kripto, DeFi, NFT, hingga infrastruktur blockchain mulai ditinggalkan. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang sangat besar terhadap industri aset digital. Namun, apakah Bitcoin sudah mencapai titik terendahnya masih bergantung pada permintaan pasar, likuiditas, dan posisi investor.

Tekanan tersebut semakin terlihat bulan ini ketika dua bursa kripto yang sudah lama beroperasi, BitMEX dan BitMart, mengumumkan rencana penghentian layanan hanya dalam selang tiga hari. BitMEX pada 22 Juli mengumumkan akan menghentikan layanan perdagangannya pada 23 September. Pendaftaran pengguna baru langsung ditutup, pembukaan posisi baru akan dibatasi mulai 26 Agustus, sementara pengguna masih dapat mengakses akun dan menarik aset setelah platform perdagangan ditutup.

Sementara itu, BitMart pada 26 Juli mengumumkan proses penutupan yang lebih panjang. Aktivitas perdagangan dijadwalkan berhenti pada 26 Agustus, sedangkan seluruh operasional perusahaan akan berakhir pada 31 Januari 2027.

Keputusan perusahaan untuk menutup bisnis biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba. Penurunan pendapatan yang berlangsung selama berbulan-bulan dapat menguras kas perusahaan hingga akhirnya tidak mampu lagi beroperasi. Karena itu, penutupan perusahaan sering kali terjadi setelah pasar lebih dulu bereaksi terhadap kondisi tersebut, atau bahkan sebelum tekanan di pasar benar-benar berakhir. Dengan kata lain, penutupan perusahaan hanya menunjukkan kondisi bisnis tertentu, bukan menjadi penentu arah harga Bitcoin.

Penutupan, Restrukturisasi, dan Penghentian Produk

Sebuah unggahan di platform X baru-baru ini mencantumkan puluhan proyek, bursa, protokol, dompet digital, gim blockchain, hingga penyedia analitik yang disebut telah “tutup atau menghilang pada 2026.” Namun, setiap kasus memiliki penyebab dan kondisi yang berbeda.

Pada Maret lalu, salah satu pendiri Balancer, Fernando Martinelli, mengumumkan bahwa Balancer Labs akan menghentikan operasional setelah terdampak peretasan pada 2025 dan kesulitan memperoleh pendapatan yang berkelanjutan. Meski demikian, protokol Balancer tetap akan berjalan di bawah pengelolaan DAO, Foundation, perusahaan operasional, dan penyedia layanan independen.

Polygon juga memutuskan menghentikan layanan zkEVM Mainnet Beta sebagai bagian dari konsolidasi produk. Polygon telah memberikan pemberitahuan sekitar satu tahun sebelumnya sebelum sequencer dihentikan pada 1 Juli, sekaligus menyediakan mekanisme migrasi bagi pengguna. Meski ekosistem Polygon tetap berjalan, penghentian ini tetap menimbulkan risiko bagi pengguna yang masih memiliki dana terkunci di kontrak pintar DeFi.

Di sektor NFT, Nifty Gateway mengumumkan penutupan marketplace mandirinya pada Januari setelah Gemini memindahkan dukungan NFT ke Gemini Wallet. Sementara itu, DappRadar mengungkapkan bahwa perusahaan di balik platform tersebut mulai melakukan penghentian operasional sejak November 2025, meski struktur DAO masih tetap terpisah.

Across Protocol juga sedang menjalani restrukturisasi. Jaringan bridge miliknya masih aktif, tetapi proposal yang memungkinkan pemegang token ACX menjual token menjadi uang tunai atau menukarnya dengan saham perusahaan ditunda karena kendala hukum dan operasional. Perubahan ini menunjukkan pergeseran dari model DAO dan token menuju kepemilikan perusahaan yang lebih terpusat.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa penyusutan industri terjadi dalam berbagai bentuk. Ada perusahaan yang tidak lagi memiliki model bisnis yang menguntungkan, ada yang memangkas lini produk, dan ada pula jaringan blockchain yang menghentikan teknologi tertentu.

Selain itu, daftar proyek yang terdampak juga mencakup Odos Protocol, Moonbeam, Exchange Art, Ctrl Wallet, Cypher, ICON Network, NFTfi, Loopring DEX, Radiant Capital, Dmail, DL News, Tally, Step Finance, Swellchain, Redstone, JPG Store, ZeroLend, Goldfinch, Ionic, Everclear, hingga Arkham Exchange.

Di sektor gim blockchain, proyek seperti Pirate Nation, Nyan Heroes, Ember Sword, Wildcard, Fantasytop, dan Bloktopia juga masuk dalam daftar. Sementara itu, penyedia infrastruktur dan analitik seperti Blocknative, Parsec, TapTools, dan DataHaven turut mengalami tekanan.

Meski tidak semuanya benar-benar berhenti beroperasi, daftar tersebut menunjukkan bahwa kontraksi industri telah meluas ke hampir seluruh sektor ekosistem kripto.

Penutupan Perusahaan Bukan Penanda Pasti Titik Terendah

Gelombang penutupan perusahaan sering dianggap sebagai tanda kapitulasi pasar, yaitu ketika pelaku industri menyerah setelah mengalami tekanan berkepanjangan. Namun, kondisi tersebut sulit dijadikan indikator bahwa harga Bitcoin telah mencapai titik terendah.

Keputusan untuk menghentikan bisnis biasanya baru diambil setelah tekanan keuangan, pendanaan, atau persoalan hukum berlangsung cukup lama. Sementara itu, harga Bitcoin terus bergerak mengikuti kondisi makroekonomi, likuiditas, dan sentimen investor.

BitMEX menyatakan keputusan penutupan diambil setelah melakukan evaluasi terhadap bisnis dan kondisi industri. Sementara BitMart menyebut faktor operasional, kondisi pasar, dan arah bisnis ke depan sebagai alasan utama. Tidak satu pun mengaitkan keputusan tersebut dengan prediksi harga aset kripto.

Berdasarkan data CryptoSlate per 28 Juli, Bitcoin diperdagangkan di level US$63.416 atau sekitar 49,7% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa di US$126.198 yang tercapai pada 6 Oktober 2025.

Penurunan ini masih lebih kecil dibandingkan siklus bearish sebelumnya. Pada periode 2014–2015 Bitcoin sempat turun sekitar 87%, pada 2017–2018 turun sekitar 84%, dan pada 2021–2022 melemah sekitar 77%.

Namun, kondisi pasar saat ini berbeda. Likuiditas yang lebih besar, kehadiran ETF Bitcoin spot, serta meningkatnya partisipasi investor institusi berpotensi membuat penurunan harga kali ini tidak sedalam siklus-siklus sebelumnya.

Meski demikian, penurunan saat ini masih berlangsung sehingga belum bisa dipastikan apakah Bitcoin telah membentuk dasar harga. Penelitian MarketVector terhadap pergerakan Bitcoin sepanjang 2013–2023 juga menunjukkan bahwa penurunan sekitar 50% belum tentu menjadi sinyal kuat bahwa harga sudah mencapai titik terendah.

Analisis CryptoSlate juga menyebut bahwa penurunan tekanan jual dari investor jangka panjang, membaiknya arus dana investasi, serta meningkatnya volume perdagangan dapat menjadi sinyal bahwa pasar mulai stabil. Sebaliknya, jika distribusi aset masih berlanjut, permintaan tetap lemah, dan semakin banyak perusahaan yang tutup, tekanan di pasar kemungkinan belum berakhir.

Wall Street Mengadopsi Blockchain

Di tengah sulitnya kondisi perusahaan kripto, lembaga keuangan tradisional justru semakin aktif memanfaatkan teknologi blockchain melalui tokenisasi aset. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi blockchain tetap berkembang meski banyak perusahaan kripto menghadapi tantangan.

Dana Moneter Internasional (IMF) menjelaskan bahwa tokenisasi deposito bank merupakan representasi digital dari simpanan bank yang tetap berada dalam kerangka regulasi dan sistem perbankan yang ada. Dengan demikian, bank tetap memegang peran utama meski transaksi mulai dilakukan di atas jaringan blockchain.

Bank for International Settlements (BIS) juga mendorong penggunaan cadangan bank sentral, dana bank komersial, dan obligasi pemerintah dalam bentuk token pada infrastruktur yang dapat diprogram. Di sisi lain, SWIFT bersama 17 bank juga tengah mengembangkan sistem berbasis ledger untuk mendukung transaksi menggunakan deposito yang ditokenisasi.

Blockchain publik seperti Ethereum juga mulai dimanfaatkan. J.P. Morgan, misalnya, telah membawa reksa dana pasar uang yang ditokenisasi ke jaringan blockchain berbasis Ethereum. Namun, nilai ekonomi dari token atau aplikasi kripto tetap bergantung pada model bisnis masing-masing.

Kondisi ini menunjukkan bahwa lembaga keuangan tradisional mulai mengadopsi teknologi blockchain yang dianggap bermanfaat, sementara banyak perusahaan kripto masih kesulitan membuktikan keberlanjutan model bisnis maupun nilai ekonominya.

CryptoSlate sebelumnya juga mencatat bahwa modal investor semakin terkonsentrasi pada ETF Bitcoin spot dan infrastruktur stablecoin, sementara model bisnis startup kripto mengalami perlambatan. Penutupan BitMEX dan BitMart semakin mempertegas tren konsolidasi di sektor bursa kripto.

Gelombang penutupan ini bisa saja menjadi fase pembersihan terakhir sebelum pasar pulih. Namun, bisa juga menjadi awal dari konsolidasi yang lebih besar jika tekanan terus meluas ke lebih banyak bursa, protokol, dan penyedia infrastruktur blockchain.

Industri kripto memang kehilangan banyak perusahaan, produk, dan sebagian visinya untuk membangun sistem keuangan alternatif. Namun di saat yang sama, teknologi blockchain justru semakin banyak dimanfaatkan oleh lembaga keuangan tradisional dalam kerangka yang telah diatur regulator. Pada akhirnya, arah pergerakan Bitcoin tetap akan ditentukan oleh permintaan pasar, likuiditas, dan posisi investor, sementara penutupan berbagai perusahaan hanya menjadi bukti besarnya tekanan yang telah terjadi di industri kripto.