Harga Minyak Dunia Melonjak 2%, Pasar Cermati Negosiasi AS-Iran
Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak 2%, Harapan Damai AS-Iran Meredup
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026, atau Jumat pagi waktu Indonesia. Kenaikan terjadi setelah Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi bahwa saat ini tidak ada pembicaraan langsung dengan Iran. Kondisi tersebut membuat harapan pasar terhadap penyelesaian konflik dan normalisasi lalu lintas energi melalui Timur Tengah kembali meredup.
Mengutip data perdagangan, kontrak berjangka minyak Brent naik sekitar 2,2% menjadi US$89,79 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat sekitar 1,7% menjadi US$83,66 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi setelah harga minyak sebelumnya mengalami tekanan selama tiga sesi perdagangan berturut-turut. Investor sebelumnya optimistis bahwa upaya diplomatik yang melibatkan Iran, Oman, Qatar, dan negara-negara lain dapat membuka jalan bagi pemulihan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.
Namun, optimisme tersebut mulai berkurang setelah Washington menyatakan belum ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan Teheran.
Harapan Negosiasi AS-Iran Meredup
Gedung Putih menyatakan bahwa AS belum melihat keseriusan dari Iran untuk kembali ke meja perundingan. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Washington masih membuka berbagai pilihan, tetapi belum ada negosiasi yang berlangsung saat ini.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian besar bagi pasar minyak karena konflik AS-Israel dan Iran telah mengganggu lalu lintas energi di kawasan Teluk.
Pasar sebelumnya sempat mendapat sentimen positif setelah Iran dan Oman menunjukkan perkembangan terkait kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap. Harapan tersebut sempat mendorong harga minyak turun karena investor memperkirakan pasokan dari Timur Tengah dapat kembali meningkat.
Namun, perkembangan terbaru membuat pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
Reuters melaporkan pada Jumat bahwa upaya diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz justru semakin intensif. Qatar juga berupaya menjadi mediator, sementara Iran disebut tengah menyiapkan sejumlah persyaratan agar lalu lintas maritim dapat kembali normal.
Artinya, meskipun jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup, pasar masih melihat risiko gangguan pasokan sebagai persoalan utama.
Selat Hormuz Jadi Fokus Utama Pasar
Selat Hormuz menjadi salah satu faktor paling penting dalam pergerakan harga minyak saat ini. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.
Sebelum konflik terjadi, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati kawasan tersebut. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memberikan dampak besar terhadap harga energi global.
Data yang dikutip dari Kpler menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz memang mulai membaik, tetapi masih jauh dari kondisi normal. Pada Rabu, sekitar 10 kapal komoditas tercatat melewati selat tersebut, meningkat dari titik terendah sebelumnya tetapi masih berada di bawah rata-rata sekitar 15 kapal dalam periode 10 hari.
Reuters melaporkan bahwa volume pelayaran saat ini masih hanya sekitar 5%-15% dari tingkat normal. Amerika Serikat juga menyatakan telah membantu membersihkan ranjau di sejumlah area dan memfasilitasi perjalanan kapal, tetapi ancaman drone dan rudal masih menjadi risiko bagi pelayaran.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa harga minyak tetap sensitif terhadap setiap perkembangan diplomatik. Jika lalu lintas kapal kembali normal, pasokan minyak global berpotensi meningkat dan harga dapat kembali turun. Sebaliknya, apabila pembukaan selat kembali tertunda, premi risiko kemungkinan bertahan.
Harga Minyak Sempat Turun karena Optimisme Hormuz Dibuka
Sebelum kembali menguat, harga minyak sempat mengalami penurunan tajam akibat meningkatnya harapan bahwa Selat Hormuz dapat dibuka kembali.
Pada Rabu, Brent sempat turun sekitar 2%, sementara WTI juga melemah setelah muncul perkembangan mengenai rencana Iran dan Oman untuk membuka jalur pelayaran secara bertahap. Laporan pasar menyebut pembukaan tersebut dapat melibatkan pembentukan jalur aman dan proses pembersihan ranjau laut.
Tekanan terhadap harga minyak juga diperkuat oleh sikap pasar yang menilai sanksi baru AS terhadap Iran belum tentu langsung menyebabkan gangguan fisik terhadap produksi minyak.
Namun, ketika harapan negosiasi AS-Iran kembali menurun, sebagian investor mulai membeli kembali kontrak minyak. Pergeseran sentimen tersebut kemudian mendorong Brent dan WTI naik lebih dari 1% pada perdagangan Kamis.
Stok Minyak AS Masih Menjadi Penahan Kenaikan
Di luar faktor geopolitik, kondisi pasokan minyak Amerika Serikat juga menjadi perhatian investor.
Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah komersial AS berada di sekitar 428,91 juta barel pada pekan yang berakhir 21 Agustus 2026, naik tipis dari sekitar 428,82 juta barel pada pekan sebelumnya.
Kenaikan stok yang relatif kecil tersebut menunjukkan bahwa pasar minyak AS masih memiliki pasokan yang cukup nyaman. Kondisi ini dapat membatasi kenaikan harga WTI meskipun risiko geopolitik di Timur Tengah meningkat.
Perbedaan kondisi antara pasar AS dan pasar global juga membantu menjelaskan mengapa pergerakan Brent dan WTI tidak selalu sama. Brent lebih sensitif terhadap risiko pasokan internasional dan gangguan di Timur Tengah, sedangkan WTI lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi produksi, konsumsi, dan persediaan minyak di Amerika Serikat.
Dengan demikian, kenaikan harga Brent yang lebih besar dibandingkan WTI mencerminkan besarnya premi risiko yang saat ini diberikan pasar terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah.
AS Perketat Tekanan Ekonomi terhadap Iran
Ketegangan antara Washington dan Teheran juga meningkat setelah AS mengumumkan langkah sanksi baru terhadap Iran.
Pemerintah AS menyebut langkah tersebut sebagai salah satu tekanan ekonomi paling keras yang pernah diberikan kepada Iran. Kebijakan tersebut diarahkan untuk membatasi kemampuan Iran memperoleh pendapatan dan mengurangi sumber pembiayaan yang dapat digunakan untuk mempertahankan konfliknya.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan tekanan ekonomi diharapkan dapat mengurangi kebutuhan untuk melakukan operasi militer skala besar.
Iran menolak langkah tersebut. Ketua komite keamanan nasional parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyebut sanksi AS sebagai tindakan bermusuhan dan tidak manusiawi. Teheran juga menilai efektivitas tekanan ekonomi tersebut semakin terbatas.
Bagi pasar minyak, persoalannya bukan hanya mengenai sanksi terhadap produksi Iran. Investor juga memperhatikan kemungkinan Iran menggunakan posisi strategisnya di Selat Hormuz sebagai alat tawar dalam menghadapi tekanan AS.
Qatar Dorong Diplomasi
Di tengah meningkatnya ketegangan, Qatar masih berupaya mendorong penyelesaian diplomatik.
Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani melakukan kunjungan ke Teheran untuk mendorong Iran agar mendukung kebebasan navigasi dan membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Qatar memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas kawasan karena konflik tersebut juga mengganggu perdagangan energi. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa ekspor LNG Qatar sempat anjlok 96% akibat gangguan yang ditimbulkan konflik, dengan kerugian pendapatan mencapai sekitar US$24 miliar.
Karena itu, Qatar berkepentingan mendorong pembukaan kembali jalur perdagangan energi sekaligus menghindari konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu pasokan minyak dan gas dunia.
Risiko Geopolitik Masih Menjadi Penggerak Harga
Analis menilai risiko terbesar bagi pasar saat ini adalah kemungkinan bahwa optimisme terhadap kesepakatan damai ternyata terlalu dini.
Jika negosiasi kembali macet atau gagal, premi risiko kemungkinan akan kembali masuk ke harga minyak. Sebaliknya, jika Iran dan negara-negara mediator berhasil mencapai kesepakatan yang menjamin keamanan pelayaran, harga minyak berpotensi kembali terkoreksi.
Pergerakan harga dalam beberapa hari terakhir menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap informasi mengenai Selat Hormuz. Ketika muncul kabar positif mengenai kemungkinan pembukaan jalur tersebut, Brent dan WTI langsung turun. Namun, ketika harapan diplomatik meredup, harga kembali naik.
EIA juga mencatat bahwa harga minyak global sebelumnya sempat turun hingga sekitar US$69 per barel pada awal Juli setelah adanya perkembangan kesepahaman AS-Iran, sebelum kembali meningkat ketika serangan terhadap kapal tanker dan gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran pasar. Brent bahkan sempat mencapai sekitar US$105 per barel pada Juli.
Harga Minyak Jumat Mulai Berbalik Turun
Meski harga minyak melonjak pada perdagangan Kamis, pergerakan Jumat menunjukkan pasar masih sangat volatil.
Pada perdagangan Jumat pagi, Brent sempat bergerak turun ke sekitar US$88,35 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$83,29 per barel. Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa investor masih melakukan aksi ambil untung setelah kenaikan sehari sebelumnya sekaligus menunggu perkembangan terbaru dari diplomasi Timur Tengah.
Dengan demikian, kenaikan lebih dari 2% pada Kamis belum tentu menjadi awal tren kenaikan baru. Pasar masih menunggu apakah lalu lintas kapal melalui Hormuz benar-benar dapat dipulihkan atau justru kembali terganggu.
Konflik Rusia-Ukraina Tambah Risiko Energi
Selain Timur Tengah, investor juga memantau perkembangan konflik Rusia-Ukraina.
Rusia memperingatkan bahwa mereka dapat menyerang target militer Inggris, baik di dalam maupun di luar Ukraina, sebagai respons terhadap serangan Ukraina menggunakan rudal jelajah jarak jauh yang dipasok Inggris.
Perkembangan tersebut menambah ketidakpastian di pasar energi global karena Rusia merupakan salah satu produsen dan eksportir energi terbesar dunia.
Setiap eskalasi baru yang mengancam fasilitas produksi, kilang, pelabuhan, kapal tanker, atau jalur ekspor energi dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak.
Prospek Harga Minyak Masih Bergantung pada Hormuz
Ke depan, Selat Hormuz diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak.
Jika pembukaan jalur pelayaran berjalan lancar dan jumlah kapal yang melewati selat meningkat mendekati kondisi normal, kekhawatiran mengenai kelangkaan pasokan akan berkurang. Dalam skenario tersebut, harga Brent berpotensi kembali mengalami tekanan.
Sebaliknya, apabila negosiasi gagal, sanksi AS semakin diperketat, atau terjadi serangan baru terhadap kapal dan fasilitas energi, harga minyak berpotensi kembali naik karena investor memasukkan premi risiko yang lebih besar.
Pasar juga akan memperhatikan perkembangan stok minyak Amerika Serikat, produksi negara-negara OPEC+, permintaan dari China dan negara-negara Asia lainnya, serta kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia.
Untuk saat ini, pasar minyak berada dalam kondisi tarik-menarik. Di satu sisi, stok AS yang relatif tinggi dan potensi normalisasi lalu lintas Hormuz menjadi faktor penekan harga. Di sisi lain, ketidakpastian hubungan AS-Iran, sanksi baru terhadap Teheran, serta terbatasnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz menjadi faktor pendukung kenaikan.
Karena itu, setiap perkembangan baru dari Washington, Teheran, Doha, Muscat, maupun kawasan Teluk berpotensi langsung memengaruhi harga minyak dunia dalam beberapa hari ke depan.
0 Comments