Harga Minyak Mentah Turun Setelah G7 Lepas Cadangan, Brent US$102,25 per Barel

Harga Minyak Mentah Turun Setelah G7 Lepas Cadangan, Brent US$102,25 per Barel

Harga minyak mentah turun pada Jumat, 2 Oktober 2026, setelah negara-negara G7 mengumumkan rencana pelepasan cadangan minyak mentah dan diesel. Langkah tersebut dilakukan untuk meredakan tekanan harga bahan bakar di tengah kekhawatiran pasokan global.

Mengutip CNBC, Sabtu (3/10/2026), harga minyak mentah berjangka Brent turun 6 sen dan ditutup di level US$102,25 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) turun US$1,76 menjadi US$91,11 per barel pada akhir perdagangan.

G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan Minyak

Penurunan harga minyak terjadi setelah kelompok negara G7 mengumumkan akan menyalurkan sekitar 100 juta barel minyak dari cadangan strategis selama empat bulan ke depan.

Dalam pernyataan bersama, para pemimpin G7 mengatakan sebagian besar pasokan diesel akan disalurkan lebih awal. Pelepasan tersebut dijadwalkan berlangsung dalam 20 hari pertama.

G7 terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Kanada, Jerman, Italia, dan Jepang.

Langkah ini menjadi upaya untuk menambah pasokan energi global ketika pasar minyak menghadapi tekanan akibat meningkatnya risiko geopolitik dan gangguan pasokan bahan bakar.

Ketegangan Timur Tengah Masih Menjadi Perhatian

Di tengah rencana pelepasan cadangan minyak, ketegangan di Timur Tengah masih meningkat.

Arab Saudi disebut berencana melancarkan serangan terhadap kelompok militan Houthi yang didukung Iran di Yaman. Informasi tersebut disampaikan pejabat regional dan Barat kepada Reuters.

Sebelumnya, harga minyak sempat menguat setelah muncul laporan bahwa AS mengirimkan gugus tempur kapal induk ketiganya ke Timur Tengah.

Perkembangan tersebut membuat pasar tetap memperhatikan risiko gangguan terhadap pasokan minyak dan bahan bakar dari kawasan Timur Tengah.

AS Minta Eropa Lepas Cadangan Diesel

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump juga meminta negara-negara Eropa untuk melepaskan cadangan diesel. Permintaan tersebut muncul ketika pasar global menghadapi kelangkaan bahan bakar akibat konflik di Eropa Timur dan Timur Tengah.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada Kamis bahwa petani, pengemudi truk, dan pelaku usaha di AS tidak seharusnya menanggung dampak dari kelangkaan diesel global.

Trump sebelumnya memberi sinyal bahwa AS dapat mempertimbangkan larangan ekspor diesel. Namun, pemerintah AS kemudian terlihat lebih berhati-hati terhadap rencana tersebut karena mempertimbangkan dampaknya terhadap harga bensin di dalam negeri.

AS Jadi Pemasok Utama Diesel ke Eropa

Data Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan AS memasok sekitar separuh impor diesel Uni Eropa pada Agustus.

Ketergantungan tersebut membuat pasar Eropa cukup rentan apabila AS benar-benar membatasi ekspor diesel.

Dengan kondisi tersebut, keputusan G7 untuk melepas cadangan minyak dan diesel menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar. Namun, perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan konflik di Eropa Timur tetap menjadi risiko yang dapat memengaruhi harga minyak dalam beberapa waktu ke depan.