Harga Minyak Dunia Kembali Naik ke US$87, Harapan Damai di Hormuz Menipis

Harga Minyak Dunia Kembali Naik ke US$87, Harapan Damai di Hormuz Menipis

Harga Minyak Dunia Melonjak 5%, Harapan Kesepakatan AS-Iran soal Selat Hormuz Kembali Memudar

Harga minyak dunia kembali melonjak tajam pada perdagangan Senin (10/8/2026), setelah harapan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menjamin kelancaran lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali meredup.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Investor kembali memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan minyak apabila ketegangan antara Washington dan Teheran terus berlanjut.

Mengutip laporan pasar terbaru, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik sekitar 5% menjadi US$82,13 per barel. Sementara itu, Brent crude, yang menjadi patokan harga minyak internasional, juga menguat sekitar 5% menjadi US$87,72 per barel.

Pada perdagangan berikutnya, harga minyak masih bertahan di dekat level tertinggi dalam sekitar satu pekan. Brent tercatat berada di sekitar US$87,81 per barel, menunjukkan bahwa kekhawatiran pasar belum sepenuhnya mereda. 

Negosiasi AS-Iran Kembali Diragukan

Lonjakan harga minyak terjadi setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memberikan sinyal bahwa proses negosiasi dengan Iran belum mencapai tahap yang sebelumnya diharapkan pasar.

Sebelumnya, investor sempat optimistis bahwa Washington dan Teheran dapat mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Harapan tersebut bahkan sempat mendorong harga minyak turun lebih dari 7% pada pekan sebelumnya.

Namun, optimisme tersebut mulai menghilang setelah muncul perbedaan tuntutan antara kedua negara.

Trump mengatakan AS masih mengawasi kondisi Iran, termasuk tekanan ekonomi yang dihadapi negara tersebut. Ia juga mengisyaratkan bahwa Washington dapat mempertahankan tekanan melalui blokade laut dibandingkan langsung melakukan serangan udara tambahan.

Trump sebelumnya juga mengungkapkan bahwa rencana serangan terhadap Iran pada 1 Agustus 2026 dibatalkan untuk memberikan kesempatan bagi proses diplomasi.

Bagi pasar minyak, perkembangan tersebut sangat penting karena setiap tanda bahwa konflik akan berlanjut dapat meningkatkan risiko gangguan terhadap distribusi minyak dari kawasan Teluk.

Iran Minta Blokade AS Dicabut

Dari sisi Iran, pemerintah Teheran memberikan sinyal bahwa pembukaan penuh Selat Hormuz tidak dapat dilakukan selama blokade angkatan laut AS masih berlangsung.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan bahwa kondisi yang diperlukan untuk membuka kembali jalur pelayaran belum terpenuhi selama blokade AS masih berlanjut.

Iran juga disebut tengah melakukan pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Perbedaan posisi ini membuat pasar kembali memperkirakan bahwa penyelesaian masalah Hormuz mungkin tidak akan berlangsung dalam waktu dekat.

Bagi perusahaan pelayaran dan operator kapal tanker, ketidakpastian tersebut dapat meningkatkan risiko operasional, termasuk perubahan rute, biaya asuransi yang lebih tinggi, serta potensi keterlambatan pengiriman minyak.

Selat Hormuz Sangat Penting bagi Pasokan Energi Dunia

Kekhawatiran pasar bukan tanpa alasan. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.

Data terbaru dari U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa pada semester pertama 2025, sekitar 20,9 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 20% konsumsi petroleum liquids dunia dan sekitar seperempat perdagangan minyak melalui jalur laut global. 

Sebagian besar minyak yang melewati selat tersebut dikirim ke Asia. EIA memperkirakan sekitar 89% minyak mentah dan kondensat yang melewati Hormuz pada semester pertama 2025 ditujukan ke pasar Asia.

China, India, Jepang dan Korea Selatan menjadi tujuan utama. Keempat negara tersebut secara bersama-sama menyerap sekitar 74% arus minyak mentah dan kondensat melalui Selat Hormuz. 

Artinya, gangguan berkepanjangan di Hormuz tidak hanya menjadi masalah bagi AS atau negara-negara Timur Tengah, tetapi juga dapat memberikan tekanan langsung terhadap konsumen energi terbesar di Asia.

Jalur Alternatif Tidak Mampu Menggantikan Seluruh Pasokan

Salah satu alasan pasar begitu khawatir adalah keterbatasan jalur alternatif.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Iran memiliki sejumlah jaringan pipa yang dapat digunakan untuk mengalihkan sebagian pengiriman minyak apabila Selat Hormuz terganggu.

Namun, kapasitas alternatif tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan volume minyak yang biasanya melewati selat.

EIA memperkirakan jaringan pipa Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab memiliki kapasitas sekitar 4,7 juta barel per hari untuk menghindari Selat Hormuz. Angka tersebut hanya sebagian dari sekitar 20,9 juta barel per hari minyak dan produk petroleum yang melewati selat pada semester pertama 2025. 

Kesenjangan tersebut menjadi alasan mengapa setiap ancaman penutupan atau pembatasan pelayaran di Hormuz dapat langsung meningkatkan premi risiko pada harga minyak.

Cadangan Minyak AS Turun di Bawah 300 Juta BareI

Tekanan terhadap pasar semakin besar karena persediaan minyak darurat Amerika Serikat juga berada pada level rendah.

Cadangan minyak dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS dilaporkan turun di bawah 300 juta barel, menjadi level terendah sejak 1983. Penurunan tersebut terjadi ketika AS masih menghadapi kebutuhan untuk menjaga pasokan energi di tengah konflik yang mengganggu perdagangan minyak global. 

Data EIA sebelumnya menunjukkan bahwa cadangan strategis AS masih berada di sekitar 413 juta barel pada kuartal pertama 2026. 

Dengan posisi SPR yang kini lebih rendah, ruang Washington untuk menggunakan cadangan strategis guna meredam lonjakan harga juga menjadi perhatian investor.

Cadangan tersebut memang masih dapat digunakan dalam keadaan tertentu, tetapi semakin rendah persediaannya, semakin besar perhatian pasar terhadap kemampuan AS merespons gangguan pasokan tambahan.

Kesepakatan Hormuz Sempat Membuat Harga Minyak Anjlok

Situasi saat ini berbanding terbalik dengan kondisi pekan sebelumnya.

Harga minyak sempat turun lebih dari 7% setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa kesepakatan untuk memungkinkan kapal kembali melintas secara bebas di Selat Hormuz berpotensi segera tercapai.

Investor ketika itu menganggap kesepakatan diplomatik sebagai tanda bahwa risiko gangguan pasokan akan berkurang.

Namun, ketika kesepakatan belum terwujud dan tuntutan Washington serta Teheran kembali berseberangan, investor mulai mengurangi ekspektasi tersebut.

Harga minyak kemudian kembali mendapatkan dukungan dari premi risiko geopolitik.

Laporan pasar terbaru juga menunjukkan bahwa minyak naik sekitar 5% pada Senin setelah Iran dan AS saling menyampaikan tuntutan terkait kompensasi, yang semakin mengurangi harapan terhadap kesepakatan dalam waktu dekat. 

Konflik dan Serangan Kapal Tanker Menambah Risiko

Ketegangan semakin kompleks setelah terjadi serangkaian insiden yang melibatkan kapal tanker di sekitar Selat Hormuz.

Iran disebut menuntut agar kapal yang melewati selat menggunakan jalur tertentu, termasuk perairan yang berada di bawah yurisdiksi Iran. Sementara itu, AS berupaya memastikan kapal-kapal komersial tetap dapat melintas melalui jalur yang dianggap aman dan terbuka.

Insiden terhadap kapal tanker kemudian meningkatkan risiko konfrontasi antara kedua negara.

Amerika Serikat merespons dengan meningkatkan tekanan militer dan mempertahankan blokade laut, sementara Iran menegaskan bahwa pembukaan penuh jalur pelayaran membutuhkan perubahan terlebih dahulu terhadap kondisi tersebut.

Bagi pasar minyak, setiap insiden baru yang melibatkan kapal tanker dapat memicu lonjakan harga karena trader akan memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan yang lebih besar.

Bukan Hanya Minyak, LNG Juga Terancam

Dampak Selat Hormuz sebenarnya tidak terbatas pada minyak mentah.

Jalur tersebut juga sangat penting bagi perdagangan liquefied natural gas (LNG).

EIA memperkirakan sekitar 11,4 miliar kaki kubik gas alam per hari, atau lebih dari 20% perdagangan LNG global, melewati Selat Hormuz pada semester pertama 2025. Sebagian besar LNG tersebut berasal dari Qatar. 

Karena itu, gangguan berkepanjangan di Hormuz berpotensi meningkatkan harga gas alam dan LNG, terutama di negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi dari Timur Tengah.

Jika harga minyak dan LNG sama-sama meningkat, tekanan terhadap biaya energi global dapat semakin besar.

Asia Menjadi Kawasan yang Paling Sensitif

Dampak terbesar dari gangguan Hormuz kemungkinan akan dirasakan oleh negara-negara Asia.

China, India, Jepang dan Korea Selatan merupakan pembeli utama minyak yang melewati jalur tersebut. Ketergantungan tersebut membuat harga minyak global menjadi sangat sensitif terhadap perkembangan di kawasan Teluk.

Bagi negara importir minyak, kenaikan harga crude dapat meningkatkan biaya impor energi. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi harga bahan bakar, biaya transportasi, biaya produksi industri hingga inflasi.

Sebaliknya, negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk dapat memperoleh keuntungan dari harga minyak yang lebih tinggi, meskipun mereka juga menghadapi risiko penurunan volume ekspor jika jalur pelayaran terganggu terlalu lama.

AS Tidak Sepenuhnya Bergantung pada Minyak Hormuz

Meski Amerika Serikat ikut terkena dampak dari kenaikan harga minyak global, ketergantungan langsung AS terhadap minyak yang melewati Hormuz relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara Asia.

EIA mencatat bahwa pada semester pertama 2025, AS mengimpor sekitar 400.000 barel minyak mentah dan kondensat per hari dari negara-negara Teluk melalui Hormuz. Jumlah tersebut setara sekitar 7% impor minyak mentah dan kondensat AS serta sekitar 2% konsumsi petroleum liquids AS. 

Namun, AS tetap terdampak karena harga minyak merupakan pasar global.

Ketika pasokan internasional terganggu, harga benchmark seperti Brent dapat naik dan kemudian memengaruhi harga produk energi di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat.

Dengan kata lain, AS mungkin tidak membutuhkan sebagian besar minyak Hormuz secara langsung, tetapi konsumen AS tetap dapat terkena dampak dari kenaikan harga minyak dunia.

Apa yang Menjadi Penentu Harga Minyak Berikutnya?

Pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan kemungkinan akan sangat ditentukan oleh perkembangan diplomasi AS-Iran.

Jika Washington dan Teheran berhasil mencapai kesepakatan yang menjamin pelayaran aman di Selat Hormuz, premi risiko geopolitik berpotensi turun dan harga minyak dapat kembali terkoreksi.

Sebaliknya, jika blokade terus berlangsung, serangan terhadap kapal tanker kembali terjadi atau negosiasi mengalami kebuntuan, pasar kemungkinan akan kembali memasukkan risiko gangguan pasokan yang lebih besar ke dalam harga.

Selain faktor geopolitik, investor juga akan memperhatikan data persediaan minyak AS, aktivitas kapal tanker, produksi negara-negara OPEC+, permintaan China dan kondisi ekonomi global.

Pasar Kini Menunggu Langkah Washington dan Teheran

Kenaikan sekitar 5% pada Senin menunjukkan bahwa pasar belum percaya bahwa masalah Selat Hormuz akan segera berakhir.

Selat tersebut membawa sekitar seperlima konsumsi petroleum liquids dunia dan memiliki alternatif jalur yang kapasitasnya jauh lebih terbatas. Karena itu, setiap perubahan terhadap keamanan pelayaran dapat memberikan dampak besar terhadap harga energi global. 

Di sisi lain, posisi cadangan minyak strategis AS yang kini berada di bawah 300 juta barel menambah perhatian investor terhadap kemampuan pasar menghadapi gangguan pasokan berkepanjangan. 

Dengan Brent sudah kembali mendekati US$88 per barel dan WTI berada di atas US$82 per barel, pasar minyak memasuki fase yang sangat bergantung pada perkembangan geopolitik.

Jika kesepakatan Hormuz berhasil dicapai, harga minyak berpotensi kembali turun dengan cepat. Namun jika kebuntuan antara AS dan Iran berlanjut, risiko harga minyak bergerak lebih tinggi masih terbuka.

Untuk saat ini, Selat Hormuz tetap menjadi salah satu faktor paling penting yang akan menentukan arah harga minyak dunia, sementara pasar menunggu apakah Washington dan Teheran mampu mengubah kebuntuan diplomatik menjadi kesepakatan nyata.