Harga Minyak Merosot, Pasar Cemas AS Siapkan Sanksi Global ke Iran
Harga Minyak Dunia Turun Setelah AS Luncurkan Sanksi Terberat terhadap Iran
Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026, atau Selasa pagi waktu Indonesia. Penurunan terjadi setelah Amerika Serikat (AS) meluncurkan rencana yang disebut sebagai salah satu kampanye sanksi ekonomi paling agresif terhadap Iran.
Kebijakan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek permintaan dan pasokan minyak global. Di satu sisi, sanksi berpotensi menghambat ekspor minyak Iran. Namun di sisi lain, investor juga mempertimbangkan kemungkinan bahwa tekanan ekonomi tersebut dapat memicu respons dari Teheran yang berisiko mengganggu jalur perdagangan energi, terutama di kawasan Teluk Persia.
Mengutip CNBC, Selasa (25/8/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 2,5% menjadi US$84,89 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional melemah sekitar 2,5% ke US$92,06 per barel.
Penurunan tersebut terjadi setelah harga minyak sempat mengalami penguatan pada pekan sebelumnya. Investor kemudian melakukan aksi ambil untung sekaligus mengevaluasi kembali seberapa besar dampak nyata kebijakan AS terhadap pasokan minyak global.
AS Luncurkan Kampanye Sanksi terhadap Iran
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump pada Senin mengumumkan strategi sanksi global yang berfokus pada Iran. Washington juga mengisyaratkan bahwa China tidak akan otomatis mendapatkan pengecualian dari kebijakan tersebut.
Strategi itu dijuluki “Operation Economic Outcast” atau “Operasi Pengucilan Ekonomi”. Tujuan utamanya adalah meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Iran dengan membatasi akses Teheran terhadap sistem keuangan dan perdagangan internasional.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menggambarkan kebijakan tersebut sebagai “D-Day ekonomi”. Ia juga menyebutnya sebagai salah satu serangan finansial terbesar yang pernah digunakan Washington terhadap pihak lawan.
“Mereka yang takut akan bahaya menentang Teheran sebaiknya tidak meremehkan konsekuensi dari menguji Washington,” kata Bessent melalui platform X, merujuk pada ibu kota Iran.
Bessent juga mengatakan kepada CNBC pada pekan sebelumnya bahwa Washington berniat “meruntuhkan” Republik Islam Iran melalui sanksi yang disebutnya sebagai “sanksi terberat dalam sejarah”.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintahan Trump untuk mendorong sekutu AS dan negara-negara lain mengurangi atau menghentikan hubungan ekonomi dengan Teheran.
Trump Ancam Negara yang Membantu Iran
Tekanan terhadap Iran tidak hanya ditujukan kepada pemerintah Teheran. Presiden Donald Trump juga memperingatkan negara-negara yang membantu Iran menghindari sanksi AS.
Trump sebelumnya mengancam akan menerapkan “operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun” terhadap Iran. Ia juga menyebut strategi tersebut sebagai “Perang Ekonomi dan Isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Ancaman terhadap negara ketiga menjadi salah satu faktor penting bagi pasar minyak. Pasalnya, Iran memiliki hubungan perdagangan energi dengan sejumlah negara, sementara China merupakan salah satu pembeli penting minyak Iran.
Apabila sanksi benar-benar diterapkan secara luas dan mampu membatasi transaksi minyak Iran, pasar dapat menghadapi penurunan pasokan. Namun, dampaknya terhadap harga minyak akan sangat bergantung pada seberapa besar volume ekspor Iran yang benar-benar hilang dari pasar internasional.
Mengapa Harga Minyak Justru Turun?
Secara teori, sanksi terhadap salah satu produsen minyak besar dunia dapat mendorong harga minyak naik karena pasar mengantisipasi berkurangnya pasokan.
Namun, harga minyak tidak hanya ditentukan oleh risiko pasokan. Investor juga memperhitungkan respons negara lain, tingkat kepatuhan terhadap sanksi, kondisi permintaan global, persediaan minyak, serta kemungkinan bahwa produsen lain dapat menggantikan pasokan yang hilang.
Dalam perdagangan Senin, pasar tampaknya lebih fokus pada kemungkinan bahwa dampak langsung sanksi terhadap pasokan minyak belum sebesar yang sebelumnya dikhawatirkan.
Selain itu, kenaikan harga pada pekan sebelumnya memberikan ruang bagi aksi ambil untung. Setelah harga Brent dan WTI menguat akibat meningkatnya risiko geopolitik, sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan.
Dengan demikian, penurunan harga tidak serta-merta berarti risiko geopolitik telah hilang. Sebaliknya, pasar masih menunggu bukti mengenai seberapa efektif sanksi AS dan bagaimana Iran akan merespons.
Iran Siapkan Respons
Iran telah memberikan sinyal bahwa Teheran tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan ekonomi dari Washington.
Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan bahwa negaranya memiliki berbagai cara untuk mengurangi dampak negatif dari tekanan dan tindakan musuh. Teheran juga mengatakan masih dapat memperluas hubungan ekonomi dengan berbagai negara.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian investor karena respons Iran dapat menentukan arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan.
Pasar energi terutama mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya gangguan terhadap infrastruktur energi atau jalur perdagangan minyak di kawasan Timur Tengah.
Salah satu titik paling sensitif adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar berkurangnya ekspor minyak Iran.
Selat Hormuz Jadi Fokus Pasar
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara produsen di kawasan Teluk harus melewati jalur tersebut untuk mencapai pasar internasional.
Karena itu, setiap eskalasi geopolitik yang berpotensi mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz dapat meningkatkan premi risiko pada harga minyak.
Namun, pasar juga mempertimbangkan skenario sebaliknya. Jika arus minyak melalui Selat Hormuz kembali normal atau meningkat secara bertahap, kekhawatiran mengenai kelangkaan pasokan dapat berkurang.
Hal tersebut dapat memberikan tekanan terhadap harga minyak, terutama apabila produksi global tetap tinggi sementara permintaan tidak mengalami peningkatan signifikan.
CBA Prediksi Harga Brent US$70-US$100
Commonwealth Bank of Australia (CBA) memperkirakan harga minyak akan tetap sangat fluktuatif pada paruh kedua 2026.
Menurut CBA, pasar akan terus menimbang dua faktor utama, yaitu efektivitas upaya Washington untuk mengisolasi Iran dan kemungkinan respons Teheran terhadap tekanan tersebut.
“Belum jelas apakah kebijakan AS untuk mengisolasi Iran secara ekonomi akan terbukti efektif. Namun, jika langkah-langkah AS tersebut berhasil sesuai tujuan, kemampuan Iran untuk merespons melalui peningkatan kekerasan menjadi risiko yang perlu diperhitungkan oleh pasar energi,” tulis CBA dalam catatannya pada Senin.
CBA memperkirakan minyak mentah Brent akan bergerak dalam kisaran US$70 hingga US$100 per barel pada paruh kedua 2026.
Kisaran tersebut menunjukkan bahwa pasar masih menghadapi ketidakpastian yang tinggi. Harga dapat bergerak menuju batas atas apabila terjadi gangguan pasokan atau eskalasi geopolitik. Sebaliknya, harga berpotensi kembali menuju US$70 jika pasokan minyak pulih dan kekhawatiran mengenai gangguan perdagangan berkurang.
Pasokan dari Selat Hormuz Menjadi Penentu
CBA menilai pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang dapat menekan harga.
Menurut bank tersebut, bahkan pemulihan arus minyak hingga sekitar 50%-60% dari tingkat sebelum perang dapat kembali memunculkan kekhawatiran mengenai kelebihan pasokan di pasar global.
Jika kondisi tersebut terjadi, pasar dapat kembali berfokus pada fundamental minyak, bukan hanya risiko geopolitik.
Artinya, harga minyak tidak selalu akan bergerak naik ketika ketegangan Timur Tengah meningkat. Jika investor menilai gangguan pasokan aktual lebih kecil dibandingkan perkiraan sebelumnya, harga dapat mengalami koreksi meskipun risiko geopolitik masih tinggi.
Investor Perlu Mencermati Dua Risiko
Ke depan, pasar minyak akan menghadapi dua risiko yang saling berlawanan.
Pertama adalah risiko gangguan pasokan. Jika sanksi AS menyebabkan ekspor minyak Iran turun secara signifikan atau Iran mengambil tindakan yang mengganggu jalur perdagangan energi, harga minyak dapat kembali melonjak.
Kedua adalah risiko kelebihan pasokan. Jika ekspor Iran masih berjalan melalui jalur alternatif, arus minyak di Selat Hormuz membaik, dan produksi negara lain tetap tinggi, pasar dapat kembali menghadapi surplus minyak.
Kondisi tersebut dapat membuat harga Brent bergerak dalam rentang yang lebar sepanjang paruh kedua 2026.
Untuk saat ini, penurunan WTI ke US$84,89 per barel dan Brent ke US$92,06 per barel menunjukkan bahwa investor belum sepenuhnya memperkirakan gangguan pasokan besar dalam waktu dekat.
Namun, perkembangan hubungan AS-Iran tetap menjadi faktor utama yang dapat mengubah sentimen pasar dengan cepat. Setiap keputusan baru terkait sanksi, respons Iran, kebijakan China, serta kondisi pelayaran melalui Selat Hormuz berpotensi memicu volatilitas harga minyak dunia.
Dengan demikian, meskipun harga minyak mengalami koreksi pada awal pekan, risiko kenaikan harga belum sepenuhnya hilang. Pasar masih berada dalam situasi yang sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan perubahan arus pasokan minyak global.
0 Comments